myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Selamat pagi semua saudaraku. Salam hangat, sehat dan sejahtera. Cerita Mahabarata tidak akan ada habis dan matinya, banyak sekali ceritanya dijadikan ide dalam pembuatan karya untuk mengekspresikan jiwa para seniman di dunia ini. Salah satunya Fragmen Ciptoning yang merupakan sebuah Fragmen yang ide ceritanya diambilkan dari Mahabarata, dimana didalamnya menceritakan tentang Ciptoning (Arjuna) yang mengembara mencari  jati diri (kesempurnaan) dengan cara bertapa, dalam perjalanannya oleh  Dewa diminta untuk membunuh angkara murka yang bernama Prabu Newatakawaca.Fragmen CiptoningTarian ini di tarikan oleh gabungan penari Solo dan Yogyakarta sebagai closing di Pagelaran Tari 100 Thn S. Ngaliman Tjondropangrawit yang digelar di Pendopo SMKI (SMKN 8) Surakarta selama dua hari dari tanggal 26-27 Maret 2019 mulai pukul 19.00 wib sampai selesai, dimana hari itu bertepatan dengan HUT yang ke 16 Langen Beksan Nemlikuran.Fragmen CiptoningFragmen Ciptoning ini diciptakan oleh S. Ngaliman Tjondropangrawit pada tahun 1967. Banyak garapan tari yang diciptakan oleh beliau yang berupa fragmen maupun sendratari, seperti Burisrawa Gandrung, Joko Tarub, Panji Sekartaji dan Babad Wanamaerto.Fragmen Ciptoning“Fragmen Ciptoning yang ditarikan pada Pagelaran Tari 100 Thn S. Ngaliman Tjondropangrawit atau Pentas Beksan Nemlikuran tanggal 27 Maret 2019 sangat berkesan,  karena mengingatkan bahwa Fragmen ini pernah dipergelarkan/dipentaskan dalam rangka Konggres Nasional “Pangestu” di Pura Mangkunegaran Surakarta pada tahun 1970 an”, ujar Bambang Tri Admadja M. Sn, putra S. Ngaliman Tjondropangrawit nomer 3.Fragmen CiptoningFragmen ini digarap dengan terdiri dari beberapa adegan, dimana pada adegan (1) Diawali dengan iringan Ada-ada Slendro Songo kemudian masuk Lancaran Jangkri Genggong terlihat masuknya Prajurit raksasa dengan Mamang Murka, dilanjutkan dengan  gending Ladrang Jangkrik Genggong digarap dengan apik dengan menggunakan irama tanggung dan irama dadi.Fragmen CiptoningPada adegan (2) terlihat suasana hutan lebat dan angker dimana Ciptoning mencari tempat untuk bertapa agar mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Suasana ini oleh S. Ngaliman Tjondropangrawit sebagai koreografinya digarap  dengan motif-motif gerak  Srisig, sidangan, ebat ngancap, sampir sampur. Sedangkan Iringan gendingnya adalah Ladrang Sri Kasusra laras Slendro Pathet Songo.Fragmen CiptoningKemudian datang Dewi Supraba dan para bidadari menggoda Ciptoning yang bersemedi dengan iringan gending  dari Gangsaran 5 Slendro pindah menjadio Gangsaran 5 Laras Pelog kemudian menjadi Ladrang Playon Pelog Pathet Limo. Dalam semedi Ciptoning datanglah Resi Padya dan memberian pusaka dan menyuruh untuk menyirnakan si angkara murka Prabu Newatakacawa, iringan gending yang digunakan adalah Ketawang Pangkur Ngrenas.Fragmen CiptoningPada adegan (3) datang Mamangmurka dan prajurit raksasa yang kemudian terjadilah peperangan antara Ciptoning dengan pajurit raksasa dan Mamang Murka. Pada peperangan antara Mamang Murka dan Ciptoning datanglah Keratarupa yang secara bersamaan memanah membunuh Mamangmurka.Fragmen CiptoningHal ini menimbulkan perang antara Keratarupa dengan Ciptoning. Ciptoning kalah tidak menyadari bahwa ia berhadapan dengan seorang dewa. Kemudian Keratarupa meminta Ciptoning bersama Suprobo melawan Niwata Kawaca. Pada Adegan 3 ini, iringan gending yang digunakan Kumuda Pl Limo, Ladrang Langen Branta,   Ketawang Pangkur Ngrenas, dan Ayak – ayak Pelog.Fragmen CiptoningPada adegan (4) Newatakawaca gandrung kepada Dewi Suprobo dan ingin memperistrinya, dan ketika Dewi Suprobo datang menghampiri dan  duduk dipangkuannya,  Newatakawaca menjadi terlena terlena , ia tidak tahu saat Ciptoning datang menggantikan posisi Dewi Suprobo.Fragmen CiptoningKetika Prabu Newatakawaca membuka matanya ia kaget dan marah bahwa yang ada di depannya adalah musuh besarnya, akhirnya terjadi perang, tapi Ciptoning kalah dan ketika akan dibunuh datanglah  Dewi Suprobo meluluhkan hati Newatakawaca.Fragmen CiptoningDan sekali lagi Newatakawaca terlena oleh pesona Dewi Suprobo, maka ketika  Newatakawaca membuka mulutnya saat itulah dengan ketepatan dan kecepatan yang luar biasa Ciptoning melepaskan anak panahnya, dan matilah Newatakawaca.Fragmen CiptoningIringan gending pada adegan ini adalah Ladrang Diradameta Slendro, disambung Ketawang Gambuh dan Ketawang kinanthi sandung, disusul Gangsaran, Sampak Manyura   dan terakhir adalah Ladrang Sigra mangsah untuk pertemuan kembali Begawan Ciptoning dengan Dewi Suprobo.Fragmen CiptoningSebuah garapan Fragmen  yang menciptakan beberapa suasana, disusun secara padu dari suasana gembira (para prajurit raksasa dan Mamang Murka), suasana sepi (ketika Ciptoning di hutan mencari tempat bersemedi), suanana gandrung (jatuh cintanya Prabu Newatakawaca), suasana gaduh (perang antara Keratarupa dengan Ciptoning atau perangnya Newatakawaca dengan Ciptoning), suasana damai (ketika Ciptoning bertemu kembali dengan Dewi Suprobo).Fragmen CiptoningFragmen Ciptoning.

1Persembahan:Gabungan penari Solo dan Yogyakarta
2Penari:
  1. Prabu Newatakawaca (Kolik)
  2. Mamang Murka (Tejo Sulistyo)
  3. Dewi Suprobo (Rambat Yulianingsih)
  4. Ciptoning (Ali Marsudi)
  5. Keratarupa (Agus Prasetyo)
  6. Resi Padya (Wahyu Santoso Prabowo)
  7. Raksasa (Thimoteus Dewa Dharma Prakarsa, Adif Marhaendra, Chrisnar Bagas Pamungkas, Ashallom Daniel Doohan
  8. Widodari (Novita Sofia Iskandar, Maharani Lutvindha, Purwani Dyah Ekowati, Erma Widiastuti, Novita Eka Pertiwi, Siska Kusumaningrum)

Fragmen CiptoningSebuah garapan tari yang sangat dramatik dengan didukung oleh alunan iringan gamelan yang mendukung suasana,  sehingga  muncul perpaduan antara garapan koreografi dengan garap gending yang selaras walaupun hanya didukung oleh penyinaran tata cahaya sederhana namun pentas Fragmen Ciptoning ini terkesan harmonis selaras dan sangat menginspirasi bagi yang menyaksikan. (Soebijanto/reog biyan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here