myimage.id | Tari Beksan Wireng Bondoboyo merupakan sebuah tarian klasik Jawa yang dimiliki oleh Pura Mangkunegaran, dimana tarian ini lahir pada masa Mangkunegaran IV yang bercerita tentang keprajuritan yang gagah berani. Tarian ini ditarikan pada hari kedua pada acara Gelar Budaya Catur Sagotra ke 7, tahun 2017.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Kata Wireng menurut PM. Rono Suripto berasal dari kata wira yang artinya perwira, prajurit dan sakti, sedangkan ahkiran ing hanya berfungsi  sebagai penyangkat (kamajaya 1986 : 193-194). ini sudah  ada di kamus Jawa Kuno yang ditulis oleh PJ Zoetmulder, dimana kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya pemberani, pahlawan, prajurit yang berani (Kamajaya 1081 : 41). Kata beksan berasal dari kata baksa, babaksah,ababaksan yang berarti menari (Pakempalan Yogyataya 1923 :28). Tari Beksan Wireng berarti tarian yang bertemakan keprajuritan, perang dan kepahlawanan.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Berdirinya Kadipaten Mangkunegaran Surakarta berkaitan dengan lahirnya tarian Beksan Wireng ini. Ini merupakan perjuangan yang berat dan sangat lama dimana RM. Said beserta para pejuang yang lain melawan Belanda atau VOC sehingga perangnya ini disebut dengan perang Suksesi Tanah Jawa pada tahun 1741-1757.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Tari Beksan Wireng mengalami jaman keemasan pada masa KGPAA Mangkunegara V. Rias busana tari ini mengacu pada wayang wong dimana pada jaman itu wayang mengalami masa kejayaan. Beliau berhasil mengembangkan bentuk riasan dan busananya yang mengacu pada patung Bima di Candi Sukuh.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Kehadiran Tari Beksan Wireng di Mangkunegaran sangat banyak jumlahnya, ini di karenakan pengaruh jiwa kepahlawanan dan semangat dari para pendiri Mangkunegaran yang mempunyai prinsip Tiji Tibeh yang artinya mati siji, mati kabeh (mati satu mati semua), mukti siji, mukti kabeh (Jaya satu, jaya semua), selain itu juga terdorong hasrat untuk menampilkan eksistensinya melalui karya yang berbentuk Tari Beksan Wireng Bondoboyo.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Sumber cerita Tari Beksan Wireng  mengambil cerita dari wayang purwo, wayang madya, wayang klitik, wayang bedog, wayang rama, wayang ayudya dan wayang menak.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Pada acara ini ditampilkan Tari Beksan Wireng Bondoboyo yang ditarikan 4 orang dengan kastum prajurit membawa floret, pedang untuk bermain anggar. Unsur anggar membuat kita sadar bahwa kareografi-kareografi yang berasal dari Istana Jawa Tengah menyerap pernik-pernik keprajuritan Belanda. Tarian ini sangat menarik sekali karena adanya unsur floret Belanda tersebut.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Tari Beksan Wireng Bondoboyo termasuk salah satu tarian keprajuritan, yang dapat menggambarkan, dibandingkan dengan tiga Kraton lainnya di Jawa Tengah Pura Mangkunegaran mungkin lebih sering perang sehingga dapat disebutkan mempunyai tari keprajuritan.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Tarian ini juga memeliki tujuan agar para Pangeran kerajaan tangkas dalam ilmu keprajuritan dengan senjata atau alat perang. Dalam tarian ini semua penari menggunakan busana yang sama, gerak yang kompak serta gagah perkasa yang menggambarkan cerita keprajuritan dengan tema perang tanpa dialog.

Tari Beksan Wireng Bondoboyo

Tarian ini di tarikan oleh Samsuri, S. Kar, M.Sn, Guntur Kusumo Widigdo, S. Sn, Wijanarko, S. Sn dan Dibyo Suseno, S. Sn. Tarian ini menggunakan gending sampek atau srepeg, hanya iramanya menggunakan tempo cepat atau lambat serta menggunakan gending ladrang yang kemudian diteruskan kegending ketawang. (Soebijanto/reog biyan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here