myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Tidak ada kata terlambat, itu sebuah ungkapan yang sangat cocok dengan perjalanan berkeseniannya. Walaupun berasal dari lingkungan keluarga seni tari Kraton Yogyakarta, beliau sepertinya tidak ada niatan untuk belajar tari, tetapi setelah ditangan Sunaryo (dosen ISI Yogyakarta) yang masih pamannya, beliau ketika itu masih SD kelas 5 diajari tari pertama kali dengan tari Kuda Lumping karya Bagong Kussudirahardjo, Dr. Kuswarsantyo M. Hum atau lebih dikenal dengan Doktor Jhatilan di kalangan teman maupun koleganya baru mau belajar tari. Sepertinya sudah titisan alam kalau dihubungkan dengan nama  besar yang disandang beliau sekarang ini.Doktor JhatilanKetika diajari oleh ayahnya (Alm. KRT Soenartomo Tjondroradono) tari klasik gaya Yogyakarta, beliau merasa tidak tertarik karena kesannya pelan dan lemah lembut. Tetapi alam mengatakan lain, baru kemudian lulus SD tahun 1977 beliau mau masuk di Ndalem Pujokusuman untuk belajar dasar tari klasik gaya Yogyakarta yang waktu itu bernama Pamulangan Beksa Ngayogyakarta (PBN) dengan guru tari klasiknya Alm. Romo Sas (KRT. Sasmintodipuro).Doktor JhatilanDr. Kuswarsantyo M. Hum adalah angkatan kedua masuk di PBN, yang waktu itu pengajar disana mulai dari Alm. Romo Sutombo yang mengajar tari gagah, tari alusannya dipegang oleh Alm. KRT Soenartomo Tjondroradono sedangkan Alm. Romo Sas (KRT. Sasmintodipuro) spesialis di putri.Doktor JhatilanDalam hidupnya Doktor Jhatilan memang memegang teguh filosofi Joged Mataraman, dengan sawiji (konsentrasi), greget (penuh semangat), sengguh (percaya diri), ora mingkuh (pantang menyerah). Ini terbukti manakala beliau menerapkan keseimbangan hidupnya dengan istilah “3K”, Kampung, Kampus dan Kraton, dan ini semua terbukti sampai sekarang ini.Doktor JhatilanJiwa seninya terus bergejolak, setelah belajar klasik, beliau ingin menambah ilmu tarinya dengan belajar di Padepokan Bagong Kussudirahadjo pada tahun 1985. Dari sini beliau menggabungkan disiplin tari klasik gaya Yogyakarta dengan disiplin tari modern ala Bagong Kusudirahardjo yang banyak mengajarkan tentang ketegasan sikap dalam manajemen waktu dalam berlatih, disiplin ala militer dan seniman benar-benar diterapkan di dalam Padepokan ini.Doktor JhatilanBeberapa kali menjuarai lomba tari, diantaranya juara I Hardiknas se DIY Tari Klono Alus tingkat SLTP tahun 1981/1982, kemudian tahun 1983/1984 tari yang sama juara I Hardiknas se DIY Tari Klono Alus tingkat SMA. Pada tahun 1985 juara l  Tari Klono Topeng Gagah se Jawa Bali di pendopo STSI Surakarta, tahun 1988 juara l sekaligus penari terbaik (sebagai penari Wanara/anilo) dalam pekan Seni Mahasiswa Nasional di STSI Surakarta ( Sekarang ISI Solo).Doktor JhatilanKalau flash back, dulu awalannya belajar tari Kuda Lumping, sekarang menjadi Doktor Jhatilan, hal ini seperti sudah suratan alam, sejarahnya ketika mengajukan proposal disertasi doktoralnya oleh Prof. Dr. R.M. Soedarsono ditolak, waktu itu beliau mengajukan tentang filosofi tari Joged Mataraman, malah oleh Prof. Dr. R.M. Soedarsono menunjuk materi lain yaitu Jhatilan.Doktor JhatilanMaka seketika itu beliau berbenah dan malah menjadi senang dengan Jhatilan sampai sekarang ini. Hampir 3 tahun berkeliling DIY melihat format sajian Jhatilan termasuk didalam pengembangan dan nilai-nilai historis serta filosofinya dari ritual sampai modern.Doktor JhatilanSelain terkenal sebagai Doktor Jhatilan, beliau juga terkenal sebagai tokoh Umarmoyo didalam tari klasik gaya Yogyakarta, sejarahnya pada 1986 Alm. Sri Sultan HB IX memiliki gagasan untuk membuat Pembakuan Gerak Beksa Menak, beliau menunjuk Prof. Dr. R.M. Soedarsono menjadi ketua timnya. Maka gagasan itu segera direspon dengan mengadakan workshop yang melibatkan tokoh-tokoh tari se Yogyakarta, diantaranya KRT. Sasmintodipuro, R.M. Bagong K, R.M. Dinusatomo, KRT. Condroradono, R.M. Ywanjono, Ida Manu Trenggana dan Bambang Pujasworo. Dalam workshop itulah Doktor Jhatilan berperan sebagai tokoh Umarmoyo. Maka sejak itulah tokoh dan karakter Umarmoyo seolah menjadi satu ke dalam diri beliau sampai sekarang ini.Doktor JhatilanDari hasil workshop ini kemudian ditampilkan di TMII Jakarta pada tahun 1987 untuk pertama kalinya. Setelah itu pada tahun 1990 ditampilkan kembali dalam lawatan Kraton Yogyakarta ke USA dalam Misi Kebudayaan Indonesia di LA dan lawatan terakhir yang diikuti beliau pada tahun 2018 di New York yang mana semuanya itu Dr. Kuswarsantyo M. Hum berperan sebagai Umarmayo. Dengan