myimage.id | Beksan Turonggo Adi merupakan sebuah tari kreasi baru yang mengambarkan tentang keceriaan dan kelincahan dua kuda yang sedang bersendau gurau di padang rumput.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Tarian ini merupakan ciptaan dari . KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn pada  tahun 2018, yang ide ceritanya terinspirasi ketika mendengarkan gendhing lancaran Jaran Njongklang laras pelog patet manyuro  karya Ki Narto Sabdo.

Selain itu, beliau juga sangat intens sekali terhadap perkembangan tarian yang khusus ditarikan untuk anak-anak yang sekarang ini sangat jarang sekali ada sebuah tarian yang khusus diciptakan untuk anak-anak.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporerPenciptaan tarian khusus  anak-anak mempunyai tujuan agar mereka juga mencintai dunia tari. Dengan memasuki dunia anak-anak maka dapat dijadikan repertoar tarian anak-anak. Hal inilah yang dilakukan beliau agar anak-anak ini ikut andil dan senang dalam dunia seni budaya yang adi luhung yang ada di Indonesia ini.

 

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Beksan ini ditarikan dalam acara Sapta Karya Tari sebagai Atraksi Budaya Tari  Yogyakarta yang diadakan di POS Rertno Aji Mataram  pada hari Senin tanggal 3 September 2018 pukul 19.00 sampai selesai. Selain beksan ini beliau disini juga menampilkan  total 7 karya terbaru.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

 Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram (POSRAM) adalah sebuah sanggar tari klasik gaya Yogyakarta dan tari modern yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1984 yang didirikan oleh Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn. Sanggar tari ini mempunyai base camp di jalan Gedongkiwo MJ I/886 Yogyakarta 55142- Indonesia.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Acara ini sudah berlangsung yang ke 3 kali, dimana pada tahun 2017 dilaksanakan 2 kali yang bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY. Kali ini Atraksi Budaya Tari  Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Sebuah produktifitas yang sangat tinggi dan layak diapresiasikan oleh semua pihak, selama dua tahun terakhir beliau sudah menghasilkan 21 tarian baru dalam bentuk tari klasik gaya Yogyakarta maupun tari kreasi baru.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Ragam gerak Beksan Turonggo Adi didapat dari mengamati kehidupan kuda-kuda (observasi) dalam hal ini dibuat ragam gerak kreasi baru yang dikombinasikan dengan ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta sehingga tercipta sebuah tarian yang utuh tentang kehidupan kuda (turonggo) dengan segala keceriaan dan kelincahannya.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Busana yang dikenakan juga merupakan kombinasi busana tari kreasi baru dengan busana tari klasik gaya Yogyakarta, dimana pada bagian kepala atau irah-irahannya dibuat menyerupai kepala kuda dengan kedua telinganya. Pada bagian kastum bawahnya di buat sedkit kreasi dan simple yang tujuannya bila anak-anak ini ketika menari mereka tidak merasa terganggu, dengan warna putih kombinasi warna hitam dan emas.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Busana ini sebenarnya juga dipersiapan untuk acara Festival Langendrian nantinya, yang biasanya digelar tiap tahunnya di AK Seni dan Budaya Yogyakarta, dimana POSRAM selalu melibatkan anak-anak ini untuk tampil dalam semua kegiatan yang diadakannya.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Iringan gendhingnya, dalam tarian ini menggunakan gendhing lancaran Jaran Njongklang laras pelog patet manyuro karya Ki Narto Sabdo dengan iringan musik gamelan klasik Jawa secara live show.

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Beksan Turonggo Adi

1Persembahan:Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram (POSRAM)
2Kareografer:Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn.
3Penata Iringan:Ki Narto Sabdo
4Penari:
  1. Tya

2. Zahra

Beksan Turonggo Adi, tari kontemporer

Dengan menciptakan dan melibatkan anak-anak-anak dalam dunia tari, maka kita telah memberi ruang anak-anak ini untuk ikut merasakan dunianya dalam seni dan budaya versi mereka yang penuh dengan keceriaan dan kesenangan yang dapat merangsang daya kreatif dan kecintaan mereka terhadap dunia tari di era milineal ini. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here