myimage.id | Beksan Menak Widaninggar Boyong adalah sebuah tari menak klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang Kerajaan Madayin yang selalu mencari cara untuk membunuh Wong Agung Jayengrono. Tapi hal tersebut tidak pernah bisa terlaksana. Cerita Beksan Menak Widaninggar Boyong sebenarnya sama dengan Beksan Menak Geger Mukadam.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Tapi focus cerita dalam Beksan Menak Widaninggar Boyong ini sebenarnya adalah balas dendam adiknya Adaninggar yang bernama Widaninggar ingin membalas dendam terbunuh kakaknya di tangan Dewi Kelaswara, tapi Widaninggar malah ketemu anaknya Dewi Kelaswara yang sudah besar bernama Imam Suwangsa dan malah jatuh hati kepada Imam Suwangsa.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Artinya ketika Dewi Kelaswara mengalahkan Adaninggar sebenarnya Adaninggar ini dalam posisi jatuh cinta pada Amir Hamsyah, tapi tiba-tiba ada cerita bahwa Widaninggar itu mencari musuhnya ingin membalas dendam, karena tahu bahwa Adaninggar terbunuh oleh orang-orang dari Kerajaan Koparman. Kebetulan Kelaswara itu istrinya Wong Agung Jayengrana.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Berita terakhir yang diterima Widaninggar mengatakan bahwa Dewi Kelaswara sudah meninggal, tapi karena dibantu patihnya Kustak dari Kerajaan Madayin yang selalu mencari bantuan itu, bahwa sekarang ini putra Dewi Kelaswara sudah besar dengan nama Imam Suwongso. Maka Imam Suwongso adalah orang yang cocok sebagai balas dendamnya Widaninggar.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Akhirnya Imam Suwongso dan Adaninggar bertemu dan bertempur, tapi kakaknya Imam Suwongso anaknya dari Dewi Isworo Ismoyowati dari kerajaan Gajrah (Kajiman) yang bernama Kuroisin justru membantu Widaninggar, karena dalam hatinya dia tahu bahwa Widaninggar ini calon istrinya Imam Suwongso. Walaupun dalam keadaan perang keduanya akhirnya diberitahu permasalahan tersebut, sehingga pertempuran tersebut dapat diredakan dan keduanya menjadi pasangan suami istri.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Tarian ini ditarikan di Pendopo Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No 364 Panggungharjo, Sewon Bantul pada Pagelaran Wayang Menak 2018 yang pertama kali pada tanggal 8 Mei 2018 oleh Sanggar Irama Tjitra sebagai penutup pagelaran wayang menak ini.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Sanggar Irama Citra adalah sebuah sanggar tari gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1949 yang kegiatan setiap harinya di Bangsal Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY. Sanggar ini dulunya dibentuk oleh para seniman-seniman muda yang bergabung di Sanggar Tari Krido Bekso Wirama yang merupakan sanggar tertua di Yogyakarta yang lahir di luar tembok Kraton Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1918.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Sanggar Irama Citra pernah vakum agak lama lepas peristiwa pada tahun 1965 di Indonesia, tapi kemudian mulai aktip lagi pada tahun 1997 sampai sekarang. Sanggar ini sekarang lebih memprioritaskan regenerasi penari, dimana penari yang lebih muda lebih diberi kesempatan untuk tampil pentas dengan bimbingan para seniornya.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Pagelaran Wayang Menak 2018 diadakan oleh Dinas kebudayaan Daerah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diadakan selama 3 hari mulai tanggal 6 sampai 8 Mei 2018. Pagelaran ini diikuti oleh 6 Sanggar Tari klasik Gaya Yogyakarta yang sudah melegenda di Yogyakarta, antara lain Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, Yayasan Siswa Among Beksa, Perkumpulan Tari Kridha Beksa Wirama, Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa, Paguyuban Kesenian Suryo Kencono dan Irama Tjitra.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Beksan menak merupakan salah satu tari menak klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini dan beliau terjun secara langsung dalam penciptaan tarian menak ini.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Ragam gerak pada Beksan Menak Widaninggar Boyong dulunya oleh HB IX dicoba dipersonifikasi dengan wayang golek tenggul (kayu) menjadi ragam gerak tari menak gaya Yogyakarta yang tidak dipunya kota lain di Indonesia. Hanya Yogyakarta yang bisa menyajikan fragmen wayang menak. Jadi dasarnya semua dari wayang golek tenggul (kayu) yang diapresiasikan menjadi sebuah tarian yang dilakukan oleh manusia.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Ada istilah wayang menak itu ora dagel (tidak lucu) tapi nguyokake  (membuat tertawa). Ragam gerak tari menak ini ada ciri khususnya yang harus dikuasai oleh seorang penari yaitu harus menguasai teknik rubuh bareng, unjal napas dan api-api wuta (seolah seperti tidak melihat) yang mana harus menyelaraskan wiraga, wirama dan wirasa, serta berpegang teguh pada sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Busana yang digunakan dalam Beksan Menak Widaninggar Boyong semua dasarnya dari busana wayang golek tenggul (kayu) yang secara keseluruhan diadopsi sebagai busana untuk para penarinya. Busana ini merupakan personifikasi dari wayang golek kayu, mulai dari kepala, badan sampai kaki.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Riasannya juga begitu, dasarnya dari personifikasi menyerupai wayang golek tenggul (kayu) dengan beberapa modifikasi karena ini dilakukan untuk manusia.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Iringan gendhingnya dalam Beksan Menak Widaninggar Boyong, menggunakan gendhing-gendhing yang tabuhannya disebut dengan gracik, misalnya pada jejerannya Koparman menggunakan gendhing srikaton mataram.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Beksan Menak Widaninggar Boyong

1Persembahan:Sanggar Irama Tjitra
2Sutradara:Sunardi M.Pd
3Penata Tari:Herman Sinung Nugroho S.Pd
4Penata Iringan:Muclas Hidayat S.Sn
5Penata Busana:TA Kandiraras S.Pd
6Penata Rias:Drs Prijo Mustiko

 

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Sebuah motivasi yang sangat besar sekali bagi sanggar-sanggar maupun seniman-seniman Yogyakarta yang tampil dalam Pagelaran Wayang menak 2018, karena kebijaksaan dari Pemda DIY. Tanpa danya kebijaksaan ini senima-seniman maupun sanggar-sanggar ini pastinya kesulitan untuk mengadakan pagelaran ini. Ini berhubungan dengan biaya yang dikeluarkan akan terasa mahal sekali.

Beksan Menak Widaninggar Boyong, culture, tari menak

Harapan dari seniman-seniman dan sanggar-sanggar ini pagelaran wyang menak ini dapat dilakukan rutin setiap tahunnya yang juga harus diikuti dengan bentuk pagelaran seni budaya yang lainnya yang variatif seperti langen mondro wanoro dan langendrian serta wayang orang yang merupakan aset no bedawi yang merupakan harta karun terpedam. Kalau ini dilakukan pastinya akan berdampak terhadap sector pariwisata yang dapat mendatangkan waisatawan asing maupun lokal untuk datang ke Yogyakarta khususnya. Yogyakarta memang Istimeawa. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here