myimage.id | Njatil Keliling Kampus UNY merupakan sebuah apresiasi seni para Mahasiswa Prodi Tari  FBS UNY dalam rangka penggalangan dana bencana di DIY, bersama Doktor Jathilan, Dr. Kuswarsantyo M. Hum. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2017 dimana start tarinya di depan Rektorat UNY yang dilepas oleh Rektor UNY,  Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.

Njatil Keliling Kampus UNY

Ada yang special di acara ini yang sangat jarang kita temui di manapun, Rektorat UNY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd ikut dalam Njatil Keliling Kampus UNY. Tak sungkan-sungkan sekelas Rektor ikut dalam Njatil (menari Jathilan) keliling kampus UNY dimana pada beberapa Gedung Fakultas, Njatilan ini di pertunjukan secara bergantian. Sepanjang jalan di kampus UNY ini sangat meriah dengan adanya acara ini.

Njatil Keliling Kampus UNY

Kedepannya acara ini akan diagendakan menjadi acara rutin akhir tahun yang mempunyai makna agar kita intropeksi terhadap diri kita. Seperti yang terkandung dalam makna Njathilan pada bagian dadi, dimana dalam bahasa Indonesia artinya menjadi-jadi tapi dalam hal yang baik, dimana disini ilmu pengetahuannya semakin didalami dalam hal positip.

Njatil Keliling Kampus UNY

Dalam sejarahnya, Njatil merupakan sebuah kesenian kerakyatan yang berasal dari Reog Ponorogo dimana di dalamnya terdapat kesenian Njatilan yang pada acara ini ditarikan oleh para putri asli Ponorogo yang kuliah di UNY.

Njatil Keliling Kampus UNY

Kesenian ini masuk di Jawa Tengah dengan nama kesenian kuda kepang. Kemudian berkembang didua sisi, di sisi Utara Jawa Tengah kemudian dinamakan Jaran Eblek dan disisi Selatan Jawa Tengah (masuk DIY) dinamakan Jhatilan. Njatilan macam-macamnya sangat banyak mulai dari Njatilan Tradisonal, Mataraman, Religius sampai pada now yang cirinya selalu diiringi dengan musik.

Ini merupakan sebuah kekayaan budaya yang mana sering sekali kita mengangap enteng, padahal ini merupakan harta karun kebudayaan kita. Jangan sampai kesenian ini diaku oleh Negara lain baru kita berontak, maka kita perlu pelestraian dengan konsistensi yang tinggi yang harus dilakukan oleh segenap elemen bangsa.

Njatil Keliling Kampus UNY

Kedepannya kesenian ini harus diajarkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus dari nilai edukasinya, karena banyak yang tidak suka terhadap adegan dadi/kemasukan roh (trance), yang selalu dikaitkan dengan istilah musrik atau sirik. Maka hal ini harus diantisipasi dengan dibuatkan istilah lain seperti membuat contoh karya Jhatilan Religi dengan iringan rebana yang di beri nama Jhatilan Raden Patah, dimana diceritakan Raden Patah adalah tokoh Ulama yang mendirikan sebuah Pondok Pesantren yang hidupnya di sekeliling para Santri, dimana dia bermain kuda kepang. Istilah seperti ini dibuatkan, seperti sebuah mediasi dari tidak suka menjadi suka terhadap kesenian ini.

Njatil Keliling Kampus UNY

Tari Tradisional Kerakyatan terbagi dua yaitu klasik yang biasanya hidup dilingkungan keraton dan non klasik yang hidup dekat dengan rakyat yang mana ini merupakan simbol seni dan rakyat, dimana semua terlibat di lingkungan. Tidak hanya di lingkungan masyarakat saja tapi juga di lingkungan dunia pendidikan seperti kampus.

Njatil Keliling Kampus UNY

Bilamana Tari Tradisional Kerakyatan ini dimasukan dalam kurikulum semua Universitas yang mempunyai Prodi Seni pasti akan tambah menarik lagi dan jadi tantangan bagi dunia Kampus karena mereka akan mempelajari tarian-tarian yang ada di Indonesai secara lebih detail dan dapat sebagai sarana untuk melestarikan budaya Indonesia. Seperti Tari Badui, Reog Ponorogo, Srimpi, Angguk, Soreng, Jathilan dan masih banyak lagi yang kita punyai.

Njatil Keliling Kampus UNY

Njatil Keliling Kampus UNY ini juga merupakan bagian dari tari yang bernuansa Nusantara, dimana ragam busana yang dikenakan juga mewakili beberapa daerah yang ada di Indonesia, seperti Kediri dengan ceplokannya, Ponorogo dengan para penari putrinya, Sumatra dengan ikat kepala yang dipakai penari prianya bahkan Mataraman dengan busana merahnya.

Njatil Keliling Kampus UNY

Karena Jhatilan sudah menglobal di dunia maka kedepannya bisa lebih dibuat edan-edanan (lebih kreatif dan lebih gila lagi) seperti melibatkan para mahasiswa luar negeri yang kuliah di UNY dimana mereka menggunakan pakaian tradisional negaranya memegang kuda kepang melakukan Jhatilan. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here