myimage.id | Istilah tari klasik sampai sekarang masih dikaitkan dengan karya seni yang bermutu dan mempunyai nilai estetika yang tinggi serta selalu berhubungan dengan istilah adiluhung, salah satunya Beksan  Anilo Prahasto yang merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang peperangan antara Anilo dengan Prahasta, yang ceritanya diambilkan dari cuplikan Ramayana.Beksan Anilo Prahasto, cultureAnilo adalah senopati kerajaan Pancawati, sedangkan Prahasto adalah Patih Kerajaan dari Alengkadiraja. Keduanya memang sakti mandraguna dan dalam pertarungan tersebut mereka benar-benar membela keyakinan mereka, walaupun pada akhirnya pertarungan tersebut dimenangkan oleh Anilo.Beksan Anilo Prahasto, cultureKemenangan Anilo diperoleh dengan susah payah, dengan memukulkan sebuah tugu ke kepala dan badan Prahasta sehingga hancur berkeping-keping. Ternyata tugu tersebut merupakan perwujudan dari seseorang bidadari bernama Indradi, ibu kandung Raja Sugriwa yang dikutuk suaminya, seorang Resi dengan nama Gotama, karena berselingkuh dengan Batara Surya. Tapi dengan kematian Prahasta oleh pukulan Anilo menggunakan tugu ini malah membebaskannya dari kutukan Resi Gotama.Beksan Anilo Prahasto, cultureBeksan Anilo Prahasta ini disusun oleh KRT. Condroradono bersama KRT. Jogobroto di Ndalem Pujokusuman pada tahun 1977, ketika itu belum bernama Yayasan Sasmintamardawa tapi masih Mardawa Budaya.Beksan Anilo Prahasto, cultureBeksan Anilo Prahasto dipersembahkan oleh Sanggar Tharah Bhawana Tirtomartani sebagai pembuka acara dalam rangkaian acara Gelar Seni Kawasan Candi 2018 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta di Kawasan Candi Kalasan, Tirtomartani, Sleman pada hari Kamis tanggal 6 Oktober 2018 mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Beksan Anilo Prahasto, cultureSanggar Tharah Bhawana Tirtomartani merupakan sanggar tari yang masih sangat muda, berdiri pada akhir tahun 2017, didirikan oleh Setiawan Jalu Pamungkas dan Totok, yang berhomebase di Glodong, Tirtomatani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sanggar ini bergerak di bidang tari garapan khususnya bagi para remaja putra maupun putri.Beksan Anilo Prahasto, cultureGerak Anilo menggunakan ragam kalang kinantang kera, sedangkan Prahasto menggunakan ragam gerak bapang sekar suwun, yang semuanya mengacu pada gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang lebih dikenal dengan Joged Mataraman. Keduanya memadukan gerak gagah, antep, lincah dan atraktif.Beksan Anilo Prahasto, culturePola lantainya mengacu pada pola lantai yang sering atau biasanya digunakan pada Wayang Orang gaya Yogyakarta yang biasanya menggunakan gerak sembahan, lumaksono, ngombak banyu dan srisig.Beksan Anilo Prahasto, cultureBusana yang digunakan Anilo berupa irah-irahan gunung keling, busana lengan panjang warna biru tua, jamang lung-lungan, slepe, kalung susun satu, celana cinde, sampur, sumping, jarik parang klitik tuding, serta topeng binatang kera biru.Beksan Anilo Prahasto, cultureSedangkan Prahasta menggunakan busana berwarna hitam dengan sulaman emas lengan panjang dengan kaos tangan putih, irah-irahan dengan nama bledekan lar dan memakai probo, kalung susun satu, slepe, celana chindhe, sampur, jarik dengan motip parang polos dan memakai topeng warna merah yang menandakan sifatnya seorang raksasa serta memakai lipung (gada yang kedua ujungnya tajam).Beksan Anilo Prahasto, cultureIringan gendhing pada Beksan Anilo Prahasto menggunakan gamelan klasik Jawa, dengan gendhing pada maju gendhing menggunakan gendhing ladrang, sedangkan pada adegan perangnya menggunakan gendhing playon pada inti beksan yang pada adegan akhir atau mundur gendhing menggunakan gendhing gangsaran. Tapi itu semua bisa  dikreasi para penata musiknya, sesuai dengan apa yang mau dipakai, karena tidak ada pakemnya dalam hal ini.Beksan Anilo Prahasto, culture

Beksan Anilo Prahasto

1Persembahan:Sanggar Tharah Bhawana Tirtomartani
2Penari:
  1. Johan(Prahasto)
  2. Danu (Anilo)

Beksan Anilo Prahasto, culturePergerakan tari klasik yang dulunya hanya hidup didalam lingkungan Kraton, sekarang ini bergerak dilingkungan masyarakat di luar tembok Kraton. Inilah bukti era keterbukaan Kraton terhadap perkembangan tari klasik gaya Yogyakarta yang selalu mengikuti perkembangan jaman yang penyebarannya selalu mengalami perubahan bentuk dengan masih mengikuti pakem-pakem  atau landasan gerak yang sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah). (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here