myimage.id | Salam Budaya, sugeng enjing sedulur, mugi-mugi samiyo wilujengan. Karya Seni Tari Klasik sering sekali di kaitkan dengan istilah adiluhung dan hebat sehingga sebutan kesenian klasik seolah-olah telah mengalami tataran puncak kesempurnaan. Ya semua itu terlihat dalam Bedhaya Tawang Arum yang merupakan sebuah tari klasik gaya Surakarta yang didalamnya memuat pesan kepada masyarakat agar selalu memanjatkan puji dan syukur kepada Sang Pencipta, dengan selalu mawas diri, tulus menjalin kerukunan hidup sehingga tercipta kehidupan yang damai dan sejahtera.Bedhaya Tawang ArumIde tarian ini tercipta berawal dari pembicaraan beberapa seniman Surakarta di antaranya Suprapto Suryodarmo, St.Wiyono, Teguh Prihadi, dan Wahyu Santosa Prabowo yang sepakat untuk mengawali Srawung Seni Sakral Mapag Suro 2019 selain Wilujengan dan Umbul Donga.Bedhaya Tawang ArumAcara itu akan lebih mantap jika dilengkapi dengan Tari Bedhaya sebagai ritual di bulan suro lewat  Pemerintah Kota Surakarta. Dari ini semua Wahyu Santosa Prabowo, dipercaya untuk membuat tarian plus dengan irama yang mengiringi di awal bulan Agustus 2019, yang nantinya dipersembahkan kepada masyarakat Surakarta lewat Walikota Surakarta.Bedhaya Tawang ArumAwalannya Wahyu Santosa Prabowo mengusulkan dua nama untuk Tari Bedhaya ini, yaitu Bedhaya Pepandam Surakarta yang bermakna pancaran sinar Kota Surakarta dan Bedhaya Tawang Arum bermakna tentang langit yang memayungi Kota Surakarta yang senantiasa semerbak harum layaknya bunga segar di pagi hari. Dan ternyata Walikota Surakarta lebih memilih nama Bedhaya Tawang Arum.Bedhaya Tawang ArumTarian ini dijadikan sebagai pisungsung oleh Wahyu Santoso Prabowo kepada Pemkot Surakarta lewat FX Hadi Rudyatmo selaku Walikota Surakarta sebagai salah satu simbol Srawung Seni Sakral 2019 dimulai, yang semuanya ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta lewat Dinas Kebudayaan di halaman Balai Kota Surakarta tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 31 Agustus 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Bedhaya Tawang Arum

Srawung Seni Sakral 2019 yang merupakan  sebuah acara tradisi dalam rangka menyambut bulan Suro yang dilakukan oleh para seniman sebagai bentuk satu ruang untuk berekspresi dalam sebuah karya seni sebagai simbol ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas segala karunia yang diterima selama ini.Bedhaya Tawang ArumKomposisi di dalam tarian ini mengandung makna mengekspresikan panjatan doa yang khusuk kepada Sang Pencipta dengan harapan Kota Surakarta makin tumbuh berkembang, bersinar, aman, tentram, rukun, damai, semakin maju dan sejahtera serta diharapkan munculnya daya spiritual magis (esoteric) yang menyatukan semua umat manusia.Bedhaya Tawang ArumWahyu Santosa Prabowo lahir di Tegal, 14 Januari 1952, mengajar di ASKI pada tahun 1978 yang sekarang berubah menjadi ISI Surakarta. Lebih dari 50 karya tari yang beliau hasilkan beserta gendhing-gendhingnya. Beberapa karya beliau diantaranya Rudrah (1979), Bagawadgita (1984), Rekonstruksi gending Bedhaya Diradhameta Kraton Pura Mangkunegaran (2007), Risang Wrahatnala (2010), dan Sunan Kalijaga bersama dosen dan mahasiswa University of Michigan (2017).Bedhaya Tawang ArumStruktur dan ragam gerak  tari berpijak pada vocabulary ragam gerak tari gaya Kraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran, serta ragam gerak baru yang tetap mempertimbangkan rasa gerak Bedhaya dengan pola lantai yang berpijak pada pola lantai dalam Tari Bedhaya seperti garuda nglayang, supit urang, cakra, blumbangan, jejer wayang dan rakit tiga-tiga.Bedhaya Tawang ArumBusana dan tata riasnya tetap menggunakan yang lazim pada Tari Bedhaya yaitu memakai busana dodot ageng dengan motif parang, kain menggunakan samparan warna merah, sampur, sedangkan tata riasnya termasuk dalam kategori  rias cantik dengan tata rambut kadhal menek dengan menggunakan jambul merah putih yang menggambarkan nuansa merah putih yang menjadi pijakan Bangsa Indonesia.Bedhaya Tawang ArumBentuk gendhing dan strukturnya berpijak pada garap Bedhaya yang sudah ada yaitu gunakan gamelan ageng Klasik Jawa berupa slendro dan pelog, dimulai dari pathetan lasem slendro nem, ketawang gendhing kemanak tawang arum malik pelog barang Inggah ketuk 4 suwuk, pathetan jugag pelog barang, ketawang kaliling pelog barang, ladrang babar layar pelog nem yang semuanya menggunakan vokal bersama dengan syair-syair baru yang sudah disiapkan untuk acara Mapag Suro.Bedhaya Tawang ArumBedhaya Tawang Arum.

1Koreografer:Wahyu Santosa Prabowo
2Penata Musik:Wahyu Santosa Prabowo
3Penata Busana:Galuh
4Penata Rias:Irwan Damasto dan Joko Febrianto
5Karawitan:PAKARTI Prangwedanan Pura Mangkunegaran pimpinan RT. Sri Hartono
6Penari:
  1. Tyas Tanti
  2. Galuh Sinta Sari
  3. Dorothea Quin
  4. Anggun Nurdiana Sari
  5. Wuri Praptiwiningsih
  6. Elsa
  7. Uthik
  8. Candra
  9. Novia

Bedhaya Tawang Arum“Bedhaya Tawang Arum tidak hanya sekedar sebagai tontonan dan hiburan saja, tetapi yang lebih penting adalah tari ini juga terkait erat dengan tuntunan dan tatanan, perwujudan doa dan rasa manembah kepada Sang Pencipta. Tarian ini  juga memuat nilai-nilai  yang penuh makna dan manfaat bagi kehidupan manusia serta refleksi dari pemikiran, pandangan yang berisi nilai-nilai di dalam masyarakat yang selalu mengikuti perkembangan jaman”, ujar Wahyu Santosa Prabowo disela-sela acara Srawung Seni Sakral 2019. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here