myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjing seulur, mugi-mugi samiyo wilujengan, Gusti mberkahi dening kito sedoyo. Bentuk tari Bedhaya selalu dikaitkan dengan angka 9  dan falsafah Jawa. Disamping angka 9 ini merupakan bilangan terbesar dan simbol seluruh lubang yang ada di dalam diri manusia. Semua ini tergambar jelas dalam Bedhaya Angron Sekar yang merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang cerita didalamnya merupakan petikan dari Babad Pajang, dimana pada waktu itu Sultan Hadiwijaya mengutus Ki Hangeng Pemanahan bersama Raden Sutawijaya untuk membunuh Adipati Arya Penangsang dari Jipang.Bedhaya Angron SekarSetelah Adipati Arya Penangsang terbunuh, istrinya Dewi Angron Sekar segera maju ke medan pertempuran untuk membela kematian suaminya. Tetapi pada kenyataannya dia malah takluk kepada Raden Sutawijaya dan kemudian malah diperistri dan di beri julukan Nyai Hageng Hadisara.Bedhaya Angron SekarTari Bedhaya Angron Sekar  ini ditampilkan pada  HUT ke 57 Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa dan HUT ke 6 Djoged Selasa Legen diselenggarakan oleh keluarga besar Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa di Ndalem Pujokusuman Yogyakarta pada tanggal 3 Agustus 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Bedhaya Angron SekarBedhaya Angron Sekar merupakan karya tari yang diciptakan oleh Al. KRT. Sasmintadipura (Romo Sas) pada tahun 1953. Beliau lahir pada tanggal 9 April 1929, dari pasangan Bekel Mangoen Soerowibowo dengan Suyatimah. Bagi beliau tari tidak hanya merupakan seni tontonan saja tetapi didalamnya mengandung unsur pendidikan lahir batin.Bedhaya Angron SekarKomposisi dalam tarian ini menggambarkan wujud manusia dari kepala hingga kaki. Endel (kepala / pikiran), Batak (Hati/rasa), Gulu (leher), Dhadha (dada), Buntil (ekor/pantat), Apit ngajeng (tangan kiri), Endhel wedalan ngajeng (kaki kiri), Apit wingking (tangan kanan), Endhel wedalan wingking (kaki kanan). Selain itu juga komposisi 9 penari ini juga menggambarkan 9 lubang yang ada di tubuh manusia yaitu 2 mata, 2 hidung, 1 mulut, 2 telinga, 1 anus, 1 alat vital.Bedhaya Angron SekarKomposisi dalam tari bedhaya tradisi disebut dengan istilah rakit ( rakit lajur, rakit ajeng-ajengan, rakit iring-iringan, rakit medal lajur, rakit mlebet lajur, rakit tiga tiga, rakit gelar). Pada rakit gelar ini cerita bedhaya itu di gelar . Diawali dengan rakit tiga tiga dan diakhiri rakit tiga tiga kembali.Bedhaya Angron SekarGerak  dalam tari Bedhaya Angron Sekar menggunakan ragam gerak tari klasik puteri  gaya Yogyakarta, dengan properti keris dan sampur. Gerak dalam tari putri klasik gaya Yogyakarta  berpijak pada sikap dan gerak pokok “ngenceng”. Sikap dan gerak lainnya merupakan motif  pengembangan dari sikap dan gerak “ngenceng”.Bedhaya Angron SekarSedangkan polanya ada rakit-rakit khusus yang harus ada di dalam tarian Bedhaya, yang biasanya disebut dengan rakit lajur (seperti tubuh manusia yang terlentang), rakit ajeng-ajengan (berhadap-hadapan) dan rakit tigo-tigo (gambaran akan hubungan manusia, alam dan Tuhan).Busana yang dikenakan pada tari ini memakai kain parang gendreh, baju tanpa lengan warna hitam, udhet cinde warna merah. Bagian kepala menggunakan sinyong dengan jamang srimpi bulu kaswari warna pink. Asesories ceplok jebehan  orange,  pethat, mentul 5,  pelik, sumping ron, sengkang, gelang kana, slepe, klat bahu dan kalung susun. Sedangkan riasnya menggunakan rias mata jahitan dengan bedak dasar kuning pengantin. Busana ini mengacu pada busana tari bedhaya pada jaman HB VIII.Bedhaya Angron SekarIringan gendhingnya menggunakan seperangkat gamelan klasik Jawa laras pelog,  dan  beberapa instrumen tambahan seperti tambur dan trompet yang sudah ada sejak jama HB VIII yang merupakan instrumen akulturasi budaya asing dengan Jawa. Sedangkan gendhing yang mengiringi diantaranya gendhing Gati.Bedhaya Angron SekarBedhaya Angron Sekar.

1Persembahan:Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa
2Pencipta:Al. KRT. Sasmintadipura (Romo Sas)
3Penari:
  1. Indri (endel)
  2. Yudit (batak)
  3. Anita (gulu)
  4. Isma (dadha)
  5. Sita (bunthil)
  6. Ully (apit ajeng)
  7. Dea (apit wingking)
  8. Tika (endhel wedalan ngajeng)
  9. Devita (endhel wedalan wingking)

Bedhaya Angron Sekar“Manusia diingatkan kepada sejarah bahwa perjuangan Penembahan Senopati untuk menjadi Raja harus melalui perjuangan yang berat dan berliku, spirit dan lakunya yang harus kita contoh di dalam kehidupan kita sehari-hari”, ujar Siti Sutiah (KRT Sasminto Murti) istri dari Maestro tari Gaya Yogyakarta, Al. Samintadipura/Romo Sas. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here