myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Pengaruh budaya Modern sangat penting dalam perkembangan seni tari pada masa kini, banyak tercipta bentuk-bentuk tari baru. Begitu tergodanya dengan sesuatu yang baru, tanpa menyisihkan  tradisi lama dari perhatian. Semua ini tertuang dalam Bedhayan Sepuh Macak Kere yang merupakan sebuah tari kontemporer ala Bedhaya Klasik yang tergarap kekinian yang didalamnya menceritakan tentang orang-orang tua yang dimasa mudanya dulu penuh dengan kedinamisan yang diterjemahkan dalam bentuk tarian.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureDijaman sekarang ini banyak sekali orang-orang kaya , bilamana dikaitkan dengan kewajiban yang sesungguhnya, mereka pasti akan berdandan ala orang tidak punya (macak kere) yang semuanya itu dilakukan untuk menghindari kewajibannya.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureFenomena ini terasa sangat aneh, dan hal ini juga terjadi di dalam dunia anak-anak, bilamana mereka berkumpul, maka hampir dipastikan tidak ada interaksi sosial ataupun rasa baik terhadap teman maupun keluarga. Semua ini disebabkan oleh fenomena jaman lewat Hand Phone yang membawa keegoisan didalam diri kita tanpa kita sadari.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureBedhayan Sepuh Macak Kere adalah tarian ciptaan dari Bimo Wiwohatmo yang merupakan cantrik Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) 1979, yang kali ini ditarikan di kegiatan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) yang dilaksanakan untuk ke 7 kalinya pada tanggal  22 sd 25 November 2018 di Yogyakarta dan Magelang, Jawa Tengah.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureBWCF adalah Simposium, Pidato Kebudayaan, Launching Buku, Pameran Buku, Morning Yoga & Meditation, Membaca Relief, Workshop Dongeng Kreatif, Pemutaran Film  &  Diskusi, Literasi; Residensi & Digital, Pentas Seni Pertunjukan.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureTema dalam penyelenggaraan tahun ini adalah “Traveling & Diary”. Membaca Ulang Catatan Harian Pelawat Asing ke Nusantara (dari Yi Jing, Ibnu Batuta sampai Wallace). Sedangkan Pentas Seni Pertunjukan  kali ini mengangkat tema “MIGRASI”.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureInspirasi tari Bedhaya Sepuh Macak Kere didapat dari melihat tari Bedhaya Klasik yang dulunya hanya ditarikan didalam Kraton untuk acara-acara khusus saja, dari sinilah kemudian beliau ingin menginterpretasikan  tarian ini sesuai dengan jaman sekarang ini. Bedhaya dalam bentuk yang modern atau kontemporer dengan masih berpijak di tanah Jawa.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureGerak Bedhaya Sepuh Macak Kere masih menggunakan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang dikombinasikan dengan gerak tari kontemporer sehingga tercipta gerak yang dinamis dan variatif. Ini tergambar jelas ketika seorang ibu-ibu yang menari Bedhaya ini dalam kondisi melamun yang kemudian diingatkan pada jaman dulu yang digambarkan lewat penari muda dengan gerak-gerak kontemporer.Bedhayan Sepuh Macak Kere, culturePola lantainya masih memakai pakem-pakem yang ada di dalam tari Bedhaya klasik seperti pola montor mabur, jejer wayang dan rakit tigo-tigo dengan jumlah penari 13 orang.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureBusana yang dikenakanpun masih mengacu pada busana klasik Jawa dengan memakai busana lawasan dengan tambalan-tambalan yang disesuaikan dengan judul tarian ini, Macak Kere (berdandan ala orang miskin). Busana yang dikenakan tidak memakai filosofi yang biasa dipakai dalam Bedhaya Klasik, disini lebih dipentingkan adalah spirit desain Jawanya, bentuknya sudah dikembangkan dengan riasan natural.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureIringan musik yang mengiringi tarian ini pada intinya menggunakan kemanak yang melodinya digabungkan dengan alat musik modern, jadi disini merupakan kolaborasi antara musik klasik dengan modern yang ditata dengan bagusnya.Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureBedhayan Sepuh Macak Kere.

1Kareografer:Bimo Wiwohatmo
2Penari:
  1. Ibu Nusyawati Sutopo
  2. Ibu Tri Hardiyan
  3. Ibu Herning Danastri
  4. Ibu lies Rini
  5. Ibu Endang Ismoyo
  6. Ibu Probo Harjanti
  7. Ibu Yanti Yudo
  8. Anggoro
  9. Satrio Ayodya
  10. Muharam
  11. Mawan
  12. Fendi
  13. Isnu Comarudin
3Asisten Kareografer:
  1. Anter Asmorotedjo
  2. Tini Handonowari
4Penata Musik:
  1. Bagus Mazasupa
  2. Izumi Nagano
5Penata Busana:Nita Azhar

Bedhayan Sepuh Macak Kere, cultureKita harus menyadari perkembangan jaman sekarang ini yang harus kita jalani. Hilangnya rasa sosial dan rasa kekeluargaan harus kita antisipasi. Sebuah wejangan ajaran Jawa, “yen wong wadon wis ilang wirange, mlakuho topo lelono njajah deso milang kori, ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi, kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandange, golek wisik songko sang Hyang Widhi” dapat digunakan sebagai pengingat. Ya, dengan berkembangan budaya modern secara global manusia harus lebih mawas diri dan harus diikuti, ujar Bimo Wiwohatmo. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here