myimage.id | Bagi yang tinggal di Semarang lama, mungkin tidak asing dengan keberadaan Bus Perak. Seringkali bila ada Lelayu atau dukacita, armada bus ini sudah menanti di ujung jalan dekat rumah duka, siap mengantar para pelayat memberi penghormatan terakhir ke pemakaman. Pergi pulang, baik dalam maupun luar kota. Tapi, apakah sang pemilik Perusahaan Otobus (PO) Bus ini memang bercita-cita untuk mengkhususkan pada lelayu/duka cita?

Salah satu bus tua peninggalan orang tua, teronggok di halaman belakang…

Berawal dari tahun 1949, ayahanda Pak Hendro menyediakan jasa angkutan barang yang waktu itu dilayani dengan 1 buah armada truk. Seiring berjalannya waktu, pada 1960 beralih ke armada angkutan penumpang menjadi PO Bus Perak. Saat itu menjalani trayek Semarang-Solo-Wonogiri dan Semarang-Gombong hingga 80an, dan bisa dibilang PO Perak adalah PO lama yang masih bertahan hingga saat ini. Sekarang memang sudah tidak lagi menjalani trayek umum, hanya mengandalkan pesanan carteran dan lelayu.

Suasana di depan garasi PO Perak, Jl. Kompol Maksum 223 Semarang.

Bertahan sekian puluh tahun jangan dibayangkan banyaknya jumlah armada saat ini, karena jangankan untuk berkembang, masih bisa bertahan saja sudah sangat disyukuri. Saat ini ada 3 armada yang masih aktif melayani masyarakat. “Secara bisnis, kami lebih mengutamakan untuk sosial, dan saat ini bertahan karena melihat kesetiaan karyawan yang bekerja untuk PO ini,” tutur Pak Hendro, generasi 2 PO Perak.

Pak Lakino, teknisi yang sudah lebih 40 tahun mengabdi di PO Perak

Menempati areal di dalam kota Semarang, tepatnya di Jl. Kompol Maksum 223 (kanan jalan sebelum SMA Sedes) ada yang unik dari isi garasi PO Bus Perak ini. Kalau dibilang hartakarun, mungkin saja karena ada sebuah Bus yang sudah tidak pernah dipake. Dibilang rongsokan karena tertutup oleh onderdil bus dan kendaraan lain. Ya… ada satu unit Superior Coach yang masih orisinil. “Terakhir dijalankan 1980an, dan saat itu jos banget”, tutur Pak Lakino, teknisi yang sudah 40 tahun di PO Bus Perak. Bus ini teronggok dalam sepinya garasi, sudah tidak pernah dijalankan hanya sesekali mesinnyadihidupkan. Interior dalamnya terhitung masih bagus karena tidak pernah diduduki penumpang. Jarak yang sudah ditempuh hanya 8355 km, sangat kecil untuk hitungan bus tua. Bus warisan orangtua Pak Hendro ini memang tidak diapa-apakan.

bus perak
Bus Superior Coach, ‘harta karun’ yang tertimbun besi tua, masih 8 ribu kilometer jalannya.

Selain itu masih beberapa bangkai bus dan ada 3 truk Ford Canada sisa perang kemerdekaan yang rencananya akan ‘dibangun’ tapi berakhir menjadi besi tua dan hancur dimakan karat. Oh ya, truk pertama yang pernah dipake juga masih ada. Truk “Studebaker” yang bentuknya klasik banget. Tapi ya jangan kaget, body dan mesinnya sudah terpisah-pisah.

Nampak depan Superior Coach “FARGO”

Perubahan dan perkembangan jaman beserta teknologi yang menyertainya adalah sesuatu yang tidak bisa dilawan. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan bijaksana menghadapinya. Tetap kukuh tanpa mau berubah, mengikutinya atau menyesuaikannya dengan kondisi yang sudah ada? Apakah usaha PO Perak akan masih bisa menyusuri jalan-jalan di kota Semarang atau akan berhenti suatu saat nanti? Paling tidak coba lihat foto-foto di album ini untuk refleksi bagi kita semua.

4 COMMENTS

    • Tahun 60-70an, pernah melayani trayek Semarang Solo Wonogiri dan Semarang Gombong… waktu itu juga ada PO Sendiko, PO Bromo, PO Semeru. Kalau dalam kota untuk bus kota besar kan oleh Damri, sekarang ada juga BRT, kemudian diremajakan dengan bus-bus tanggung.

  1. mantap om infonya. kalau boleh tau garasi perak jaya selain di jl dr cipto dimana ya? mau lihat bus perak yg sempat dipakai shooting film

    • garasi hanya di jl dr cipto… tetapi memang ada koleksi bis dan truk lainnya di daerah jl. gajah… belum sempat aku liput…
      untuk bis yang dipakai shooting Gie, kayaknya sudah dibongkar deh… hehe….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here