predikat ini, KPH Notonegoro pernah menanggapi untuk membuat regenerasi Umarmoyo dengan guru KRT Condrowaseso (Doktor Jhatilan), dan itu ditanggapi bagus oleh beliau.Doktor JhatilanKarena mempunyai dua kompetensi keahlian yakni Tari Klasik gaya Yogyakarta dan Jathilan, semua ini malah menjadi nilai plus bagi Doktor Jhatilan. Ini terbukti dengan beberapa karya beliau mengenai idiom Jhatilan yang mana spirit klasik dimasukan, terlihat dalam Tari Srimpen Turonggo Manis dan Lawung Kumpeni. Sebuah karya yang unik yang sebelumnya belum pernah ada.Doktor JhatilanBeberapa statement teman dan kerabat sesama seniman tari mengenai kiprahnya di dunia tari khususnya Yogyakarta, diantaranya Untung Muldjono (Sanggar tari Kembang Sore Indonesia) mengatakan, “ Hidupnya dilingkungan Kraton dan putranya Empu Tari. Bingkainya tradisi klasik gaya Yogyakarta sejak dari mahasiswa dan uniknya doktoralnya Jhatilan. Sangat konsisten dibidangnya dan mampu menggabungkan antara Jhatilan dengan tari klasik gaya Yogyakarta baik dalam Filosofi maupun spiritnya”.Doktor JhatilanLain lagi dengan KMT Suryowaseso (Pak Supriyanto) yang sempat menjadi partner dalam tari Umarmoyo Umarmadi mengatakan, “Dr. Kuswarsantyo M. Hum adalah dosen yang sangat ulet, rajin dibidang akademis dan berkesenian. Banyak karyanya yang muncul di masyarakat. Sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta  beliau selalu bertanggung jawab dalam setiap pementasan di dalam Kraton”.Doktor JhatilanSedangkan komentar unik dari koleganya, Drs. Setyastuti M.Sn (Dosen ISI Yogyakarta) yang mengatakan, “Dr. Kuswarsantyo M. Hum lebih familiar dipanggil Doktor Jathilan, beliau mengabdi pada ruang yang berhubungan dengan mikro dan makrokosmos yang tentunya masing masing mengandung daya kontemplasi yang hirarkinya nyata dan saling berhubungan dalam  mengejawantahkan. Masing masing dapat mengunggah ekstase dalam titik tertentu, seni rakyat adalah sebagai bentuk kebahagiaan yang tetap ada hirarkinya dan Jathilan adalah bentuk keperkasaan yg selalu kontinyu dan mengalir di dalam urat nadinya”.Doktor JhatilanDr. Kuswarsantyo M. Hum lahir di Yogyakarta, 4 September 1965, pertama kali masuk Kraton Yogyakarta tahun 1995. Waktu itu masuk di Abdi Dalem Keprajan (berdasarkan SK terakir pangkat di PNS), dengan gelar Raden Wedono dengan nama Condrowaseso, kemudian tahun 2000 liyer (alih fungsi) ke abdi Dalem Poenokawan, dengan pangkat Raden Wedana. Seiring berjalannya waktu beliau pada tahun 2017, menduduki pangkat sebagai Kanjeng Raden Tumenggung ( Bupati Sepuh) sampai sekarang, sedangkan di UNY per Januari 2020 menjadi Kepala Pusat Study Budaya.Doktor JhatilanTerkait dengan Bale Seni Condroradono yang didirikan Kuswarsantyo, Kusminari dan Dadang Juliantara kakaknya bertujuan utk mengangkat spirit berkesenian Alm. KRT Soenartomo Tjondroradono. Oleh karena nama Almarhum diabadikan sebagai nama Bale Seni yang diresmikan Sri Sultan HB X pada tanggal 18 okt 2009. Keterkaitan emosional HB X yang ketika itu masih bernama KGPH. H. Mangkubumi, tatkala akan membawakan tokoh Bathara Guru di Kepatihan 1985, KGPH H. Mangkubumi dilatih Alm. KRT Soenartomo Tjondroradono. Itulah memori yg membuat Ngarsa Dalem tak terlupakan.Doktor JhatilanKembali lagi ketika menjadi tokoh Umarmayo, Dokter Jhatilan mengalami pergantian pasangan Umarmadi sebanyak 4 kali, pertama mulai dari Alm. Harto Gentong (Siswo Among Bekso), walaupun orangnya lebih tua dibandingkan beliau, tetapi sangat impressive dan mampu mengimbangi, kedua dengan Pak Supriyanto (KMT Suryowaseso), ketiga dengan Pak Dodok dan terakhir dengan wawan penari Setamaya.Doktor JhatilanDoktor Jhatilan juga berkarya di Kampung dengan membuat Ketoprak Wayang yang penarinya melibatkan aparat setempat, mulai Camat, Kapolsek, Koramil, semua ini digarap sendiri. Beberapa karya beliau yang melegenda diantaranya Opera Jemblung (2014) yang memadukan unsur kecak dengan gaya Yogya Wondrowanoro dimana dialognya memakai tembang. Semua ini terinspirasi dari Mas Pardiman, hanya dengan mulut saja beliau bisa mengekspresikan macam-macam yang pertama kali ditampilkan di Auckland  New Zealand, kemudin Tari Jhatilan Mangkubumi (2018) dan Tari Turonggo Manis (2019).Doktor Jhatilan“Jhatilan adalah sebuah seni kontekstual dan multi fungsi sedangkan Klasik adalah karya yang monumental yang memiliki muatan dan edukasi yang sangat luar biasa”, ujar Doktor Jhatilan (Dr. Kuswarsantyo M. Hum), disela-sela waktu ketika diwawancarai. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here