bongpay gambiran

[metaslider id=3244]

myimage.id | Bongpay Gambiran adalah sentra pembuatan batu ukir untuk makam china atau sering disebut bong. Bong atau pemakaman orang-orang keturunan Tionghoa (China) dikenal karena ciri-cirinya yang khas yaitu nisan berupa batu ukir. Di kota-kota besar pulau Jawa, umumnya ada area khusus pemakaman ini. Berkembangnya kerajinan Bongpay di Indonesia, dimulai dari kota Semarang. Tepatnya di persimpangan Jalan Gambiran dan Gang Cilik, kawasan pecinan. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan itu  menjadi sentra perdagangan gambir dan pusat kerajinan Bongpay. Saat ini, pedagang gambir sudah tidak ada lagi dan tinggal perajin Bongpay yang masih bertahan.

Sebagai tanda kesuksesan di masa hidupnya, orang China membuat tanda di makamnya dengan kerajinan batu ukir. Seiring kemajuan jaman dan makin sempitnya lahan, kerajinan Bongpay pun mulai punah.bongpay gambiran

Bongpay dalam tradisi etnis Tionghoa, merupakan lambang bakti dan penghormatan keluarga terhadap leluhurnya. Dan Bongpay ini menjadi bagian penting dalam prosesi pemakaman warga etnis Tionghoa.  Bentuk dan susunan Bongpay yang paling sederhana satuan hingga lengkap 12 rangkaian meliputi bongpay, tulien, sayap, meja, bangku, pekatu dan tok dow.

Bongpay Gambiran, Turun Temurun

Menurut So Geng Swie, perajin Bongpay di Gambiran seluruhnya bermoyang dari daerah Hwien An, Hokkian, Daratan China. Hwie An merupakan wilayah  berbukit batu dan menjadi salah satu sentra kerajinan Bongpay. Kakek (engkong) So Geng Swie, So Tjay adalah orang pertama yang memulai bisnis bong pay ini. Keahliannya kemudian turun ke anaknya So Ing Hwee, dan turun lagi ke So Geng Swie, yang kini telah berusia 75 tahun. So Geng Swie yang kini hidup sendiri, hanya menunggu pesanan Bongpay dan sudah tidak lagi mengerjakan ukir batu. Perajin dari jalur So Tjay ini tidak ada penerusnya.

bongpay gambiran
So Geng Swie, saat difoto tahun 2012, usia 75 tahun

Di kawasan Bongpay Gambiran, dulunya terdapat lima perajin selain So Tjay, yaitu So Bie Sing, So Ken Ing, So Eng Tjong, Tjen Han Swie, dan Tan Geng Git. Namun kini hanya tinggal Tan Hai Ping, keturunan dari Tan Geng Git, yang melestarikan usaha keluarganya.

Pada awalnya batu yang diukir untuk bongpay didatangkan dari China, karena berbagai keunggulannya yaitu mudah dipahat, tidak mudah pecah, dan berpori-pori kecil sehingga tidak mudah berlumut. Namun karena biaya-biaya yang semakin mahal, maka banyak perajin mulai beralih ke batu lokal. Apalagi Indonesia kaya akan sumber alam, dan batu-batunya potensial untuk dipahat. Daerah penghasil batu yang baik diantaranya Purwakarta, Salatiga, Makassar, dan Godean (Yogyakarta). ”Sampai saat ini batu dari Godean, yang paling bisa memenuhi syarat untuk pembuatan bong pay. Batunya cukup luwes, halus dan warnanya putih,” papar So Geng Swie.

Satu-satunya perajin yang masih bertahan membuat Bongpay Gambiran adalah Tan Hai Ping yang bernama Indonesia Pianto Sutanto. Merk dagang yang dipakai adalah Hok Tjoan Hoo dan sudah berlangsung sejak tahun 1911. Karya pertama Hok Tjoan Hoo adalah tiga buah batu prasasti yang kini berada di Klenteng Gang Lombok. Pianto bersama lima pekerja yang juga turun temurun, setiap hari masih mengerjakan pesanan batu ukir, meski sekarang pesanan didominasi batu Granit. “Keahlian memahat batu ini, mirip memahat kayu, hanya bahannya lebih keras. Ketelitian dan kesabaran untuk menghasilkan bentuk ukiran yang sesuai dikehendaki pemesan, merupakan kunci berlangsungnya usaha kerajinan Bong Pay,” ungkap Pianto.

Bongpay Gambiran dulu terkenal hingga luar Pulau Jawa. Selain lokal Pulau Jawa, daerah Sumatera, Kalimantan dan Bali adalah daerah yang paling banyak pemesannya. Ada tujuh tahap untuk mengolah bahan batu gunung menjadi Bongpay. Dimulai dari mengukur, membuat mal atau sketsa, memahat dan mengukir, menghaluskan, proses finishing dan terakhir memasangnya. Seluruhnya bisa memakan waktu tiga minggu tergantung besar kecil dan tingkat kesulitannya.

Sentra kerajinan Bongpay di Jl Gambiran Semarang memang tidak terlihat langsung dari jalan utama Gang Baru, namun jajaran batu-batu besar beraneka rupa menjadi tanda kawasan ini. Berbagai ukuran batu Nisan, Bong Ping, Patung Kim Tong (untuk jenazah laki-laki), Patung Giok Lie (untuk jenazah perempuan), Patung Say (singa), juga patung dewa diletakkan di depan rumah bernomor 25 dan 27.

Perajin Bongpay di luar Semarang, yang cukup dikenal adalah dari Salatiga dan Surabaya. Kalo dirunut asal muasalnya masih keturunan perajin dari Semarang atau pernah bekerja di sentra Bongpay Gambiran.

Mempertahankan tradisi

Suara denting pahat bertemu batu, yang dulu memeriahkan kawasan ini, sudah berkurang banyak. Sesekali mesin gerinda menghaluskan batu masih terdengar. Semenjak krisis moneter 1998, pemesan batu nisan Bongpay menyusut drastis. Harga bahan baku yang melonjak, tergusurnya kawasan pekuburan China menjadi perumahan, banyaknya orang Tionghoa yang memilih jenazahnya diperabukan, mulai melunturnya budaya etnisbongpay gambiran, turut menambah daftar alasan mengapa keturunan Tionghoa tidak lagi menggunakan Bongpay.

Namun Pianto dan perajin lainnya tetap akan meneruskan usaha keluarga ini. Gambar-gambar yang dipakai selain masih mempertahankan motif-motif gambar bunga, ular, naga, dan patung dewa, juga dimodifikasi dengan keyakinan pemesan. Ada petikan ayat dari Kitab Suci, malaikat bersayap, juga  figur-figur Kristiani seperti Yesus dan Bunda Maria.

Hidup, jodoh, dan matinya manusia, adalah hal yang tidak bisa dipastikan. Ajal bagi manusia adalah hal yang kita tidak tahu kapan datangnya, namun dari ketidakpastian ini ada orang yang memilih berprofesi sebagai perajin batu ukir untuk makam China. Nasib kerajinan Bongpay, seperti menunggu mati itu sendiri, masih belum pasti. (Rahman Hakim)

Catatan : Liputan Foto artikel ini dilakukan pada tahun 2012. Informasi artikel dari berbagai sumber.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here