myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjang kadang sederek sedulur. Tari Bedhaya mengambil cerita dari mitos atau legenda yang secara sistematis mengandung makna filosofi dan sosial religius serta membawa nilai-nilai etis, moral dan ajaran hidup yang aktual sepanjang masa. Ya, salah satunya Bedhaya Parta Krama yang merupakan  sebuah tarian klasik gaya Yogyakarta  dan merupakan salah satu tarian pusaka yang dimiliki oleh Kraton yang menceritakan tentang polokromo atau pernikahannya Raden Arjuna dengan Dewi Sembodro.Bedhaya Parta Krama, cultureBedhaya Parta Krama ini ditarikan di acara 3 SKS di Pendopo Tari ISI Yogyakarta, yang merupakan gabungan atau kolaborasi 3 KKM yang ada di Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari ISI Yogyakarta  yaitu Seminar, Kedai Joged (dalam bentuk workshop tari) dan puncaknya Sepatu Menari yang dilaksanakan mulai dari tanggal 16-17 November 2018.Bedhaya Parta Krama, cultureTarian ini sebagai pembuka acara 3 SKS, yang pada tahun ini mengambil tema “Sapto Manunggal Ing Roso” yang artinya dalam acara ini akan tampil 7 kelas dengan tarian dari 7 etnis yang berbeda mulai dari Yogyakarta, Kalimantan, Sunda, Bali, Padang, Batak dan Jawa yang dimulai pukul 20.00-22.30 wib.Bedhaya Parta Krama, cultureBeksan Bedhaya Parta Krama diciptakan oleh KRT. Samitadipura (Romo Sas) pada tahun 1985-1986. Beliau adalah seorang ahli tari pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, IX dan X yang  sangat kreatif dalam usahanya agar tari klasik Yogyakarta dapat diminati oleh masyarakat terutama tarian wanita.Bedhaya Parta Krama, cultureBeksan Bedhaya dulu awalnya durasinya sangat lama, hampir 4 jam lebih, tapi kemudian direkontruksi dijadikan menjadi 2 jam, 1 jam bahkan dalam Beksan Bedhaya Parta Krama menjadi 45 menit  dengan harapan menjadi sebuah tontonan pertunjukan yang lebih menarik bagi siapa saja yang melihat tanpa menghilangkan makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.Bedhaya Parta Krama, cultureDalam Beksan Bedhaya Parta Krama, penari dituntut harus benar-benar mempunyai sesuatu yang istimewa sebagai penari, selain harus mempunyai fisik dan daya ingat yang kuat, penari juga dituntut mempunyai tanggung jawab tersendiri terhadap peran yang ditarikannya.Bedhaya Parta Krama, cultureBeksan Bedhaya Parta Krama ditarikan oleh 9 penari dengan peran sebagai endhel, bathak, gulu, buntil, apit ngajeng, apit wingking, wedalan ngajeng, wedalan wingking yang kesemuanya selain menggambarkan wujud manusia secara utuh, juga menggambarkan 9 lubang yang ada ditubuh manusia, yang mempunyai makna kalau manusia sudah bisa menutup babagan hawa songo (menutup lubang napsu manusia) maka dia sudah dapat dikatakan sebagai manusia yang menep dan sareh.Bedhaya Parta Krama, cultureKarakteristik Beksan Bedhaya Parta Krama merupakan tarian yang luruh atau mempunyai deep control yang bagus dalam rasa. Dalam setiap tari bedhaya semua mempunyai laku yang khusus, hanya yang membedakan bedhaya satu dengan lainnya adalah isi cerita dalam tariannya. Ini bisa dilihat dari rakit gelar, dimana setelah rakit tigo-tigo yang kemudian masuk rakit cerita.Bedhaya Parta Krama, cultureLaku bedhaya mempunyai beberapa tahapan antara lain sebelum rakit tigo-tigo semuanya belum ada ceritanya, tapi semuanya itu harus diikuti dulu dari rakit ajeng-ajengan, mlebet lajur, medal lajur, ajeng-ajeng lagi, iring-iringan kemudian rakit tigo-tigo, suwuk baru masuk gelar. Komposisi dalam Beksan Bedhaya Parta Krama dengan yang lain juga beda, disini rakit gelarnya Arjuna bertemu, pernikahan, berkasih-kasihan, membangun rumah tangga yang bahagia dengan  Dewi Sembodro.Bedhaya Parta Krama, cultureDalam Beksan Bedhaya Parta Krama yang mempunyai peran yang utama secara simbolis adalah endhel (kepala), Batak (hati/rasa) dan Kresna. Semua penari mempunyai sifat yang homogen artinya mulai dari penghayatan, gerak dan busananya semua sama dengan tujuan untuk mewujudkan peran manusia secara utuh dalam keharmonisan, yang terkandung didalam gendhingnya. Dalam beksan bedhaya harus mengandung wiromo, wirogo, wiroso pada penarinya.Bedhaya Parta Krama, cultureGerakan dalam Beksan Bedhaya Parta Krama antara lain ada impang mewer gundhek, impang lembehan, impang encot, setelah itu rakit tigo-tigonya adalah bangomate, tapi juga memasukan unsur gerak tari putri gaya Yogyakarta dengan ragam gerak ngenceng gordo (gerak pokok putri) yang kemudian dikembangkan berbagai motip gerak seperti gerak gordo astuminggah, pucang kanginan, jangkung lilih, gundhuh sekar yang kesemuanya itu mengikuti istilah dari alam seperti ombak banyu (ombak air) dan wedhi kenser (berjalan diatas pasir).Bedhaya Parta Krama, cultureBusana yang digunakan pada Beksan Bedhaya Parta Krama menggunakan dodotan, mekak, dimana pada tarian ini menggunakan baju tanpa lengan atau biasa disebut rompi dengan hiasan bulu di kepala, jamang, slepe, sampur, kain bawah yang menggunakan motip parang rusak, walaupun sebenarnya banyak juga yang menggunakan motip yang lain seperti motip parang barong, gembreng, klitik dimana ada yang pakai atau tidaknya memakai gordo.Bedhaya Parta Krama, cultureRiasan pada tarian ini menggunakan riasan cantik yang memperkuat kecantikan penarinya ketika tampil dipanggung, selain itu pada tarian ini penari menggunakan dodotan seperti yang sering dipakai paes manten atau riasan yang sering di pakai oleh para manten dengan gelung bokornya pada rambut penari. Untuk iringannya memakai Gamelan Jawa Klasik dengan gedhing pola ketawang, ladrang, srepeg dan playon.Bedhaya Parta Krama, cultureBedhaya Parta Krama

1Persembahan:ISI Yogyakarta, Kelas B 2015
2Penari:

1.Fitiana Indriasari (endhel pajeg)

2.Bulan Riestamara P (bathak)

3.Ariseta Putri R (gulu)

4.Deviaristya Kumalasari (dada)

5.Junia Putri P (buntil)

6.Kinesti Eqi J (apit ngajeng)

  1. Nasri Nada A (apit wingking)

8.Nurul Kurnia S (wedalan ngajeng)

9.Wiwin Nur C (wedalang wingking)

Bedhaya Parta Krama, cultureKesemua tari klasik gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem atau yang biasanya disebut joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah) yang semua ini dapat di tarikan  secara utuh dan bagus harus dengan latihan secara rutin. Sebuah tarian yang mempunyai seni dan budaya secara keseluruhan mempunyai makna sebagai lambang kehidupan yang berisi norma-norma yang dapat dijadikan tuntunan bagi manusia yang lebih menep dan sareh. (Soebijanto/reog biyan)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here