myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Seniman yang berkualitas dan bermutu dapat dibuktikan dengan proses waktu. Konsistensi adalah salah satu kunci yang harus dipunyainya, spirit dan kerja keras dibutuhkan untu menhadapi segala tantangannya. Ya semua ini dapat dilihat dari usaha keras para Mahasiswa ISI Yogya yang mengelar pementasan Gelar Karya Tugas Akhir yang merupakan bagian dari pendidikan Akademik ISI Yogyakarta dengan bentuk memproduksi pengetahuan dalam bentuk tulisan (karya tulis) yang dilanjutkan dengan ujian menciptakan karya tari dan mementaskannya oleh Mahasiswa Tari Fakultas Pertunjukan ISI Yogyakarta.Gelar Karya Tugas AkhirPara mahasiswa ini harus mampu menjelaskan latar belakang, ide penciptaan tarinya, bagaimana inspirasi semua ini datang, setelah itu mereka tidak saja membuat konsep yang berkaitan dengan tata gerak tarinya (kinestetik), tetapi juga membuat tata visualnya, mulai dari ruang, musik, lighting, busana yang semua ini berkaitan dengan karyanya.Gelar Karya Tugas AkhirDari konsep ini kemudian mahasiswa harus memiliki metode untuk melaksanakan pementasan tarinya melalui explorasi, improvisasi dan menata komposisi. Pementasan durasinya pendek antara 15-20 menit, tapi dengan durasi yang pendek ini tingkat kompleksitasnya tetap terlihat “to the point”.Gelar Karya Tugas Akhir“Gelar Karya Tugas Akhir ini merupakan persyaratan untuk meraih gelar kesarjanaan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa Jurusan Tari Seni Perunjukan ISI Yogyakarta, yang pada kesempatan ini ada 4 koreografer muda yang menampilkan karyanya sebagai perwujudan hasil dari menempa ilmu di Jurusan Tari”, ujar Drs Supriyanti M. Hum, selaku Ketua Jurusan Tari dalam sambutannya.Gelar Karya Tugas AkhirDasar dari semua ini adalah Mata Kuliah Koreografer Mandiri yang dipersiapkan untuk Karya Tugas Akhir. Selain itu ada juga Mata Kuliah Koreografi Duet dan Solo, Koreografi Kelompok dan Koreografi Mandiri sehingga proses Tugas Akhir ini sebenarnya ada 2 semester.Gelar Karya Tugas Akhir

Gelar Karya Tugas AkhirWalaupun ini semua di persiapkan untuk Tugas Akhir, tidak menutup kemungkinan mereka bisa mengganti tariannya, karena sifat dari mahasiswa adalah dinamis dan ingin banyak melakukan experiment yang berkaitan dengan pengalaman hidup mereka, dan ini sangat diperkenankan oleh pihak kampus.Gelar Karya Tugas AkhirGelar Karya Tugas Akhir di selenggarakan di Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul, tepatnya pada tanggal 22 sampai 23 Desember 2019, mulai pukul 19.30 Wib sampai selesai, yang pada tahun ini megusung  tema dengan tajuk  “Catur Karsa dalam Asa”.Gelar Karya Tugas AkhirTema ini yang membuat tema adalah tim produksi, maka di Jurusan Tari ini memang mahasiswa juga didampingi maka kuliah yang penting seperti Mata Kuliah Produksi Tari yang berfungsi untuk membantu mahasiswa yang sedang tugas akhir agar pertunjukannya lancar sesuai apa yang diharapkan.Gelar Karya Tugas AkhirDasar penilaian dari Tugas akhir ini tidak hanya dari hasil karya kareografi mereka saja, tapi dinilai dari sisi lain sebelum tarian ini ditampilkan yaitu semacam konsep tari yang dibuatkan dalam bentuk tertulis atau lebih familiar dengan nama skripsi yang memuat secara keseluruhan terutama  konsep tariannya. Pada penilaian akhir, terbanyak terdapat pada bentuk karya 75% sedangkan naskah 25%.Gelar Karya Tugas AkhirKetika mahasiswa belajar koreografi sebenarnya mereka belajar untuk memecahkan masalah yang kompleks, dengan segala elemen-elemen pendukungnya, mulai dari gerak, musik, busana, lighting, iringan, penonton bahkan manajemen keuangan. Mereka harus siap menghadapi ini semua.Gelar Karya Tugas AkhirGelar Karya Tugas Akhir

