myimage.id | Fragmen Menak Kelaswara Palakrama adalah sebuah fragmen tari yang menceritakan tentang pernikahan Dewi Kelaswara dengan Tyang Agung Jayengrana. Dewi Kelaswara adalah putri dari Kerajaan Kelan yang di pimpin oleh Prabu Kelanjajali. Kisah ini bermula ketika Tyang Agung Jayengrana menyebarkan agama yang dianutnya ke kerajaan Kelan. Merasa terancam, Prabu Kelan mengutus putrinya untuk menghadapi Tyang Agung Jayengrana.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Peperanganpun terjadi, Tyang Agung Jayengrana dengan prajurit Koparmannya dengan prajurit Kelan yang dipimpin oleh Dewi Kelaswara. Tapi pada akhirnya prajurit Koparman bisa menaklukan prajurit Kerajaan Kelan, dan Dewi Kelaswara malah akhirnya jatuh cinta dengan Tyang Agung Jayengrono.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Ketika keduanya sedang memadu kasih, Dewi Adaninggar (putri Cina) merasa cemburu, sehingga terjadilah perang antara Dewi Adaninggar dengan Dewi Kelaswara. Namun pada akhirnya Dewi Kelaswara bisa menundukan Dewi Adaninggar dengan panahnya, dan Dewi Kelaswara akhirnya bersatu lagi dengan Tyang Agung Jayengrana.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Mendengar Dewi Kelaswara menjadi kekasih Tyang Agung Jayengrana, menyulut kemarahan dari Prabu Kelanjajali. Dia mencoba kesaktian dari Tyang Agung Jayengrana, keduanya akhirnya bertempur mengadu kesaktian keduanya. Tapi pada akhirnya Prabu Kelanjajali dapat ditaklukan oleh Tyang Agung Jayengrana, dan keduanya malah kemudian bersatu sebagai tanda merestui hubungan antara Tyang Agung Jayengrana dengan Dewi Kelaswara.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Tarian ini merupakan salah satu tarian klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dimana ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini, dimana gerak tariannya mengambil dari wayang golek kayu. Dari awal tarian ini diciptakan, banyak sekali penyempurnaan-penyempurnaan sehingga mencapai bentuknya yang disaksikan sekarang ini.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Tarian ini ditarikan di Ndalem Pujokusuman pada HUT Selasa Legen ke V.  Selasa Legen  merupakan sebuah even/acara tari klasik gaya Yogyakarta yang diadakan setiap 35 hari sekali dan lebih dikenal dengan Djoged Bareng Selasa Legen yang dibuat oleh Yayasan Pamulangan Beksan Sasminta Mardawa yang awal mulainya hanya untuk ajang reuni para penarinya yang dulunya belajar menari di tempat ini (Ndalem Pujokusuman) untuk menunjukan ekspresinya lewat menari tari klasik gaya Yogyakarta. Selain itu juga sebagai peringatan hari kelahiran Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas) yang jatuh pada hari Selasa Legen (legi).

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Gerak pada Fragmen Menak Kelaswara Palakrama ini sangat spesifik, disini mencoba menirukan gerak wayang golek, dimana geraknya terkesan patah-patah, agak kaku serta kebanyakan bentuk tangannya ngruji dan tegas. Dan ada yang beda pada gerakan yang dilakukan Dewi Adaninggar (putri Cina), dimana lebih memperlihatkan gerakan dari negeri Cina (Kungfu). Tarian ini juga memasukan unsur gerak Pencak Silat Sumatra Barat. Ide ini didapat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ketika menyaksikan suguhan Pecak Silat Gaya Sumatra Barat ketika berkunjung di daerah Bukit Tinggi.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Busana yang dikenakan pada Fragmen Menak Kelaswara Palakrama ini juga mengalami perkembangan jaman, artinya tidak seperti pada busana wayang wong pada umumnya. Karena tarian ini mengambil dari Serat Menak yang berhubungan dengan napas Agama Islam yang menjadi latar belakangnya, maka seluruh penarinya menggunakan busana lengan panjang yang terbuat dari bahan beludru bersulamkan emas. Sedangkan busana pelengkap lainnya menggunakan celana cindhe, kain panjang rampakan, kampuhan, cincingan atau seredan, sondher (selendang) cindhe dan asesoris jamang (hiasan kepala) dengan lancur atau bulu, sumping, klat bahu (gelang tangan) dan kalung susun tiga. Pada Jamang ada yang khas pada tarian ini dimana terdapat puthutan/dulban yang menyerupai sorban, ada pula untaian mote-mote warna emas yang dipakai oleh penari Cina.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Riasannya mengacu pada karakter dari wayang wong, seperti Tyang Agung Jayengrana mengacu pada karakter tokoh putra halus yang luruh (Arjuna), Prabu Kelanjajali dengan karakter kinantang gagahnya seorang Raja. Sedangkan penari putri-putrinya dengan karakter luruh dan brayak. Dan ada yang spesifik dari Dewi Adaninggar (putri Cina) menggunakan riasan khusus yang mempertegas sebagai seorang putri dari Negara Cina.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Properti yang digunakan pada Fragmen Menak Kelaswara Palakrama antara lain, Dewi Kelaswara menggunakan keris dan panahan, Dewi Adaninggar menggunakan keris dan bandulan bola, Tyang Agung Jayengrana menggunakan tombak dan Prabu Kelanjajali menggunakan pedang dan perisai serta dalam fragmen ini ada burung garuda.

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama

1Persembahan:Yayasan Pamulangan Beksan Sasminta Mardawa
2Penari:
  1. Suwantoro (Kelanjajali)
  2. Suhartanto (Jayengrono)
  3. Retno Nuryastuti (Kelasworo)
  4. Isti Nurhayati (Adaninggar)
  5. Supriyanto (Burung Garuda)

 

Fragmen Menak Kelaswara Palakrama, culture, tari golek, tari menak, classic dance

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah orang yang telah berhasil mendorong terwujudnya sebuah hasil karya tari yang unik dan menjadi salah satu ikon seni dan budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Yogyakarta, yang terus dikembangkan dan dilestarikan sebagai bagian dari ragam seni budaya Indonesia yang ragamnya tidak terhingga. Ragam seni dan budaya ini dilihat dari sektor Pariwisata sebagai bagian dari daya tarik wisatawan asing maupun local untuk datang ke Indonesia , khususnya Yogyakarta. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here