myimage.id | 3 Tari Gaya Yogyakarta yang paling eksotis versi myimage.id merupakan rangkuman Tari Gaya Yogyakarta yang dapat diangggap mewakili dari sekian banyak tari gaya Yogyakarta yang sangat eksotis. Tari Gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem atau yang biasanya disebut joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah) yang semua ini dapat di tarikan  secara utuh dan bagus dengan latihan secara rutin dan bersungguh-sungguh. Sebuah tarian yang secara keseluruhan mempunyai makna sebagai lambang kehidupan yang berisi norma-norma yang dapat dijadikan tuntunan bagi seorang kita untuk menjalani kehidupan secara utuh. Tari Gaya Yogyakarta tersebut adalah :

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

  1. Beksan Srimpi Renyep dari Pura Pakualaman Yogyakarta.

Tari Beksan  Srimpi Renyep adalah salah satu tarian klasik Jawa yang ditarikan oleh utusan dari Kadipaten Pura Pakualam Yogyakarta pada acara Gelar Budaya Jogja, Catur Sagotra ke 7, tahun 2017 pada tanggal 12 sampai 13 Oktober 2017.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Tarian ini mempresentasikan sebagian perjalanan penting menjelang surutnya dalem Kanjeng Sri Paduka Pakualam VII pada tahun 1996 selama mengemban tahta di Kadipaten Pura Pakualam Yogyakarta.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Tari Beksan  Srimpi Renyep mengetengahkan masa transisi menuju kemerdekaan Republik Indonesia sampai pada masa periode pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dilalui, bersama Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dimana selanjutnya merupakan ungkapan kepemimpinan Sri Pakualam VIII yang memayungi seluruh keluarga dan warga di wilayah Kadipaten Pura Pakualam Yogyakarta.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Rangkaian sejarah tersebut diekspresikan dalam pagelaran Tari Beksan  Srimpi Renyep ini. Tari dari Kadipaten Pura Pakualam Yogyakarta ini bukan sebuah ungkapan naratif tetapi lebih mengedepankan keharmonisan dalam menyikapi kehidupan yang sangat dinamis sekarang ini.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Tari Beksan  Srimpi Renyep

1Penata Tari:Nyi MT Probonagoro
2Penata iringan:KMT Purwodipuro
3Penata rias dan busana:BRAy. Indrokusumo
4Penari:1. Nyi MB Hesturini

2. Nyi ML Matoyo HAyurini

3. Nyi ML Matoyo Putri

4. Nyi ML Puspitomatoyo

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Tarian ini di tarikan oleh empat penari, yang mana ke empat penari ini memiliki paras yang sangat cantik, tubuh yang sempurna dengan busana yang di kenakan sangat indah sehingga ketika menarikan tampak sangat anggun dan rupawan laksana bidadari turun dari khayangan.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Dengan gerak yang kompak dan gemulai tarian ini di sajikan dengan eloknya. Aura magic terasa sekali pada tarian ini yang mampu menghipnotis para penontonnya sampai terkesima sampai tarian ini selesai ditarikan.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Secara umum Tari Srimpi melambangkan empat mata angin atau empat unsur yang ada di dunia yaitu api, angin, air dan tanah. Tarian ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa di Kraton-kraton Jawa dan hanya di tarikan oleh orang-orang pilihan dari Kraton.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Pada perkembangannya dari tahun ketahun tarian ini perubahan, di mana durasi waktunya pada Tari Beksan  Srimpi Renyep ini hanya dipentaskan kurang lebih 20 menit. Pada acara ini sangat spesial sekali karena dulunya tarian ini hanya orang-orang Kraton saja yang bisa melihat karena hanya ditarikan pada waktu tertentu, pada acara ini kita dapat menyaksikan keindahan tarian ini, dimana ternyata di Catur Sagotra ini memang bertujuan memperlihatkan kepada masyarakat akan persatuan ke empat trah Mataram dalam ikatan falsafah budaya dan keterikatan sejarahnya.

