myimage.id | Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa” merupakan sebuah tarian yang idenya sangat sederhana, dimana disini dipilih lakon yang ceritanya sangat popular di masyarakat.  Hal ini dilakukan agar penonton nantinya mudah dalam mencerna dan  bisa membangun apresiasinya terhadap cerita ini. Tapi yang sangat menarik  dalam tarian ini adalah format tampilan tarinya di buat beda dengan lakon Bandung Bandawasa yang lain. Pertunjukan Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa” ini sebagai penutup acara (puncak pertunjukan) pada Sewindu Bale Seni Condroradono di Ndalem Mangkubumen pada tanggal 3 November 2017.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Cara beda yang di tampilkan pada lakon Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”, dimana Jemblung disini merupakan iringan yang minimalis cuma ada gender, siter, gambang, kendang tanpa perkusi yang lain, kemudian jemblung itu seperti acapelanya Jawa yang asalnya dari daerah Banyumas. Seperti kalau di Pulau Bali itu ada Kecak yang nada dan larasnya seperti gamelan (melodinya) yang disisipi  rambangan atau uro-uro (macapat).

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Kombinasi antara gadhon, jemblung, macapat dan rambangan dimana  terakhir ada kecaknya yang diambil dari konsep kareografinya, pada pergantiaannya menggabungkan idiom-idiom pertunjukan yang ada di Pulau Jawa dan Pulau Bali, yang dipadukan menjadi satu kemasan menjadi satu pertunjukan Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa” ini, melakukan inovasi pada tataran konsep kareografi saja dimana sajiannya sudah ada atau umum di lihat dimana alur ceritanya sudah ada dulu.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Seperti keterangan diatas, hal ini disengaja supaya masyarakat bisa menikmati ceritanya tanpa berpikir dimana kemasannya yang memang dibuat beda. Karena biasanya kalau sendra tari seperti ini lagunya dari awal sampai akhir itu memakai gamelan sudah hal yang biasa. Maka disini pada akhirannya ditawarkan konsep perpaduan antara budaya Jawa dan Bali.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Yang lebih utama lagi adalah misi kenapa dipilihnya Bandung Bandawasa ini, bukan Roro Jonggrangnya? Hal ini di lakukan karena ingin menunjukan bahwa Bandung Bandawasa ini menunjukan etos kerja, kepatuhan seseorang terhadap perintah artinya siapapun yang sudah mengakui eksisistensi orang yang diakui, maka dia harus tunduk kepada perintah seperti dia mematuhi perintah Roro Joggrang yang mana Roro Jograng disini adalah orang yang dicintai dan dipercaya oleh Bandung Bandawasa, maka apapun yang diperintah Roro Joggrang, Bandung Bandawasa akan melaksanakannya.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Meskipun sebenarnya Roro Jonggrang ini sebenarnya hanya ingin membuat alasan agar tidak di boyong atau dipinang oleh Bandung Bandawasa, maka dia memerintah dibuatkan 1000 candi dalam waktu semalam. Ini adalah suatu pekerjaan yang sangat tidak mungkin.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Tapi di sini Bandung Bandawasa punya kekuatan, dimana dia tidak menolak untuk mengerjakan pembuatan 1000 candi ini, dia dibantu oleh sekelompok jin, setan atau mahluk halus yang bisa dia komunikasikan, sehingga dalam semalam suntuk bisa mewujudkan 1000 candi dan ternyata kurang satu karena rekayasa dari Roro Jonggrang yang membunyikan suara gejluk lesung dan kokok ayam ditengah malam sebelum subuh.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Karena rekayasa ini maka setan-setan, jin atau mahluk halus  yang sedang bekerja pergi, sehingga 1000 candi yang dibuat Bandung Bandawasa ini ternyata kurang 1 candi atau terlewatkan, mengetahui kejadian tersebut maka emosi Bandung Bandawasa muncul. Dengan emosi yang tidak tertahan inilah maka kita diharapkan jangan seperti Bandung Bandawasa yang mengumpat tanpa berpikir panjang dulu.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Mengumpat itu adalah pantangan bagi orang Jawa, karena ada pepetah kalau kita mengumpat dimana kebetulan disitu ada malaikat maka semua umpatan kita itu pasti kejadian. Contoh umpatan yang dilakukan oleh Bandung Bondowoso dan dilakukan dengan emosi tinggi karena pekerjaannya hanya kurang satu, dia ingin Roro Joggrang menjadi patung. Dan seketika Roro Jonggrang menjadi patung dan itu sangat disesali oleh Bandung Bandawasa pada akhirnya karena Roro Joggrang adalah orang yang sangat dicintainya.

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa”

Penata Tari: Dr. Kuswarsantyo, M. Hum
Asisten: S. Ratmoko dan Yulianto
Penata Iringan: Drs. Trushto, M. Hum
Penata Busana: Eko Purnomo
Penari: Dr. Kusnadi, M,Pd. (prabu Damaryana), Ririn Puspitasari, S.Pd. (Jonggrang). Guntur       Widyatmoko, S.S (Prabu Baka) dan Ical Yulianto, S.Pd (Bandung Bandawasa).
Penari Figuran: Gilang, ageng Branjangan, Panggung, Ade Wira, Piston, Tatas Ikhsan dan Andre.
Penari setan-setan: Bagas Dwitiya Y, Fuad, Alvin, Bintang, Syafiq dan Abror.

Inti dari pesan tarian Gadhon Jemblung “Bandung Bandawasa” adalah janganlah kita mengumpat, seperti yang dilakukan oleh Bandung Bandawasa karena kalau itu jadi sesuatu yang sebenarnya maka kita akan menyesalinya seumur hidup kita.(Soebijanto/reog biyan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here