myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Menari sejak berumur 5 tahun dan pertama kali tampil di Youth Center SMP Suroloyo Ungaran dengan tari Kuda-kuda. Ya itulah Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn atau yang lebih dikenal dengan Babe Iwan di mata para Mahasiswa ISI Yogyakarta maupun para koleganya. Berdelapan bersaudara, beliau merupakan anak terkecil (ragil), mulai tertarik menari ketika diajak kakak ke 3 nya melihat lomba tari di Kawedanan Alon-alon Ungaran. Dari sinilah semua ini dimulai. Sampai dirumah sering sekali menirukan gerak tari kuda-kuda. Melihat semua ini, orang tuanya merasa anak ini berbakat menari. Maka dipanggilkan guru menari bernama Sutrisno (Ambarawa) untuk mengajari beliau beserta 7 saudaranya di rumahnya.Babe IwanTapi ternyata yang bertahan hanya ada 3 karena kesibukan masing-masing. Dari TK menuju SD semakin berkembang dengan berganti pelatih tari (Joko Yudono dari Karangjati) dengan tarian Gatotkoco dan Cakilan. Joko Yudono waktu itu juga berlatih menari dengan Pak Rusman (Salah satu legenda Taman Sriwedari Solo), kemudian berkembang dengan tari alusan yang dilatih oleh Mas Kardjo (Anak dari Pak Cip, salah satu Maestro Ngesti Pandowo Semarang), yang juga mengenalkan motip-motip gerak tari klasik gaya Yogyakarta.Babe IwanWaktu SD, Babe Iwan sering mengikuti lomba tari (PORSENI SD) Tingkat Jawa Tengah dan sering menjadi juara dengan tari kuda-kuda, bahkan juara 2 kali berturut-turut dari tahun 1979-1980. Pada tahun 1979 ditunjuk sebagai tim tari Jawa Tengah dalam rangka Peringatan Tahun International Anak-Anak di Jakarta dengan peran Anoman dalam persembahan sendratari Ramayana.Babe IwanMomen di SMA 1 Salatiga, merupakan momen penting yang berhubungan dengan karirnya di ISI Yogyakarta. Ketika itu ada pentas seni SMA 1 Salatiga yang bekerjasama dengan ISI  Yogyakarta. Ternyata disitu tidak hanya ada tari saja, tetapi ada juga workshop dan pengetahuan tentang ISI Yogyakarta. Dari sinilah kemudian malah kecantol di ISI Yogyakarta sampai sekarang.Babe IwanKadang sesuatu yang rutinitas bila dilakukan terus pastinya akan membosankan. Hal ini pernah juga dialami oleh beliau, manakala orang tuanya mendapat job menari tanpa memberitahu beliau. Ngambek dan jenuh pas dirasakan waktu itu, sehingga hampir 2 jam lebih beliau tidak beranjak dari tempat tidurnya, padahal lokasi pertunjukan ada di Semarang.Babe IwanDisini krisis kejenuhan semua ini terjadi, beliau merasakan kehidupannya hanya menari dan menari saja. Tapi ternyata hal itu bisa diatasi beliau manakala beliau menjalankan hobbynya yang lain yang malah memberikan variasai dalam kehidupannya. Walaupun berbeda tetapi hobby ini berhubungan dengan mengerakan tubuh hanya beda versi.Babe IwanPada tahun 1978 beliau pernah menari Gatotkoco di Wisma Pandanaran Semarang, yang secara kebetulan disitu juga tampil S. Maridi. Kemudian beliau dikenalkan dengan S. Maridi. Waktu itu S. Maridi hanya berucap kepadanya “Wis le, terusno jogedmu. Kowe bakal dadi penari apik” (Nak, teruslah menari, kamu pasti akan jadi penari yang bagus). Dari perkataan inilah beliau menjadi lebih semangat dan kemudian malah di besut oleh S. Maridi.Babe IwanMenari untuk kesenangan diri sendiri (bukan ego yang disampaikan ke penonton), tapi sangat bangga manakala dapat pekerjaan menari diluar negeri. Bisa memperkenalkan seni budaya tradisi Indonesia kepada orang-orang luar Indonesia secara totalitas, selain itu ini bisa dijadikan beliau sebagai perpustakaan pertunjukannya.Babe Iwan“Ekspresi Seni di Ruang Religius” salah satu perjalanan seni dalam agama beliau. Ini pertama kali dituangkan di gereja Katolik Kota Baru di Yogyakarta. Disini beliau  ikut menata gerak dalam acara jalan salib di Gereja tersebut. Yang kemudian ini menjadi embrio atau cikal bakal tesis S2  beliau dan kemudian malah sering sekali diminta membantu dalam acara seni tari maupun drama di gereja-gereja di Yogyakarta dan Jawa Tengah.Babe Iwan“Iwan dalam berkesenian lebih banyak mengolah pengalaman batin secara spiritual secara kontinyu. Tema yang di sampaikan secara koreografis berhubungan dengan tema-tema religi yang tentunya data acuannya lebih berhubungan dengan ruang ritual dan symbol dalam dimensi untuk sebuah pemaknaan dalam paradigma sebuah seni pertunjukan tari, seperti deep structure yang lebih menonjol (isi, nilai dan makna) dalam tariannya. Namun Iwan dapat bergaul pada ruang-ruang “kebaruan” dan menikmati hal-hal tentang seni kontemporer yang tentunya dapat dikombinasikan untuk tema yang digelutinya,” ujar Dra. Setyastuti M.Sn rekan dosen di ISI Yogyakarta.Babe IwanMenjadikan landasan kuat dalam berkarya adalah kembali ke habitatnya kita sebagai manusia. Karya-karya beliau yang religius, seperti Rupa Roti sebagai simbol perjamuan terakhir Yesus Kristus beserta 12 rasulnya yang intinya adalah pewartaan kabar gembira ke seluruh dunia yang pernah ditampilkan dalam Borobudur Writer and Culture International pada tahun 2017. Yang semua ini pada puncak akademis Babe Iwan (S3) ditampilkan di Larantuka NTT dengan judul Maria Alleluya.Babe Iwan“Dalam membuat karya, selalu berkeinginan membahagiakan orang banyak. Tari merupakan penuangan ekspresi hati dengan menggerakan tubuh dengan ketradisiannya. Tradisi ini harus tumbuh dan berkembang secara kreatif dan secara organik dengan mengikuti perkembangan jaman,” ujar Babe Iwan (Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn). (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here