myimage.id | Salam Budaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan. Kata “Festival” beberapa tahun ini sering menghiasi berbagai macam sebuah acara dan sepertinya kata ini merupakan sebuah jaminan untuk sebuah pagelaran berlangsung meriah. Ya salah satunya Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018 yang merupakan sebuah ajang lomba Kuda Lumping se Jawa Tengah dan DIY dengan substansi Jhatilan atau Jaranan dimana kali ini memakai style Temanggungan.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureStyle Temanggungan memang sedikit berbeda, karena mempunyai spesisfikasi tersendiri tetapi secara visual sangat mirip dengan Jhatilan yang ada di Yogyakarta dengan Kuda Lumping, Jaranan atau Kuda Kepang yang ada di Jawa Tengah.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureSpesifikasi Kuda Lumping Temanggungan diantaranya mempunyai sifat yang lebih ekspresif dan maskulin sekali, karena geraknya yang tegas-tegas. Hal ini disebabkan karena yang membawakan tarian ini mayoritas petani tembakau yang secara fisik mereka sangat kuat sehingga spirit geraknya sangat ekspresif.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureHal ini sangat berbanding terbalik dengan Jhatilan yang ada di Yogyakarta, banyak Jhatilan yang dilakukan para pria tapi sifatnya feminism geraknya. Dengan diformat dalam sebuah festival ini, maka akan dapat terlihat persamaan dan perbedaan antara Jawa Tengah dengan Yogyakarta.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureFestival ini diselenggarakan oleh Pikatan Water Park Temanggung yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung dalam rangka HUT Temanggung yang ke 108 Tahun dan ini merupakan even regular yang kali ini diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 2 Desember 2018, dari pukul 09.00 wib sampai selesai, di Pikatan Water Park Temanggung.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureTujuan diadakan Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018 ini adalah untuk melestarikan kebudayaan, sarana hiburan bagi masyarakat serta menumbuhkan Kuda Lumping gaya Temanggungan yang mempunyai spesifikasi yang selama ini jarang dilakukan oleh komunitas.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureHal ini diungkapkan oleh Dr. Kuswarsantyo, M. Hum, ketika diundang untuk memberikan pelatihan Jhatilan. Disini ditemukan, Temanggung mempunyai gaya yang spesifik yang tidak dipunyai oleh daerah lain. Selain beliau yang diundang juga ada tokoh-tokoh Kuda Lumping yang lama turut juga, sehingga dapat memberikan acuan garapan gerak maupun busananya.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CulturePada kenyataan di lapangan memang beda, dimana sekarang ini banyak berkembang malah kastum yang bergaya Bali, sehingga yang sekarang ini malah bukan budaya Temanggung. Dengan Festival ini salah satu kriteria tampilannya tidak boleh ke Bali-Balian, tapi harus mengangkat kearifan lokal Temanggung dan Jawa Tengah umumnya.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureFestival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018 ini sudah dua kali diadakan yang mana pada tahun pertama hanya lingkup se-Kabupaten Temanggung, tetapi pada penyelenggaraan tahun ini lebih luas yaitu se-Jawa Tengah dan DIY.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CulturePeserta tahun ini ada 18 kelompok tari yang berasal dari Jawa tengah berjumlah 10 kelompok (Wonosobo, Temanggung, Semarang) dan DIY sebanyak 8 kelompok (Bantul) dan tahun ini mengangkat tema “Menggali Kearifan Budaya Lokal”. Waktu yang diberikan tiap tampil maksimal 15 menit.Festival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CulturePenilaian dalam Festival ini yang utama adalah kreatifitas 50%, harmonisasi (wiraga, wirama, wirasa) 40% dan ketepatan waktu 10 % dengan juri Dr. Slamet MD, M. Hum, Dr. Kuswarsantyo, M.Hum dan Drs Didik Nuryanto, M.SnFestival Kuda Lumping Pikatan Water Park 2018, CultureDampak terhadap masyarakat dengan Festival ini adalah masyarakat menjadi tahu bahwa daerah masing-masing itu mempunyai ciri khas Kuda Lumping, masyarakat bisa mengapreasikan kekayaan budaya lokal dan secara ekonomi, kesenian ini bisa menjadi acuan pengembangan ekonomi kreatif yang bisa menghidupi organisasi atau komunitas melalui pementasan-pementasan dengan tidak mengabaikan proses latihan dan regenerasi, ujar Dr. Kuswarsantyo, M.Hum. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here