myimage.id | Beksan Rengganis Widaninggar adalah sebuah tarian menak dengan gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang peperangan antara Dewi Rengganis denan Dewi Adaninggar dari kerajaan Tartaipura, untuk membalaskan kematian saudaranya Dewi Adaninggar yang mati di tangan Dewi Kelaswara.

Tapi alam peperangan ini, Dewi Widaninggar harus mengakui keunggulan dan kesaktian Dewi Rengganis, sehingga dia harus takluk dan bersembah sujud di hadapan Dewi Rengganis.

Beksan Rengganis WidaninggarTarian ini ditarikan oleh sanggar tari Krido Beksa Wirama yang merupakan salah satu sanggar tari klasik gaya Yogyakarta yang pertama kali keluar dari tembok Kraton Yogyakarta. Sanggar ini didirikan oleh Gusti Pangeran Haryo Tejokusumo dengan Bendoro Pangeran Haryo Suryodiningrat.

Beksan Rengganis Widaninggar

Beliau-beliau ini adalah putra dari Hamengku Buwono VII. Sanggar ini dulunya di Ndhalem Tejokusuman. Sekarang ini sanggar ini mempunyai di 3 tempat untuk berlatih, antara lain di Ndhalem Tejokusuman, Tirtodipuro dan Pendopo Ambarukmo. Pada tahun ini sanggar ini sudah seabad umurnya karena dulu berdirinya pada tanggal 17 Agustus 1918. Alamat Sanggar Krido Bekso Wirama di jalan S Parman no 16, tepat dibelakang Ndhalem Tejokusuman.

Beksan Rengganis Widaninggar

Dalam versi drama tari, Beksan Rengganis Widaninggar ini disajikan dialog yang menggunakan bahasa Jawa Bagongan, yang merupakan modifikasi bahasa Jawa ragam madya dengan 11 kosa kata yang berbeda, seperti maniro yang berarti saya dan pakeniro yang berarti kamu. Ini semua sangat berbeda dengan bahasa Jawa yang ada dalam teks Serat Menak.

Beksan Rengganis Widaninggar

Tarian ini merupakan ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat ketika beliau melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941.

Beksan Rengganis Widaninggar

Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini, dimana gerak tariannya mengambil dari wayang golek kayu. Dari awal tarian ini diciptakan, banyak sekali penyempurnaan-penyempurnaan sehingga mencapai bentuknya yang disaksikan sekarang ini.

Beksan Rengganis Widaninggar

Untuk geraknya tarian ini mengambil gerak dasar dari wayang golek kayu tetapi memakai pakem gerak Joged Mataraman sebagai pedoman baku tari klasik gaya Yogyakarta. Geraknya juga di modifikasi yang bertitik berat pada lambung serta gerak kakinya dibuat ringan.

Beksan Rengganis Widaninggar

Sedangkan struktur polanya membentuk huruf X. Gerak tari ini juga memasukan unsur gerak Pencak Silat Sumatra Barat. Ide ini didapat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ketika menyaksikan suguhan Pecak Silat Gaya Sumatra Barat ketika berkunjung di daerah Bukit Tinggi.

Beksan Rengganis Widaninggar

Busana yang dikenakan Dewi Widaninggar, busana lengan panjang yang terbuat dari bahan beludru bersulamkan emas, celana cindhe, kain panjang rampakan, sondher (selendang) cindhe dan pad bagian kepala menggunakan untaian mote-mote warna emas.

Beksan Rengganis Widaninggar

Busana Dewi Rengganis busana lengan panjang yang terbuat dari bahan beludru bersulamkan emas dengan pelengkap lainnya menggunakan celana cindhe, kain panjang rampakan, kampuhan, cincingan atau seredan, sondher (selendang) cindhe dan asesoris jamang (hiasan kepala), sumping, klat bahu (gelang tangan) dan kalung susun tiga.

Beksan Rengganis Widaninggar

Properti yang digunakan biasanya menggunakan senjata keris dan panah, tetapi kadang juga memakai keris dan jemparing. Untuk melihat tarian ini secara utuh, biasanya kedua penari menggunakan burung garuda yang merupakan piranti lambang kegagahan pada tari klasik Yogyakarta.

Beksan Rengganis Widaninggar

Dari segi iringan gendhingnya pada tarian ini, umumnya menggunakan gamelan klasik Jawa berlaraskan pelog denan gendhing ladrang gegot yang dilanjutkan dengan ketawang broto mentul dan pada bagian ahkir dengan gendhing playon.

Beksan Rengganis Widaninggar

Beksan Rengganis Widaninggar

1Persembahan:Sanggar Krido Beksa Wirama
2Penari:1. Novi Rahmawati (Dewi Rengganis)

2. Desi Dwi Cahyaningrum (Dewi Widaninggar)

Beksan Rengganis Widaninggar

Makna tarian ini memberikan kita pelajaran hidup tentang arti pentingnya memaafkan sesama manusia. Hendaklah kita kita menghilangkan rasa dendam kepada sesama manusia. Dengan berdamai maka dunia akan tampak indah, tentram dan damai. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here