myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo, rahayu, rahayu, rahayu. Semua tari klasik yang berasal dari Kraton pastilah akan menjadi sebuah pakem dan selalu menginspirasi untuk selalu dijadikan sebuah inspirasi karya seni bagi seniman-seniman Indonesia, khususnya Yogyakarta. Salah satunya adalah Bedhaya Suraloka yang merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang Khayangan yang akan diserang pasukan raksasa Nilarudra. Maka sebelum hal itu terjadi, diutuslah Sangyang Kamajaya untuk meminta pada Bathara Guru yang sedang bertapa. Dengan jemparing Panca Wiyasa (panah bunga yang bisa menimbulkan rasa rindu pada pujaan hati), terusiklah tapa Bathara Guru hingga murka, manakala tahu Bathara Kamajaya yang melakukan semua itu.Bedhaya Suraloka, cultureMaka dipadangilah Bathara Kamajaya dengan mata ketiganya hingga terbakar. Melihat semua ini, Bathari Kamaratih ikut membakarkan diri untuk menyatu dengan pujaan hatinya (Bathara Kamajaya). Permohonan para Dewa untuk menghidupkan mereka disanggupi tapi hanya spirit atau rohnya saja yang akan hidup di setiap hati laki-laki dan perempuan, sebagai simbol kerukunan yang akan membawa kedamaian dan kelestarian.Bedhaya Suraloka, cultureTarian ini merupakan ciptaan dari Dra. W. Lies Apriani M.Hum pada tahun 2019, yang kali ini ditampilkan di Bangsal Srimanganti, Kraton Yogyakarta pada tanggal 20 Januari 2019 yang semuanya terinspirasi dari cerita dan figur  Betara  Kamajaya Dan  Dewi Kamaratih yang menjadi simbol kerukunan suami istri.Bedhaya Suraloka, cultureDua figur ini dalam Budaya Jawa selalu hadir pada acara yg berkait dengan siklus hidup manusia yaitu pada acara pernikahan. Figur ini hadir sebagai contoh idola atas kesetian dan kerukunan dalam membangun hidup berumah tangga. Dengan harapan calon mempelai dalam membangun bahtera  rumah tangga selalu setia dan rukun seperti dua figur tersebut.Bedhaya Suraloka, cultureDua figur ini juga hadir pada saat upacara 7 bulan kehamilan putra pertama. Untuk menyambut kehadiran buah cintanya/hatinya, diadakan ritual yang intinya memohonkan agar  calon  Ibu dan bayi yang dikandungnya sehat, selamat, lancar dalam persalinannya. Dan kelak anak yg lahir bila putra setampan Kamajaya dan  bila putri secantik Dewi Kamaratih.Bedhaya Suraloka, cultureBeberapa karya beliau selalu menghadirkan Bedhaya-bedhaya yang sangat klasik, diantaranya Bedhaya Hangambar Arum/legenda Sri Tanjung (1982), Bedhaya Jatipurna/Legenda Dewi Sri (2010), Bedhaya  Jemparing Panca Wiyasa/kisah Bathara Kamajaya dan Dewi Kamaratih (2018) dan Bedhaya Suraloka/Kamajaya Kamaratih (2019). Selain itu juga menyusun beberapa tari yang berpijak pada tari klasik gaya Yogyakarta dan tari kreasi baru.Bedhaya Suraloka, cultureKomposisi dalam tarian ini menggambarkan wujud manusia dari kepala hingga kaki. Endel (kepala / pikiran), Batak (Hati/rasa), Gulu (leher), Dhadha (dada), Buntil (ekor/pantat), Apit ngajeng (tangan kiri), Endhel wedalan ngajeng (kaki kiri), Apit wingking (tangan kanan), Endhel wedalan wingking (kaki kanan). Selain itu juga komposisi 9 penari ini juga menggambarkan 9 lubang yang ada di tubuh manusia yaitu 2 mata, 2 hidung, 1 mulut, 2 telinga, 1 anus, 1 alat vital.Bedhaya Suraloka, cultureKomposisi dalam tari bedhaya tradisi disebut dengan istilah rakit ( rakit lajur, rakit ajeng-ajengan, rakit iring-iringan, rakit medal lajur, rakit mlebet lajur, rakit tiga tiga, rakit gelar). Pada rakit gelar ini cerita bedhaya itu di gelar . Diawali dengan rakit tiga tiga dan diakhiri rakit tiga tiga kembali.Bedhaya Suraloka, cultureDalam koreografi Bedhaya Suraloka ini rakit gelar dibagi 3 adegan yaitu, pertama Jemparingan yang menceritakan  Bathara Kamajaya melepas busur Panca Wiyasa ke Bathara Guru yang sedang bertapa , hingga “badar”  dan marah dan berakhir dengan terbakarnya Bathara Kamajaya dan  Dewi Kamaratih yang diwujudkan dalam komposisi, diantaranya kelompok 3: lahir / cipta-hidup/ pelihara-mati/musnah, kelompok  3/gotik dan 6/horizontal, kelompok 4 /srimpen/kiblat papat dan 5/pancer. Kemudian bagian kedua Sesanti berupa  kelompok segi tiga dan kelompok setengah lingkaran serta yang ketiga Pepasihan dan Bebrayan berupa duet (endhel-batak) dan kelompok 7 (melingkar).Bedhaya Suraloka, cultureGerak  dalam tari Bedhaya Suraloka menggunakan ragam gerak tari klasik puteri  gaya Yogyakarta , dengan properti jemparing yang menggunakan sampur. Gerak dalam tari putri klasik gaya Yogyakarta  berpijak pada sikap dan gerak pokok “ngenceng”. Sikap dan gerak lainnya merupakan motif  pengembangan dari sikap dan gerak “ngenceng”.Bedhaya Suraloka, cultureAdapun pola lantai yg digunakan adalah pola lantai sesuai pola lantai  lampah bedhaya yg biasa disebut dengan rakit meliputi rakit lajur, rakit ajeng ajengan, rakit iring iringan, rakit mlebet lajur, rakit medhal lajur, rakit tiga tiga, dan rakit gelar. Setelah kapang kapang maju , pada bagian awal pola lantai/rakit lajur menggunakan motif gidrah, rakit iring iringan motif gudhawa asta minggah, rakit ajeng ajengan motif tawing duduk wuluh, rakit mlebet lajur motif impang tawing ngewer udhet, pendhapan maju mundur, rakit medal lajur motif jangkung miling dan kicat cangkol udhet. Kembali rakit  lajur motif ngenceng usap suryan dan rakit tiga tiga motif bangomate.Bedhaya Suraloka, cultureRakit gelar merupakan bagian yg mengungkapkan isi cerita tarian ini yang diawali dengan pola lantai  segi tiga tiga kelompok motif  ulap ulap. Bagian gegulang warastra dengan pola lantai berupa 3 segi tiga + 6 berbanjar, 4 srimpen + 5 lajur, 3 segi tiga+ 6 lingkaran, dengan variasi arah hadap dan permainan level. Bagian sesanti dengan pola lantai  1 di  depan + 2 di belakangnya + 6 setengah lingkaran, sila  rimong sampur ( level rendah) dengan  gerak sembahan, nglayang, tumpang tali.Bedhaya Suraloka, cultureBagian pepasihan pola lantai 2 berdiri berhadapan kapang kapang ,aras arasan, berjejer ragam gidrah tawing,  encot encot sedhuwa, klanthen asta. 7 penari  ( Gulu, dhadha, buntil, apit ngajeng , endhel wedalan ngajeng, apit wingking, endhel wedalan wingking).  Pola lantai  1( gulu) di tengah bekakang,  6 penari jengkeng di samping kanan kiri melengkung, ragam gerak mengikuti endhel. Bagian akhir, tinting rakit tiga tiga, kembali rakit lajur kicat boyong, sembahan kemudian kapang – kapang mundur.Bedhaya Suraloka, cultureBusana yang dikenakan pada tari ini memakai kain parang gendreh ceplok gurdha, baju tanpa lengan warna hitam, udhet cinde warna hijau. Bagian kepala menggunakan sinyong dengan jamang srimpi bulu kaswari warna hijau. Asesories ceplok jebehan  orange,  pethat, mentul 5,  pelik, sumping ron, sengkang, gelang kana, slepe, klat bahu dan kalung susun. Sedangkan riasnya menggunakan rias mata jahitan dengan bedak dasar kuning pengantin.Bedhaya Suraloka, cultureIringan gendhingnya menggunakan seperangkat gamelan klasik Jawa laras pelog,  dan  beberapa instrumen seperti drum dan trompet. Gendhing yang mengiringi diantaranya gendhing Gati Branta Wiwaha, Gendhing Suraloka pelog barang, Ladrang Sekar Sayaka pelog barang dan Ketawang  Sri Anala pelog barang.Bedhaya Suraloka, cultureBedhaya Suraloka.