  1. Tari Menak Umarmoyo Umarmadi

Tari Menak Umarmoyo Umarmadi merupakan sebuah Tari Gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang Umarmoyo yang diperintah oleh Jayengrono untuk menaklukan Kerajaan Kokarip yang dipimpin oleh  Raja Umarmadi. Karena ingin mempertahankan kerajaannya, Raja Umarmadi akhirnya bertempur dengan Umarmoyo. Keduanya sama sama sakti, tapi karena Raja Umarmadi mempunyai badan yang besar, lama-lama tidak bisa mengimbangi kesaktian dari Umarmoyo, dan akhirnya dia dapat dikalahkan oleh Umarmoyo karena kelelahan, sehingga Kerajaan Kokarip ini dikuasai oleh Umarmoyo dan Jayengrono.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Tarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti, yang merupakan sebuah acara rutin yang digelar, tepatnya pada tanggal 31 Desember 2017. Acara ini bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Pada cerita Tari Menak Umarmoyo Umarmadi ini juga berhubungan dengan cerita siar agama Islam di tanah Jawa, dimana setelah ditaklukan oleh Umarmoyo, Raja Umarmadi kemudian di Islamkan oleh Umarmoyo dan diangkat menjadi saudara.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Busana yang dipakai Umarmoyo dinamakan Puthut (semacam sorban) yang sudah dimodifikasi sebagai ira-ira untuk menari. Sedangkan pada Umarmadi bisa menggunakan udeng gilet maupun puthut. Memang pada Tari Menak ini tidak ada pakemnya dalam hal berbusana, dan itu memang tujuan dari Hamengku Buwono IX supaya sangar-sanggar tari yang ada bisa menjadi lebih kreatif dalam mengkreasi busananya.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Hal ini berbeda dengan wayang orang dalam hal busananya, karena ada pakemnya atau yang dijadikan patokan dalam hal berbusana di kala ditampilkan. Sedangkan riasan pada Tari Menak Umarmoyo Umarmadi menggunakan riasan character make up artinya riasan tersebut diharapkan mampu menambah karakter penari untuk lebih bisa menampilkan tokoh yang sedang diperankan (actingnya tambah bagus).

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Untuk gerakan pada Tari Menak Umarmoyo Umarmadi ini sebenarnya banyak sekali diambil dari gerakan-gerakan orang sedang melakukan sholat, dan beberapa gerak patah-patah itu diadopsi dari gerak wayang golek. Biasanya pada adegan di tengah-tengah pertempuran diselipkan gerakan-gerakan pencak silat. Tapi ada keunikan disini dimana gerak pencak silat ini tidak diambilkan dari gaya gerak pencak silat dari tanah Jawa tapi malah dari Sumatra.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Untuk iringan menggunakan gamelan Klasik Jawa dengan gaya Yogyakarta, salah satunya menggunakan gendhing angguk kudus yang diiringi dengan playon juga. Karena gendhing-gendhing di Yogyakarta ini banyak sekali maka Tari Menak Umarmoyo Umarmadi mempunyai iringan khas tersendiri. Khas adalah di sabetan gendangnya, inilah yang membedakan antara golek menak dengan wayang orang.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Tarian menak ini diharapkan oleh Hamengku Buwono IX dibuat sekreatif mungkin oleh sanggar-sanggar tari yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak hanya dalam hal berbusana tapi juga dalam hal gerak tariannya. Bahkan tarian menak ini pernah ditampilkan di USA pada tahun 1986 dalam rangka misi Kraton Yogyakarta.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Tari Menak Umarmoyo Umarmadi

1Persembahan:KPH Krido Mardowo
2Penari:1. Ical Yulianto

2. Otok Fitrianto

 

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Inilah kekayaan seni tari yang sangat beragam di daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak ternilai serta adiluhung. Pihak Kraton Yogyakarta dengan dukungan masyarakat Yogya melalui sanggar-sanggar tari, membuat wadah untuk melestarikan dan menunjukan eksistensinya dengan menampilkan tarian-tarian ini di Pendopo Srimanganti Kraton Yogyakarta, selain untuk menarik wisatawan lokal maupun asing juga sebagai sarana ekspresi para senimannya.

