myimage.id | Bedhah Nagari Ambarkustub (Umyumandikin Palakrama) adalah sebuah tari klasik menak gaya Yogyakarta yang menceritakan setelah bedhah Negara Purwakanda, Prabu Nursewan meminta bantuan ke Negara Ambarkustub dengan rajanya yang bernama Prabu Barekahar. Sementara itu Prabu Semakun yang sudah bertahta di Negara Gumingwang berkeinginan membawa pulang Prabu Nursewan untuk berkumpul kembali di kerajaan Gumingwang. Keinginan Prabu Semakun tersebut ditolak, bahkan Prabu Barekahar akan menyerang kerajaan Gumingwang.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Untuk menghadapi serangan kerajaan Ambarkustub, Prabu Semakun meminta banyuan Tyang Agung Jayengrana dari kerajaan Koparman. Akhirnya terjadi pertempuran antara kerajaan Ambarkustub yang dipimpin seorang senopati wanita bernama Umyumandikin, adik Prabu Barekahar.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Dalam peperangan tersebut bertemulah Umyumandikin dengan Ambyah Katamsi, anak Tyang agung Jayengrono dengan istrinya Dewi Hisnaningsih. Pertemuan tersebut ternyata justru membawa buah asmara antara Umyumandikin dan Ambyah Katamsi. Akhirnya Prabu Barekahar menyerah dan menyatakan tuduk kepada Yyang agung Jayengrono dan merekapu menikahkan Umyumandikin dengan Ambyah Katamsi.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Tarian ini ditarikan di Pendopo Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No 364 Panggungharjo, Sewon Bantul pada Pagelaran Wayang Menak 2018 yang pertama kali pada tanggal 7 Mei 2018 Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa sebagai penampil kedua.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa didirikan sejak tahun 1962, yayasan ini bergerak spesifik pada pelatihan tari klasik gaya Yogyakarta dan karawitan sebagai bagian pendukungnya. Yayasan ini mengalami perjalanan yang panjang. Dulu awal tahun 1962 awalnya bernama Mardowo Budoyo.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Karena animo masyarakat untuk belajar tari klasik ini besar dan banyak maka pada tahun 1976 dibuatkan satu wadah lagi dengan nama Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN), yang mana untuk Mardowo Budoyo untuk mengajar tari klasik untuk anak-anak sedangkan Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN) untuk mengajar yang lebih dewasa. Yayasan ini didirikan oleh Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas). Pada tahun 1988, untuk mengenang beliau akhirnya kedua yayasan ini dilebur menjadi satu dengan nama Yayasan Sasminta Mardawa yang berbasecamp di Ndalem Pujokusuman.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Pagelaran Wayang Menak 2018 diadakan oleh Dinas kebudayaan Daerah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan selama 3 hari mulai tanggal 6 sampai 8 Mei 2018. Pagelaran ini diikuti oleh 6 Sanggar Tari klasik Gaya Yogyakarta yang sudah melegenda di Yogyakarta, antara lain Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, Yayasan Siswa Among Beksa, Perkumpulan Tari Kridha Beksa Wirama, Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa, Paguyuban Kesenian Suryo Kencono dan Irama Tjitra.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Beksan menak merupakan salah satu tari menak klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini dan beliau terjun secara langsung dalam penciptaan tarian menak ini.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Gerak pada tarian menak Bedhah Nagari Ambarkustub (Umyumandikin Palakrama) ini masih komitmen dengan acuan  yang ada di Wayang golek menak klasik gaya Yogyakarta yang dulunya sudah dirintis oleh HB IX yang sudah dirancang oleh Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas). Seperti gerakan-gerakan untuk inpur kinantang, kambeng untuk menak yang sudah  dilakukan oleh sanggar ini. Yang diolah hanya adegan, suasana dan ide cerita supaya lebih dinamis, dramatis.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Tidak ada pengembangan. Ragam geraknya diambil dari wayang orang yang digunakan dalam wayang menak ini. Dengan persamaan-persamaan tokoh, seperti Tyang Agung Jayengrana dengan Janoko, Lamdahur dengan Bima, Kambeng, Impur, Kinantang aryo makta seperti Wibisana.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Riasan yang digunakan juga memakai riasan karakter yang semakin menunjukan karakter penari yang dibawakan seperti putri alus dan luruh, kinantang dengan putra gagah.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Gendhingnya yang digunakan dalam Bedhah Nagari Ambarkustub (Umyumandikin Palakrama)  pada adegan pembuka menggunakan gendhing kamplur, playon, sedangkan untuk adegan enjernya menggunakan gebdhing ketawang seto mardowo (enjernya kadarwati dengan Umyumandikin). Adegan Tyang Agung Jayengrana menggunakan gendhing kencheng. Semua gendhing ini sering sekali digunakan pada wayang golek kayu.

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Bedhah Nagari Ambarkustub (Umyumandikin Palakrama)

1Persembahan:Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa
2Sutradara:Supriyanto, M. Sn
3Penata Tari:Angela Nooryastuti, S.Sn

Drs. Veronica Retnaningsih

Lantip Kuswaladaya

Suwantoro, S.Pd

4Penata Iringan:Anom Suneko, M. Sn
5Penata Busana:Heni Pujiastuti, S.Pd

Dwi Purwanto

6Penata Rias:Widjanartin, Amd.AP

 

Bedhah Nagari Ambarkustub, Umyumandikin Palakrama,culture, sistem sosial budaya indonesia

Sebuah tarian yang masih benar-benar mengaju pada wayang golek kayu mulai dari  ragam gerak,  busana, riasan sampai gendhingnya yang membutuhkan riset yang dalam untuk di pertunjukan pada pagelaran  wayang golek menak oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa. Sebuah apreasiasi yang besar layak diberikan oleh oleh Yayasan ini yang tetap memegang teguh pakem-pakem yang sudah ada dalam sanggar tari ini. Semoga kedepannya semakin sukses dalam pelestarian dan pengembangan tari menak klasik gaya Yogyakarta yang akan selalu ditunggu oleh semua lapisan masyarakat umum maupun pecinta seni. (Soebijanto/reog biyan)

.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here