1Produksi:ISI Yogyakarta
2Koreografi:Dra. W. Lies Apriani M.Hum
3Penata Musik:Anom Suneko Baksono S.Sn.M.Sn
4Penata Busana dan Rias:Dra. W. Lies Apriani M.Hum
5Penari:
  1. Nur Harjinanti (endel)
  2. Anggun Ida Mawadda (batak)
  3. Bening Krisnasari (gulu)
  4. Kurnia Rahmadani (dadha)
  5. Devi Eka Aryani (bunthil)
  6. Della Febryan YP (apit ajeng)
  7. Ozzy Asura F (apit wingking)
  8. Kustiantina M (endhel wedalan ngajeng)
  9. Ainun Nais (endhel wedalan wingking)

Bedhaya Suraloka, cultureTarian ini memperlihatkan satu bentuk tari Bedhaya yang disusun dengan berpijak pada pola tradisi Kraton Yogyakarta. Menggunakan gerak tari putri dan iringan gaya Yogyakarta dengan bentuknya yang abstrak dan simbolis serta kaidah-kaidah estetis tari klasik gaya Yogyakarta mengandung  pesan “kerukunan” dalam cinta kasih yang akan membawa kedamaian dan kelestarian, ujar Dra. W. Lies Apriani M.Hum. (Soebijanto/reog biyan).

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here