  1. Joget Kidhung Paweling #2

Joget Kidhung Paweling #2 merupakan sebuah tarian yang berangkat dari kegelisahan dan kecemasan Dr. Kuswarsantyo, M. Hum terhadap beberapa kelompok orang yang anti terhadap tradisi, terutama Kraton Yogyakarta yang mana mereka beranggapan dengan tarian ini menyebabkan sirik. Dari ini semua maka dibuktikannya bahwa tradisi klasik Tari Gaya Yogyakarta Mataraman yang adi luhung ini disandingkan dengan membuat konsep tari tradisional Mataraman yang biasanya disebut Joged Mataraman dengan lirik sholawat Nabi Muhammad SAW.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Dari sinilah di buat eksperimen antara Dr. Kuswarsantyo, M. Hum dengan Ribi Mahardika yang membuat kareografer Joged Sholawat Mataram yang merupakan awalan tari ini diciptakan. Disini Dr. Kuswarsantyo, M. Hum mengkreasi tari klasik gaya Yogyakarta dengan iringan gadruh wuru, tetapi belum dirubah dan masih aslinya wuru (seperti orang mengaji di Masjid) dimana yang dieksplore hanya musiknya saja.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

 

Dengan eksperiment ini hasilnya sangat di luar dugaan dimana ketika tariannya lembut, tapi iringan rebananya keras sehingga terjadi adegan yang kontras yang mengandung estetika paradok.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Ternyata hal ini setelah diselidiki semakin dalam, hal ini juga dilakukan oleh seniman-seniman dari Sulawesi Selatan (Makasar) dengan tarian Pakarena dimana gendangnya luar biasa tapi yang menari malah cenderung lembut. Dari ini semua menjadi inspirasi Joged Sholawat Mataram yang diiringi oleh rebana.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Dari semua eksperimen ini pertama kali dinamakan Joget Sholawat Mataram yang selanjutnya di buatlah Joget Kidhung Paweling #2 yang mengandung makna bahwa Paweling itu artinya pesan atau message yang disampaikan dalam tarian ini supaya orang hidup itu harus instropeksi diri untuk menghadapi hari esok. Karena kita bicara Sholawat Nabi Muhammad SAW yang tertera dalam lirik lagunya yang mengisyaratkan bahwa “eling-eling siro manungso kudu sregep siro ngaji mumpung durung ditekani malaikat juru pati” artinya sebelum kita dijemput oleh malaikat pencabut nyawa kita harus intropeksi diri apa yang harus kita lakukan harus sesuai dengan ajaran Nabi.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Sehingga waktu Joget Kidhung Paweling #2 waktu adegan tari sembahan, para penari tidak langsung menghadap penonton tapi menghadap kiblat. Ini merupakan representative orang sholat yang disimbolkan dalam tarian.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Setelah adegan manembahan wiji pada Yang Maha Kuasa ditengahnya ada konflik, dimana disini ada adegan perang yang merupakan symbol batin manusia, dibalik kekhusukan orang berdoa ternyata di dalam batin ada pergolakan entah masalah keluarga, masalah dengan teman atau tetangga yang disetiap hati manusia semua memilikinya.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Dan pada adegan terahkir, tarian itu akan berakhir dengan happy ending dimana disitu diiringi lagu ilir-ilir tandure wong sumilir yang mengingatkan kita sudah waktunya kita siap-siap sholat karena sudah mendekati Magrib. Ayo podo sembayang ning Masjid artinya wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa supaya pertentangan konflik batin ini tidak berlanjut lebih lama.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Penari pada Joget Kidhung Paweling #2 berjumlah 5 orang yang didalam dunia pewayangan artinya Pandawa Lima yang mempresentasikan sifat kehidupan atau sifat manusia dimana Nakulo Sadewo mempunyai arti benar salah atau siang malam dalam kehidupan, Janoko sebagai penyeimbang batin yang mempunyai arti manusia ditempatkan dimana saja harus segera dapat menyesuaikan dirinya terhadap masyarakat, Bima menyimbolkan kekuatan yang menyatakan benar atau salah atau apa adanya dan yang terahkir Puntodewo yang menyimbolkan suci, semuanya ini didalam ajaran Islam semua itu diajarkan.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

Joget Kidhung Paweling #2

1Kareografer:Dr. Kuswarsantyo, M. Hum
2Penata Iringan:Saronto
3Penata Busana:Rita Nur Astuti S.Pd
4Penari:1. R.M Krerfianto, SE, R.M

2. Sagitama, SSn, R.M

3. Pranadipta K,

4. R Lantip Kuswaladaya, A.Md

5. R. Icuk Ismunandar, SSn.

3 tari gaya Yogyakarta, culture, javanese classic dance

3 Tari Gaya Yogyakarta ini, dapat dijadikan tuntunan disamping sebagai tontonan, dimana ketiga tarian ini  maknanya sangat dalam. Selain itu juga, mengajarkan kita tentang sifat-sifat yang baik yang layak di implementasikan  dalam kehidupan nyata atau bermasyarakat. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here