myimage.id | Keberadaan Tari Klasik Gaya Yogyakarta tidak bisa lepas dari Kraton Yogyakarta yang dikenal dengan Joged Mataraman yang memunculkan inspirasi-inspirasi yang digunakan para seniman Yogyakarta. Salah satunya Anggada Balik yang merupakan tari klasik gaya Yogyakarta dalam bentuk Langen Mandrawanara yang didalamnya menceritakan tentang Anggada yang merupakan satu tokoh sentral dalam upaya Ramawijaya mendapatkan kembali Dewi Shinta.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraTapi sayangnya, kegalauan Anggada muncul setelah tiba di Alengkadiraja, dimana dirinya disanjung-sanjung dan diakui sebagai anak Dasamuka. Disamping itu, Rahwana juga memberitahu kepada Anggada bahwa Subali yang merupakan ayahnya di bunuh oleh Ramawijaya.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraKarena hal ini, Anggada membantu Rahwana menghancurkan Ayodya. Namun usaha ini digagalkan oleh Anoman dan kemudian Anggada disadarkan oleh Ramawijaya dan akhirnya kembali mengabdi kepada Ramawijaya dengan syarat Anggada harus membawa mahkota Dasamuka.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraAnggada Balik merupakan satu tarian yang dipentaskan oleh Perkumpulan Kesenian Irama Tjitra dalam Pagelaran Langen Mandrawanara 2018 pada hari kedua, yang digelar pada tanggal 23-24 Oktober 2018 di Pendopo nDalem Kaneman, Kadipaten no 44 Yogyakarta dari jam 19.30-22.00  wib.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraTari Langen Mandrawanara diciptakan oleh menantu Sultan HB VII bernama KPH Yudonegoro III, dengan inspirasi dimana dulunya tari klasik milik Kraton Yogyakarta tidak boleh ditampilkan diluar tembok Kraton, sebaliknya juga demikian, tari luar tidak boleh ditarikan didalam lingkungan Kraton Yogyakarta.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraPagelaran ini merupakan yang pertama kali yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menampilkan 6 sanggar Tari Klasik diantaranya Paguyuban Kesenian Suryo Kencono, Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, Yayasan Siswo Among Bekso, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa, Perkumpulan Kesenian Irama Tjitra dan Perkumpulan Tari Krida Beksa Wirama.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraSanggar Irama Tjitra adalah sebuah sanggar tari gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1949 yang kegiatan setiap harinya di Bangsal Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY. Sanggar ini dulunya dibentuk oleh para seniman-seniman muda yang bergabung di Sanggar Tari Krido Bekso Wirama yang merupakan sanggar tertua di Yogyakarta yang lahir di luar tembok Kraton Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1918.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraSanggar Irama Tjitra pernah vakum agak lama lepas peristiwa pada tahun 1965 di Indonesia, tapi kemudian mulai aktip lagi pada tahun 1997 sampai sekarang. Sanggar ini sekarang lebih memprioritaskan regenerasi penari, dimana penari yang lebih muda lebih diberi kesempatan untuk tampil pentas dengan bimbingan para seniornya.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraGerak Tari Anggodo Balik ini sangat spesifik sekali, dimana geraknya dilakukan dengan cara jongkok yang biasanya disebut dengan  Joged Jengkeng yang ragam geraknya masih menggunakan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang dikombinasikan dengan tembangan yang dinyanyikan oleh para penarinya dalam bentuk dialognya. Membutuhkan stamina yang lebih untuk menarikan tarian seperti ini.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraPola lantainya juga masih mengacu pada pola lantai tari klasik gaya Yogyakarta seperti yang digunakan pada Bedhaya seperti montor mabur, jejer wayang yang dikembangkan menjadi lebih dinamis dan variatif dengan mengacu pada alur cerita tariannya.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraBusana yang dikenakan merupakan repertoar pada busana yang terlihat pada wayang kulit, tapi disini tidak memusatkan pada gemerlapnya kastum, tapi lebih diambilkan dari citra semangat dan penghayatannya pada karakter tokoh yang dimainkan.Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraIringan gendhingnya menggunakan gamelan  klasik Jawa dengan memunculkan gendhing-gendhing yang jarang dipakai dengan maksud agar para penari lebih giat berlatih. Gendhing-gendhinyanya seperti ladrang puspogento, burio mengkereng dan asmorodono kenyotinembe.Anggada Balik. culture, langen mandrawanara

Anggada Balik.

1Sutradara:Drs. Sunardi, M.Pd.
2Penata Tari:Hermawan Sinung Nugroho, S.Pd
3Penata Iringan:Muclas Hidayat S.Sn
4Penata Busana:RM. Widaru Krefianto
5Penata Rias:Sunaryo, S.ST, M.Sn

Anggada Balik. culture, langen mandrawanaraDengan adanya Pagelaran Langen Mandrawanara tiap tahunnya (rutin), maka akan menambah kekreatifan para seniman Yogyakarta dalam hal menari dan nembang (melantunkan lagu Jawa) secara bersamaan, walaupun hal ini tidak mudah tapi kalau dilatih maka semuanya akan bisa dilakukan dengan baik, ujar Drs. Sunardi, M.Pd. (Soebijanto/reog biyan)

2 COMMENTS

  1. Tentu tidak mengurangi rasa hormat, ijinkan saya menambah informasi tentang kesenian Langen Mandrawanara.
    Menyebut kesenian ini mengingatkan kampung Notoyudan wil. Gedong Tengen Yogyakarta. Di mana Pangeran Yudanegara bermukim.
    Mampu mempertahankan keberadaan kesenian Langen Mandrawanara sampai 3 generasi berakhir fakum th. 1980 an.
    Langen Mandrawanara kesenian berbentuk tari dijalankan dengan jongkok, juga dialog dengan tetembangan, rata-rata menggunakan rambangan (palaran). Memiliki riwayat unik.
    Semula hanya dilakukan dengan (lenggahan) duduk tanpa gerak. Biasanya dilakukan saat terang bulan di halaman. Berkisah tentang Ramayana. Maka disebut Langen Mandrawanara. Langen berarti menghibur. Mandrawanara berarti kisah para kera.
    Sang raja (tidak dijelaskan ke sultan ke berapa) mendengar tentang kesenian ini lalu berkenan untuk melihatnya.
    Di sinilah peranan penata tari dan penata gending berperan, dengan menggunakan gaya Mataraman mengolah, dengan tetap dipertahankan posisi jongkok. Ini dipertimbangkan juga menyangkut istetika karena tampil di depan raja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here