myimage.id | Bedhaya Bedhah Madiun adalah sebuah tarian klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang peperangan antara Kerajaan Mataram yang ingin memperluas wilayahnya sampai daerah Madiun. Peperangan ini kemudian lebih di kenal dengan Bedhah Madiun.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Adipati Madiun mempunyai Putri dengan nama Retno Dumilah yang mempunyai pusaka Kiai Gumerang yang sangat ampuh sekali. Mengetahui keadaan ini maka Panembahan Senopati melancarkan taktik serangannya dengan taktik bujuk dan rayu dengan mengambil hatinya Retno Dumilah, layaknya seorang pria jatuh cinta dengan seorang gadis yang cantik. Sesakti saktinya gadis kalau sudah kena hatinya maka dia pasti luluh kepada Panembahan Senopati dan kemudian dijadikan Permaisurinya.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Tarian ini ditarikan oleh SMK I Yogyakarta, pada Hari Tari Dunia di Pendopo Besar ISI Sarakarta yang merupakan sebuah acara rutin yang digelar pertahunnya pada tanggal 29 April 2018 yang bertujuan untuk mengajak semua elemen di dunia untuk menampilkan tari-tarian yang ada, dengan segala keragaman budaya masing-masing. Tahun ini menggunakan tema “Menguak Peradaban”.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Hal ini disebabkan karena keprihatinan dunia terhadap pelestarian budaya dunia sangat minim. Maka bersama dengan UNESCO membentuk sebuah wadah sebagai sarana untuk menampilkan tari-tarian dengan keragaman budaya masing-masing yang ada di dunia. Tahun 2007 di Indonesia mulai gencar gerakan hari tari dunia ini dengan focus mengajak anak-anak sekolah untuk menampilkan tari-tarian sampai sekarang.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Bedhaya Bedhah Madiun diciptakan oleh Hamengku Buwono II, sedangkan yang ditampilkan kali ini dibuat atau di creator lagi oleh BRAY Yudonegoro pada tahun 1990. Dulu awalanya durasi tarian ini sekitar 1,5 jam, tatpi kemudian ditata lagi oleh Ratri Praptini Astuti. S.Pd menjadi 27 menit pada tahun 2012 yang digunakan sebagai bahan materi pelajaran SMK I kelas XII semester 6.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Bedhaya Bedhah Madiun ditarikan oleh 9 penari dengan peran sebagai endhel, bathak, jonggo, dada, bondel, apit ngajeng, apit wingking, wedalan ngajeng, wedalan wingking yang kesemuanya selain menggambarkan wujud manusia secara utuh, juga menggambarkan 9 lubang yang ada ditubuh manusia, yang mempunyai makna kalau manusia sudah bisa menutup babagan hawa songo (menutup lubang napsu manusia) maka dia sudah dapat dikatakan sebagai manusia yang menep dan sareh

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Karakteristik Bedhaya Bedhah Madiun merupakan tarian yang luruh atau mempunyai deep control yang bagus dalam rasa. Dalam setiap tari Bedhaya semua mempunyai laku yang khusus, hanya yang membedakan Bedhaya satu dengan lainnya dalah isi cerita dalam tariannya.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Gerakan dalam Bedhaya Bedhah Madiun masih mengambil ragam gerak tari putri klasik gaya Yogyakarta yang masih belum dirubah atau dikembangkan (original) seperti impang ngewer udhet, impang lembehan, impang encot, setelah itu rakit tigo-tigonya adalah bangomate, gudhawa asta minggah, pucang kanginan, jangkung miling, gundhuh sekar yang kesemuanya itu mengikuti istilah dari alam seperti ombak banyu (ombak air) dan wedhi kenser (berjalan diatas pasir).

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Khas dari Bedhaya Bedhah Madiun adalah gerak tari dari rakit lajur sampai rakit ketawang belum menceritakan isi cerita tarian ini, dapat dikatakan masih nyondro atau masih menampilkan masing-masing peran yang ditarikan penarinya. Setelah masuk gendhing ketawang atau rakit tigo-tigo (rakit gelar) baru menceritakan isi dari tarian ini secara utuh.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Busana yang digunakan pada Beksan Bedoyo Parto Kromo menggunakan dodotan, mekak, dimana pada tarian ini menggunakan baju tanpa lengan atau biasa disebut rompi dengan hiasan bulu di kepala, jamang, slepe, sampur, kain bawah yang menggunakan motip parang gendreh, walaupun sebenarnya banyak juga yang menggunakan motip yang lain seperti motip parang barong, klitik dimana ada yang pakai atau tidaknya memakai gordo.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Riasan pada tarian ini menggunakan riasan jahitan yang memperkuat kecantikan penarinya ketika tampil dipanggung, selain itu pada tarian ini penari menggunakan paes manten atau riasan yang sering di pakai oleh para manten dengan gelung bokornya pada rambut penari.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Untuk iringannya memakai Gamelan Jawa Klasik dengan awalan tarian menggunakan gendhing gathi (maju kapang-kapang) yang dilanjutkan dengan gendhing gondokusumo, kemudian gendhing ayak ayak dan terakhir menggunakan gendhing ketawang.

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Bedhaya Bedhah Madiun

1Persembahan:SMK I Yogyakarta
2Penari:

1.Bathak (Fahrida)

2.Endhel (Vita)

3.Jonggo (Mona)

4.Dada (Nares)

5.Bondel (Robiatun)

6.Endel Wedalan Ngajeng (Saraswati)

  1. Endel Wedalan Wingking (Dea)

8.Apit Ngajeng (Astrit)

9.Apit Wingking (Lutina)

 

Bedhaya Bedhah Madiun, javaneseclassicdance, culture, seni budaya

Dengan era keterbukaan Kraton Yogyakarta sekarang ini, Beksan Bedhaya bisa di dokumentasikan dalam bentuk naskah tari maupun dalam bentuk rekaman audio visual yang sangat bermanfaat bagi pelestarian dan pengembangan Beksan Bedhaya bagi masyarakat umum serta bagi perkembangan kehidupan tari di Kraton Yogyakarta khususnya dalam ranah ilmu pengetahuan dunia tari pada umumnya. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here