myimage.id | Bedhaya Arjuna Wiwaha adalah sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang ide ceritanya diambilkan dari kisah Mahabarata, ketika Begawan Ciptoning bertapa. Diceritakan disini godaan dan cobaan datang terus menerus dari berbagai penjuru selama Begawan Ciptoning bertapa, tapi dengan teguh beliau tidak bisa diganggu.

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Pada saat Bathara Indra mampu menggugah Begawan Ciptoning dari pertapaan dan memintanya untuk naik ke khayangan melawan Prabu Niwatakawaca yang hendak menyunting Dewi Supraba.

Bedhaya Arjuna WiwahaMaka perang pun terjadi diantara keduanya dan akhirnya Begawan Ciptoning yang tak lain adalah Raden Arjuna mampu mengalahkan Prabu Niwatakawaca. Akhirnya Arjuna diwisuda oleh para Dewa dan dijodohkan sebagai suami dengan Dewi Supraba.

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Tarian ini dipentaskan dalam Gelar Budaya Catur Sagatra 2018 di Pagelaran Kraton Yogyakarta pada tanggal 15-16 Juli 2018 pada pukul 19.30 wib-22.00 wib, yang menampilkan tari klasik dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kraton Kasunanan Surakarta, Kadipaten Pura Pakualam dan Kadipaten Pura Mangkunegaran.

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Bedhaya Arjuna Wiwaha ditarikan oleh 9 penari wanita yang sejatinya adalah gambaran organ tubuh manusia secara utuh. Mulai dari otak manusia yang menjadi sumber ide dan kreatifita antara lain, kepala (mbatak), leher (jangga), dada (pendada), ekor (mbuntit), tangan kanan (apit ngajeng), tangan kiri (apit wingking), kaki kanan (endel wedalan ngajeng) dan kaki kiri (endel wedalan wingking).

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Selain itu tari bedhaya juga menggambarkan 9 lubang yang ada ditubuh manusia, yang mempunyai makna kalau manusia sudah bisa menutup babagan hawa songo (menutup lubang napsu manusia) maka dia sudah dapat dikatakan sebagai manusia yang menep dan sareh.

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Karakteristik Bedhaya Arjuna Wiwaha merupakan tarian yang luruh atau mempunyai deep control yang bagus dalam rasa. Dalam setiap tari bedhaya semua mempunyai laku yang khusus, hanya yang membedakan bedhaya satu dengan lainnya adalah isi cerita dalam tariannya.

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Laku bedhaya mempunyai beberapa tahapan antara lain sebelum rakit tigo-tigo semuanya belum ada ceritanya, tapi semuanya itu harus diikuti dulu dari rakit ajeng-ajengan, mlebet lajur, medal lajur, ajeng-ajeng lagi, iring-iringan kemudian rakit tigo-tigo, suwuk baru masuk gelar.

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Gerakan dalam Bedhaya Arjuna Wiwaha antara lain ada impang mewer gundhek, impang lembehan, impang encot, setelah itu rakit tigo-tigonya adalah bangomate, tapi juga memasukan unsur gerak tari putri gaya Yogyakarta dengan ragam gerak ngenceng gordo (gerak pokok putri) yang kemudian dikembangkan berbagai motip gerak seperti gerak gordo astuminggah, pucang kanginan, jangkung lilih, gundhuh sekar yang kesemuanya itu mengikuti istilah dari alam seperti ombak banyu (ombak air) dan wedhi kenser (berjalan diatas pasir).

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Busana yang digunakan pada Bedhaya Arjuna Wiwaha menggunakan baju tanpa lengan atau biasa disebut rompi dengan hiasan bulu di kepala, jamang, slepe, sampur, kain bawah yang menggunakan motip parang rusak, walaupun sebenarnya banyak juga yang menggunakan motip yang lain seperti motip parang barong, gembreng, klitik dimana ada yang pakai atau tidaknya memakai gordo.

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Riasan pada tarian ini menggunakan riasan cantik yang memperkuat kecantikan penarinya ketika tampil dipanggung. Untuk iringannya memakai Gamelan Jawa Klasik dengan gedhing pola langon, ladrang gathi, gendhing inti, mundur gendhing (gathi), langon lagi, setelah diam gathi lagi dan suwuk, musik masih bunyi yang ada hanya vokal, rebab, gender, gambang, suling sedangkan lainnya tidak main (silence).

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Bedhaya Arjuna Wiwaha

1Persembahan:Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
2Penari:
  1. Endhel : Siti Nurul Pristisari
  2. Batak : Dewati Rahmayani
  3. Jangga : Anita Listyaningrum
  4. Dhadha : Retno Moortrisari Widianingrum
  5. Buntil : Acintyaswasti Widianing
  6. Apit Ngajeng : Asti Oktavia
  7. Apit Wingking : Heni Pujiastuti
  8. Endhel Wedalan Ngajeng : El Riza Animayong
  9. Endhel Wedalan Wingking : Fitriana Indriasari

Bedhaya Arjuna Wiwaha

Dengan sering memperlihatkan tarian bedhaya ini diharapkan menjadi bagian dari promosi dan edukasi yang dapat ditangkap oleh masyarakat luas terutama generasi muda. Program pelestarian dan pengembangan secara nyata harus prakasa dari masyarakat itu sendiri dan bukan semata-mata menjadi tugas Pemerintah saja, karena bedhaya sudah menjadi pengakuan penguatan identitas keanekaragaman budaya Indonesia yang sangat di dukung oleh UNESCO. (Soebijanto/reog biyan)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here