myimage.id | Hari pertama, Festival 5 Gunung ke 16 | 2017 dimulai pada pukul 04.00 wib yang menampilkan “Pagi dari Tlompak” dan pameran lukisan dari para seniman Festival Lima Gunung ini. Sedangkan acara untuk tarian dan musiknya di mulai pada pukul 19.00 wib. Walaupun acara sempat mundur tapi antusias penonton tidaklah surut untuk meramaikan acara ini. Persiapan yang sangat rapi dari panitia sangat membantu keseluruhan lancarnya acara ini. Festival 5 Gunung ke 16 |2017 di dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Acara di mulai dengan penampil pertama dari Komunitas Gayam 16 yang bermarkas di Mantri Gawen no 19 Yokyakarta yang menampilkan permainan musik dan lagu, perpaduan antara tradisional (gamelan) dengan alat music modern. Dan yang istimewa disini semua pemainnya adalah gabungan antara seniman dari Yogyakarta dengan Negara Prancis yang sangat komitmen dengan seni dan budaya. Suatu paduan seni dan budaya yang sangat menarik sekali untuk kita nikmati. Ketika menampilkan paduan seni music ini para pemain dari Negara Prancis merasa “merinding” dengan antusias warga waktu menonton. Mereka merasa bahwa kebersamaan penduduk selaku penonton belum pernah mereka rasakan selama ini. Kebersamaan mereka yang merupakan “culture budaya Indonesia” sangat menonjol dan patut ditiru siapa saja.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Kemudian dilanjutkan dengan tarian “Gegojegan” dari teater Fadjar UMM. Inti dari tarian ini adalah menggambarkan kehidupan manusia di masyarakat yang penuh dengan keceriaan dan kebersamaan tanpa memandang status. Tarianpun di tarikan dengan gerakan-gerakan yang sederhana tapi kompak. Guyup rukun sangat terlihat pada gambaran tarian ini. Dan kastum yang mereka gunakan berwarna-warni menambah keanekaragaman warna yang di tampilkan di pagung ini.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Walaupun sudah tampil, para pemain dari Komunitas Gayam 16 Yoyakarta yang berasal dari Prancis, dari mereka tidak sungkan-sungkan untuk bergabung dengan masyarakat Dusun Gejayan ini. Dengan keterbatasan pengetahuan bahasa, mereka mampu berinteraksi dengan masyarakat desa ini. Dan lebih istimewanya masyakat dusun Gejayan merasa tidak sungkan dengan mereka. Terlihat dari obrolan yang mereka lakukan, bahkan mereka saling bercanda.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Hari pertama, Festival 5 Gunung ke 16 | 2017 di Dusun Gejayan ini terasa lebih special ketika para penduduk dusun ini tampil pada acara ini yang menampilkan tarian Soreng di mana tarian ini menceritakan di Kadipaten Jipang Panulun yang dipimpin oleh Hariyo Penangsang dan Patih Ronggo Metahun beserta para prajuritnya antara lain Soreng Rono, Soreng Rangkut dan Soreng Pati. Tarian Keprajuritan ini sangat atraktif dengan gerakan-gerakan keprajuritan. Penontonpun semakin bertambah selama acara ini berlangsung

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Acara diselinggi dengan tausiah dari Budayawan Emha Ainun Najib yang membahas tema Festival 5 Gunung yaitu “GOBLOK BARENG”. Tema ini bagi Cak Nun merupaka tema terbaik sedunia dimana tema ini menggambarkan orang desa yang iso rumongso (bisa merasa), yang berbanding terbalik dengan kebanyak orang kota lebih merasa rumongso iso (merasa bisa). Dari tausiah ini dapat disimpulkan jadilah orang yang iso rumongso, karena dengan ini tatanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat akan menjadi baik semua. Sentilan orang desa bagi pemimpin-pemimpin bangsa ini, dan semoga mereka lebih elok untuk mengatur tatanan kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017 Selama acara ini juga di meriahkan dengan para seniman lukisan yang melukis keadaan acara tauisiah ini.  Ada 5 seniman lukis yang semuanya adalah seniman 5 Gunung yang tampil di acara ini.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Semakin malam Hari pertama, Festival 5 Gunung ke 16 | 2017, semakin di banjiri penonton.  Ketika Brodut New Putra Karya tampil, suasana tambah meriah. Dengan tampilan yang bagus mereka membawakan percampuran alat music tradisional dengan modern yang di kombinasi dengan tarian yang energik. Dan lagu-lagu yang di tampilkan juga berisi tentang kelucuan di masyarakat serta kebangsaan. Tariannyapun semacam gerakan senam yang di kombinasi dengan bagusnya.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Tarian dengan tema Soreng ditampilkan lagi tapi dengan grup yang berbeda serta kareografi tarian pun berbeda pula, walaupun inti cerita masih sama. Tampil dengan kastum yang lebih atratif tarian ini sempat membuat penonton terhipnotis. Dilakukan dengan gerakan keprajuritan yang bagus serta kompak sekali.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Pada tampilan yang terakhir pada Hari pertama, Festival 5 Gunung ke 16 | 2017 adalah tarian Kuda Lumping. Ini merupakan tarian tradisional Indonesia yang menceritakan tentang sekelompok prajurit menunggang kuda, dimana kudanya di buat dari ayaman bambu yang di cat berwarna warni, di tambah kastum yang di kenakan penarinya beraneka ragam menambah eloknya tarian ini. Gerakan-gerakan para penari yang atraktif juga menambah nilai dari tarian ini. Tapi disini pemain tidak sampai kesurupan karena tarian kuda lumping ini identik dengan pemainnya kesurupan.

Festival 5 Gunung ke 16 | 2017

Antusias penonton pada Hari pertama, Festival 5 Gunung ke 16 | 2017 ini sangat besar, selain dari penduduk sekitar banyak penonton dari luar kota Surabaya, Semarang, Jakarta dan masih banyak yang lainnya, bahkan banyak juga yang datang dari luar negeri melihat acara ini dengan antusias, terlihat mereka mengabadikan momen Hari pertama, Festival 5 Gunung ke 16 | 2017 ini. Sukses selalu Festival 5 Gunung ke 16 | 2017. (Soebijanto/reog biyan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here