myimage.id | Selamat pagi semua saudaraku. Salam hangat, sehat dan sejahtera. “Konsisten “ sebuah kata-kata yang simple tapi mengandung makna yang sangat dalam di kehidupan yang selalu digunakan Sang Maestro Didik Nini Thowok menjalani kehidupan seni budayanya selama ini, hal ini terjadi karena kesenangan dan hobby yang benar-benar dinikmatinya. Semua dimulai dari keinginan tahuannya yang besar terhadap seni budaya terutama yang ada disekitarnya, tanpa mau berpikir apa-apa, mengalir begitu saja. Beliau sangat tertarik terhadap hal-hal yang belum dimengerti dan selalu ingin belajar dan belajar.Didik Nini ThowokDalam menjalani ini semua, beliau selalu bersyukur apa yang diterimanya dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. “Tak ada yang mustahil dihadapanNya”. Satu keyakinan total sehingga beliau enjoy dan tidak kuatir menjalani semuanya. Memang ini simple tapi prosesnya sangat berat dan selalu berpikir positip.Didik Nini ThowokSebuah konsep “Mbodo” ajaran dari kakeknya yang diterapkan dalam hidupnya, yang membawanya sampai sejauh ini. Diberi ilmu oleh senior bahkan yunior selalu diterimanya, dan itu semua selalu dihargainya sebagai guru dalam artian yang luas serta selalu bersilatuhrami adalah hal yang dilakukannya kepada siapapun.Didik Nini ThowokSebagian besar masyarakat tahu bahwa beliau adalah Sang Maestro Tari, tapi ternyata untuk mendapatkan itu semua beliau juga belajar dari Maestro-Maestro lainnya, diantaranya Ki Narto Sabdo (dalang kondang, pencipta gendhing-gendhing yang luar biasa), Waljinah (sinden walang kekek), Supono (pembuat topeng), Ibu Sudji (tari topeng Cirebon), Ki Narto Sabdo (karawitan, ketoprak), I Gusti Gde Raka (dari Puri Saba-Gianyar) dan masih banyak lainnya.Didik Nini ThowokDalam perjalanan karya beliau, memang intens di tari topeng dengan berbagai gayanya dan sangat luar biasa untuk menghidupkan karakter topeng tersebut. Menurutnya, ini merupakan proses alami. Ada guyonan dengan Alm. Ibu Sudji sebagai gurunya ketika gurunya berkata “kalau nanti aku (Ibu Sudji) meninggal, tari topeng akan berpindah ke Yogyakarta” dan ternyata guyonan ini menjadi kenyataan. Tari Topeng Palimanan sekarang ini generasinya memang tidak ada sehebat Ibu Sudji dan berpindah ke dirinya, dimana ada temannya yang berkata bahwa “pelet” Ibu Sudji berpindah kepadanya.Didik Nini ThowokDidik Nini Thowok ini telah meng HAKI kan karya-karyanya sebanyak 9 buah tari topengnya dan 1 buah cara membuat sanggul ala beliau, yang telah mendapatkan perhargaan dari dalam maupun luar negeri. Beliau juga pernah di undang di 38 negera mulai dari belahan benua Amerika, Eropa, Asia, Afrika dan Australia.Didik Nini ThowokAda undangan yang membuat beliau terkesan, ketika di undang di Welth Museum di Wina Austria untuk membuat sebuah pameran. Beliau diijinkan masuk ruang restorasi bawah tanah yang dokumentasinya tidak boleh di sebar di kalayak umum. Disana ternyata banyak barang-barang yang berasal dari Indonesia mulai dari caping, wayang kulit, stoples, Kano dari Irian Jaya dan masih banyak yang lainnya. Tapi yang sangat berkesan ketika bisa memegang keris yang dibuat pada jaman Majapahit dan kerisnya Pangeran Diponegoro. Luar biasa.Didik Nini ThowokBeliau juga pernah main ketoprak plesetan dengan para komedian dari Yogyakarta salah satunya Marwoto, yang ide semuanya dari Alm. Romo Ndung (panggilan) adik kandung Bagong Kussudiardjo. Standart ketoprak yang selama ini dilakukan, semua imagenya