myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Salam hangat, sehat dan sejahtera. Sebuah cerita konflik antara Pandawa dan Kurawa yang dikenal masyarakat dunia dengan cerita Mahabarata, banyak digunakan sebagai inspirasi seniman-seniman dunia dalam membuat karyanya. Mahabarata tak lekang oleh waktu, selalu ada di hati siapa saja. Durgo Ruwat adalah salah satunya, menceritakan tentang sebuah lakon dalam symbol kehidupan manusia yang sedang labil dan rapuh.Durgo Ruwat, classic danceSifat baik yang ada di dalam diri manusia kadang mudah berubah manakala kita sedang dalam kondisi kecewa, sakit hati, marah ataupun mengalami ketidakadilan didalam di dunia ini baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.Durgo Ruwat, classic danceDisaat kemarahan dan kejahatan mulai merasuk ke sanubari  hati manusia, kemudian tumbuh menyebar menjadi sebuah kekacauan dan penderitaan, semua itu akan mengakibatkan kerugian di dalam diri maupun lingkungan kehidupan manusia.Durgo Ruwat, classic danceDengan keadaan seperti ini manusia diharapkan saling waspada terhadap segala bentuk kejahatan yang mempengaruhi kehidupannya. Hanya manusia yang berhati bersih yang akan mendapat petunjuk dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.Durgo Ruwat, classic danceUntuk melaksanakan ini semua manusia perlu “meruwat” segala kejahatan yang ada didunia ini, sehingga segala yang jahat, bahkan yang paling gelap pun menjadi baik dan terang yang semua itu diharapakan memberikan kehidupan yang baik di dunia ini.Durgo Ruwat, classic danceLakon Durgo Ruwat ditampilkan oleh Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram pada tanggal 21 Juni dalam acara Pagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta 2019 di Pendopo Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No. 364 Sewon, Bantul, DIY mulai pukul 19.30 sampai selesai.Durgo Ruwat, classic dancePagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta 2019 pada tahun ini sudah memasuki tahun ke 4 dan Dinas Kebudayaan DIY senantiasa berupaya memberikan ruang kepada potensi seni dan lembaga seni klasik sebagai wujud aktualisasi pengelolaan seni budaya sebagai pelaku seni serta lembaga seni budaya ikut mengambil peran dalam menciptakan ketahanan berbudaya dan berbangsa.Durgo Ruwat, classic dancePusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram (POSRAM) adalah sebuah sanggar tari klasik gaya Yogyakarta dan tari modern yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1984 yang didirikan oleh Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn. Sanggar tari ini mempunyai base camp di jalan Gedongkiwo MJ I/886 Yogyakarta 55142- Indonesia.Durgo Ruwat, classic danceKomposisi dalam Lakon Durga Ruwat ini ada beberapa yang menggambarkan tentang keseimbangan didalam kehidupan manusia, dimana ada sisi antagonis dan protagonist, seperti dalam Wayang Orang Mataraman yang menjadi salah satu acuannya, yang pada akhirnya protagonislah yang akan memenangkan konflik yang terjadi.Durgo Ruwat, classic danceDurgo ruwat sepertinya memberikan kita gambaran tentang situasi kita sekarang ini, dimana pada jaman sekarang sering sekali mucul berita-berita hoax di masyarakat dan sifatnya berita itu jahat. Disinilah kita dituntut untuk lebih bijaksana dalam menanggapi berita seperti ini agar kita tidak terjebak dalam berita jahat, dan mengharapkan mujizat yang bisa meruwat ini menjadi sebuah kebaikan.Durgo Ruwat, classic dance“Kali ini Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram sebelum melakonkan Durgo Ruwat, mengadakan sugengan ruwatan berupa sesaji wajib buat ruwatan. Secara khusus juga membuat sesaji buat Bathara Guru/Siwa. Dulu di dalam Kraton, kalau ada tokoh Bahtara Guru maka harus diadakan sesaji khusus, dan semua penari tidak boleh dirias sebelum pemegang peran Bathara Guru ini dirias”, ujar Dra. R.Ay Mary Condronegoro (pemerhati batik dan busana adat gaya Yogyakarta).Durgo Ruwat, classic danceGerak dalam Wayang Orang Gagrag Yogyakarta semua geraknya menggunakan gerak tari klasik gaya Yogyakarta. Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem atau yang biasanya disebut joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah).Durgo Ruwat, classic danceBusananya pun sama, semua menggunakan busana klasik gaya Yogyakarta yang sifatnya sudah ada pakemnya. Tetapi terlihat ada sajian busana yang lain digunakan dalam lakon ini, dimana adanya beberapa lembar kain batik yang menjadi salah satu syarat utama dalam upacara ruwatan seperti motif slobog, poleng, kambil secukil, motif semen seperti terlihat yang dipakaikan oleh Sadewa kepada Durga, disamping motif ceplok, parang, dan kawung.Durgo Ruwat, classic danceDisini ada juga busana yang divariasi yang biasanya di kenakan pada peran tidak utama, seperti busana anak-anak, tapi semua itu diusahakan tidak terlalu jauh menyimpang dari busana pakemnya wayang wong.Durgo Ruwat, classic danceDurga Ruwat.

1Sutradara:Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn
2Penata Tari: Utik Wisni
3Penata Iringan:Anang Primantoro
4Penata Rias:Irene Shita Putriandewi
5Penata Busana:Dra. R.Ay Mary Condronegoro.

Durgo Ruwat, classic dance“Pagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta  membuat para seniman Yogyakarta menjadi lebih mantap dan bangga, karena semua ini berdampak kepada semua sanggar terutama Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram  yang selalu melibatkan anak-anak kecil untuk ikut menari klasik, anak-anak ini yang tadinya hanya mau menari tari kreasi baru sekarang malah berbalik mencintai dan mau menari tari klasik”, ujar Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn. (Soebijanto/reog biyan)

4 COMMENTS

    • betul ssekali, salah satu program andalan dari POSRAM selalu melibatkan anak-anak milinial agar mereka ikut dan lebih mencintai seni budaya mereka sendiri. ditangan mereka lah ini semua akan tertumpu

Leave a Reply to Soebijanto Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here