myimage.id | Salam Budaya, sugeng enjing sedulur, mugi-mugi samiyo wilujengan, Gusti mberkahi dening kito sedoyo. Selama ini tari klasik yang lahir di dalam Kraton dijadikan sebagai inspirasi seniman-seniman dalam membuat karyanya. Tari Klasik ini selalu dihubungkan dengan sebuah tarian adiluhung dan dimaknai sebagai sebuah pengharapan dan kepasrahan kepada Sang  Pencipta. Ini semua juga terlihat pada Bedhaya Saptongkara yang merupakan sebuah tari klasik yang didalamnya menceritakan ungkapan dalam bentuk tarian berupa simbol Sapta Ongkara berupa energi yang ada di dalam manusia yang ada di dalam alam semesta berupa macro dan micro cosmos.Bedhaya SaptongkaraMakna yang terkandung dalam kata Bedhaya Saptongkara terdiri dari kata Sapta yang berarti Tujuh, dengan Ongkara yang berarti aksara berupa suara, satra atau simbol yang suci didalam agama Hindu, yang digabungkan semuanya itu ada 7 simbol yang suci yaitu  Ang, Ung, Mang, Ongkara, Arda Candra, Windu dan Nada.Bedhaya Saptongkara7 simbol inilah yang menjadi ide terbentuknya Bedhaya Saptongkara, dimana “Ang” menyimbolkan tubuh manusia dari kaki sampai puser dengan simbolnya Dewa Brahma dengan warna merah penuh energi, “Ung” menyimbolkan puser sampai ulu hati simbolnya Dewa Wisnu dengan warna hitam.Bedhaya SaptongkaraMang” menyimbolkan ulu hati sampai pangkal leher simbolnya Dewa Siwa dengan warna putih, “Ongkara” menyimbolkan wajah simbolnya Mahadewa dengan warna kuning (penuh wibawa), “Arda Candra” ini bentuknya seperti bulan sabit simbolnya Dewa Siwa Rudra  mata ketiga dan “Windu” simbol dahi yang bundar dewanya Sada Siwa dan “Nada” simbol dari atas ke ubun-ubun yang dinamakan Paramasiwa.Bedhaya SaptongkaraSumber energi dari Sapta Ongkara adalah Sang Pencipta, dimana dalam kehidupan ini yang diutamakan sebenarnya adalah perilaku kehidupan dengan energi yang ada dalam wujud angin, api, air dan tanah termasuk mahluk hidup,  ada yang di bawah, sejajar dan diatas manusia tapi semuanya terangkum dalam bakti dan sayang.Bedhaya SaptongkaraTarian ini ditampilkan dalam event Srawung Seni Sakral 2019 sebagai closing acara, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta lewat Dinas Kebudayaan di halaman Balai Kota Surakarta tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 31 Agustus 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Bedhaya SaptongkaraSrawung Seni Sakral 2019 yang merupakan  sebuah acara tradisi dalam rangka menyambut bulan Suro yang dilakukan oleh para seniman sebagai bentuk satu ruang untuk berekspresi dalam sebuah karya seni sebagai simbol ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas segala karunia yang diterima selama ini.Bedhaya SaptongkaraBedhaya Saptongkara merupakan ciptaan dari I Nyoman Chaya dan istrinya Lis Haryati pada tahun 2019. Tarian ini pertama kali di pentaskan di Festival Bedhayan di Gedung Kesenian Jakarta sebagai closing acara, yang diselenggarakan oleh Jaya Suprana Performing Arts.Bedhaya SaptongkaraI Nyoman Chaya lahir pada tanggal 1 Januari 1952 di Pulau Bali tepatnya di Singaraja. Beliau pernah aktip sebagai Dosen di ISI Surakarta dari tahun 1978 sampai 2017. Beberapa karyanya yang menjadi Master Piece antara lain Sketsa (1983),  Bima Suci Kecak (1990) dan Manggigel (2004).Bedhaya SaptongkaraKomposisi di dalam Bedhaya Saptongkara mengandung makna yang fokus pada tiga penari ditengah yang menggambarkan perputaran hidup mulai dari lahir, hidup dan mati. Kemudian komposisi satu ditengah menggambarkan satu kesatuan seluruh mahluk hidup  di dunia ini, yang membedakan hanya sifatnya saja.Bedhaya SaptongkaraRagam gerak tarian ini merupakan gabungan antara gerak tari klasik Jawa gaya Surakarta dengan tari klasik Bali yang sudah di garap dimana tidak ada penonjolan, keduanya terlihat menyatu, hanya pada bagian akhir menggunakan khas Bali tapi sudah sangat dihaluskan sekali sehingga sangat tidak nampak.Bedhaya SaptongkaraIringan gendhingnya full menggunakan gamelan klasik Bali yang terkenal dengan kedinamisannya yang mampu memberikan warna tersendiri di dalam tarian ini. Semuanya ini membutuhkan sebuah proses yang panjang dengan pemikiran yang kreatif dan inovatif.Bedhaya SaptongkaraGendhingnya Mantran yang diambil dari Kidung Warga Sari yang biasanya dilantunkan di dalam Pura-Pura di Pulau Bali, dengan jenis tembangnya Warga Sari dengan kidung puja-puja yang isinya memuja Sang Yang Widhi dengan ciptaannya yang menghiasi bumi dengan segala mahluk hidupnya.Bedhaya SaptongkaraBusana yang dikenakan secara garis besarnya adalah memakai warna hitam putih dengan alasan dualisme, suka duka, baik buruk, yang selalu ada di dalam kehidupan ini. Tarian ini bukan menggambarkan kerakter manusia, tetapi menggambarkan energi, maka irah-irahannya kesannya menjadi imajiner. Karena ini ada unsur Balinya maka produk Bali ditampilkan dalam busananya.Bedhaya SaptongkaraBedhaya Saptongkara.

1Koreogarfer:I Nyoman Chaya dan  Lis Haryati
2Penata Busana:I Nyoman Chaya dan  Lis Haryati
3Penata Iringan:I Nyoman Chaya dan  Lis Haryati
4Penari:
  1. Sonia
  2. Nanda
  3. Bela
  4. Erika
  5. Novi
  6. Anisa
  7. Hesti

Bedhaya Saptongkara“Tidak ada pesan dalam tarian ini, kita adalah satu kesatuan yang utuh yang bisa dikembangkan yang intinya adalah satu dengan Kidung Pituning  Tunggal Kawos/Saptongkara (Seven in One) serta adanya keseimbangan antara macro dan micro cosmos didunia ini”, ujar I Nyoman Chaya di sela-sela acara Srawung Seni Sakral 2019. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here