dimentahkan, selain itu juga pernah main ketoprak 3 jaman di dalam Kraton Yogyakarta, yang sempat juga waktu itu memake up wajah Alm. Romo Sas ketika mau tampil.Didik Nini ThowokBeliau juga pernah belajar Tari Bali gaya Kethoprak sewaktu di Temanggung ketika masih SMP yang dipelajari dari seorang seniman di Temanggung bernama Bpk. Soegijanto (pemain kethoprak, wayang wong, penari Jawa, pengendang serta pengajar gamelan) pada tahun 1967-1970an, yang ternyata keberadaan tari Bali gaya Ketoprak ada kaitannya dengan keberadaan Tamansiswa di Yogyakarta yang sering terjadi tukar menukar guru tari dengan Tamansiswa yang ada di Bali. Tari Bali gaya Kethoprak biasanya ditampilkan dalam pementasan Kethoprak pada waktu itu dengan menampilkan cerita yang bersumber dari ceŕita Bali seperti Leak Hantu Bali, Jayaprana dan Layonsari, Calonarang dan masih banyak yang lainya. Setelah melakukan penelitian kecil ternyata tari Bali Kethoprak muncul pertama kali di Yogyakarta oleh kelompok kethoprak di Yogyakarta dan semua itu ada kaitannya dengan guru-guru di Tamasiswa Yogyakarta. Gaya tarinya sangat mirip dengan tari Bali, bukan tari Bali yang salah tapi stylenya mirip dan mendekati gaya tari Bali yang asli. Inilah kehebatan seniman Jawa yang berusaha meniru gaya tari Bali, sehingga muncullah gaya Tari Bali gaya Kethoprak.Didik Nini ThowokBaru-baru ini Didik Nini Thowok mengajukan proposal kepada Badan Ekonomi Kreatif agar dapat bantuan untuk merehab rumahnya agar ada tempat khusus penyimpanan koleksi-koleksinya yang nantinya akan diperlihatkan kepada masyarakat, semacam museum tentang perjalananya selama ini yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi seniman-seniman lainnya dan generasi muda khususnya.Didik Nini ThowokPerjalanan beliau mulai dari work shop, pentas, interview dengan tokoh-tokoh seni budaya atau hanya sebagai penonton, semua terdokumentasi dengan bagusnya di ruang kerjanya, berupa Mini DV, CD, DVD, Hardisk dan kaset. Bahkan beliau punya rekaman acara ketoprak RRI Yogyakarta tahun 1950 an yang disiarkan selama 3 tahun setiap minggu atau seminggu sekali, sebanyak 152 jilid yang di dapat dari sutradaranya langsung, minta agar ini semua digitalkan. Ceritanya tentang Sudiroprono atau disebut Manggolo Yudo Sudiro yang aslinya cerita itu gubahan dari cerita dari negara Cina, Sie Djien Kwie.Didik Nini ThowokDari awal hobbynya melukis, kemudian dialihkan ke melukis wajah (make up) dengan lebih serius dimana beliau sempat membuat buku tentang Stage Make up, mulai dari make up fantasy, binatang, horror, komedi, efek, ras, teater (opera), cross gender. Hanya saja alat-alat make up itu semua didapat beliau dari luar negeri terutama dari USA dan kalau dari Asia hanya dari Cina dan Jepang. Kualitas yang terbaik di dunia.Didik Nini ThowokSelain itu semua, ternyata selama ini beliau menjadi kolektor barang-barang seni, baik dari Indonesia maupun luar negeri diantaranya wayang potehi. Mulai dari beberapa wayang sampai panggung 3 dimensinya komplit yang merupakan replika asli dari Cina yang merupakan pemberian dari Bapak Toni, serta sebuah Tuk Hwie warna merah (taplak sembayang) dari Ibu Bernie Liem yang dibuat tahun 1900 yang direstorasi oleh Didik Nini Thowok pada tahun 2006.Didik Nini ThowokDidik Nini Thowok diberi penghargaan Kraton Yogyakarta dengan nama Mas Supono atau Pono Wiguna, setelah menjadi salah satu team penata rias dan busana dengan tokoh Punakawan Jiweng dan Toples pada acara Pembakuan Wayang Golek Menak oleh HB IX.Didik Nini ThowokKoleksi lainnya berupa Barong dan Rangda (leak) yang keduanya merupakan symbol kebaikan (Barong) dan kejahatan (Rangda/Leak), serta  simbol keseimbangan selama masih ada dunia sebelum kiamat maka kebaikan dan kejahatan selalu ada tanpa ada yang menang dan kalah. Seniman pembuat ini semua adalah  I Made Redha yang merupakan seniman yang ahli membuat topeng dan kostum tari Bali dan pakaian adat, kualitas tinggi di Bali.Didik Nini Thowok“Salah satu hasil karya yang luar biasa dengan kualitas nomer satu, hanya kenapa kadang-kadang souvenir seperti ini jarang diperlihatkan kepada wisatawan asing maupun lokal. Karena kalau kita ingin pamer, pertontonkanlah yang nomer 1 terhadap dunia”, ujar Didik Nini Thowok.Didik Nini ThowokAda juga koleksi topeng dari berbagai negara serta miniatur mulai dari tokoh Disney, film, mobil dan sebagainya, yang jumlahnya ribuan ada di sebuah ruangan yang tertata rapi. Tapi hanya 3 yang bersertifikat yaitu ketika beliau beli Marsupilami, Asterix dan Obelix dari Paris dan Marseille di Perancis yang merupakan tokoh-tokoh kartun.Didik Nini ThowokSelain itu ada perpustakaan dengan buku-buku yang komplit mulai dari Babad Tanah Jawi, Serat Centhini 12 buku dalam bahasa Jawa yang berisi tidak hanya tentang kamasutra Indonesia, tapi berisi tentang Arsitektur, kuliner, pengobatan serta  cerita 40 hari setelah Tambang Raras menikah. Disini setiap hari Among Rogo mengajarkan Tambang Raras tentang apa itu agama Islam. Baru setelah 40 hari mereka melakukan persetubuhan sebagai suami istri.Didik Nini ThowokKoleksi yang spesial diletakan disalah satu ruangan khusus, semua ini hanya beliau saja yang memakainya, mulai dari topeng, kastum beserta asesorisnya. Topeng mulai dari yang klasik sampai modern, busananya dibeli dari dalam negeri sampai negara Cina dan rata-rata semua hand made. Dengan asesoris yang paling unik adalah kipas tangan yang beliau dapat dari Jepang, Cina, Indonesia yang kesemuanya itu memiliki karakteristik sendiri sendiri.Didik Nini ThowokAda satu busana beliau yang di buat oleh Ibu Sartiningsih dari Jawa Timur, kota Malang berupa bordiran busana Beskalan Putri yang beratnya 15 Kg. Busana ini yang bisa membuat hanya Ibu Sartiningsih dan ini sungguh luar biasa. Motipnya sangat bagus banget dan sangat langka sekali mulai dari seekor naga sampai bunga-bunga dan pemandangan. Motip-motip ini terbuat dari mote dengan segala warnanya.Didik Nini ThowokAda juga kain-kain songket yang beliau dapat dari berbagai daerah di Indonesia. Tapi ada satu yang unik yang beliau dapat dari daerah Lampung berupa hand made Sulam Usus. Sebuah hand made dari seniman Lampung yang tak ternilai harganya. Inilah kekayaan seni budaya yang sangat luar biasa disamping batik dari Solo, Pekalongan dan Yogyakarta dan masih banyak lagi lainnya dalam ruangan ini.Didik Nini ThowokInilah keistimewaan Maestro Didik Nini Thowok, selain memiliki ini semua, beliau selalu mempromosikan karya-karya seni seniman-seniman yang ada di Indonesia ketika beliau ada dimana saja, mulai dari seminar, sarasehan bahkan perform baik di dalam negeri maupun luar negeri selalu mempromosikan semuanya ini. “Semoga ini semua menjadi inspirasi bagi siapa saja, baik itu seniman maupun generasi muda untuk ikut melestarikan dan mengembangkan seni budaya Indonesia kapan pun tanpa melihat batas dan waktu”, ujar Sang Maestro. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here