1Nasri Nada Afifah:Jinemnem
2I Gusti Ngurah Krisna Gita:Ang-Ah
3Nadia Kusuma Wibawani:Turonggo Ksatria
4Widi Pramono:Rwa

Gelar Karya Tugas Akhir“Semoga para mahasiswa ini tetap berkarya terus setelah lulus dari ISI Yogyakarta, karena di masyarakat mereka akan menjumpai tantangan yang lebih besar dengan situasi yang berbeda, mulai dari persaingan yang tidak menentu sampai harus memenuhi permintaan dari klien yang berbeda dengan prinsip dari disiplin ilmu yang mereka jalani selama ini”, ujar Dr. Martinus Miroto M.F.A, salah satu dosen pembimbing pada mata kuliah ini. (Soebijanto/reog biyan)

3 COMMENTS

  1. […] Gelar Karya Tugas Akhir di selenggarakan di Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul, tepatnya pada tanggal 21 sampai 22 Desember 2019, mulai pukul 19.30 Wib sampai selesai, yang pada tahun ini mengusung  tema dengan tajuk  “Catur Karsa dalam Asa”.Widi Pramono lahir di Gunung Kidul 4 Juli 1996, merupakan alumnus SMK I Kasihan Bantul. Sangat intens di dunia seni tari yang lekat dengan ketubuhan tradisi Yogyakarta. Beberapa kali terlibat sebagai penari dengan koreografer ternama, seperti Didi Nini Thowok, Martinus Miroto, Setyastuti, Anter Asmorotejo dan Y. Subono dari tahun 2015-2017.Tarian ini sangat cocok ditarikan dalam acara festival-festival tari komtemporer, maupun acara-acara tradisi ritual yang diera sekarang jarang kita temui. Semuanya disesuaikan dengan ide gagasan karya ini yang berangkat dari cerita Panji yang disimbolkan dengan topeng yang sangat melegenda di dunia.Komposisi didalam tarian ini memberi gambaran tentang pedoman hidup yang diambil dari tokoh Pitutur Djati yang menjadi dewa utama dalam penobatan dirinya menjadi pamomong di kehidupan ini. Pitutur Djati lebih dikenal dengan di masyarakat dengan nama Penthul Bedjer.Sementara komposisi internalnya memberikan gambaran tentang kehidupan manusia adalah panggung sandiwara, semua harus di jalani oleh manusia yang di gambarkan dengan topeng. Semua manusia memakai topeng, yang menarik disini adalah dibalik topeng ternyata masih ada topeng lagi. Inilah kehidupan manusia yang memang sulit diukur dengan nalar manusia, tetapi peran sudah diatur tinggal kita menjalaninya di dunia ini.Ragam gerak dalam tarian ini banyak dihasilkan dari explorasi yang kemudian dijadikan pijakan untuk memunculkan gerak-gerakan baru, seperti melayang, membumi, berputar yang kemudian digabungkan menjadi satu. Semua gerakan ini dikembangkan dan digarap sesuai dengan kebutuhan tarian yang dinginkan (disesuaikan dengan karakter tokohnya) dengan property jaring dari kain dan tali yang diselingi dengan topeng.Untuk busananya menggunakan konsep hitam putih sesuai dengan karakter yang diinginkan yaitu Rwa (dua) dalam pengendalian tokoh dewa dan abdi (pamomong), sedangkan propertynya berupa topeng dan pada bagian kepala/irah-irahan menggunakan esensi tekes yang merupakan rambut gaya di topeng Panji.Iringan dalam tarian ini merupakan musik garapan yang menggunakan musik explorasi instrument live bedug dan gender yang keduanya dipadukan dengan musik midi. Semuanya ini berpijak pada spirit atau semangat agragris.Tari Rwa […]

  2. […] Gelar Karya Tugas Akhir di selenggarakan di Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul, tepatnya pada tanggal 21 sampai 22 Desember 2019, mulai pukul 19.30 Wib sampai selesai, yang pada tahun ini mengusung  tema dengan tajuk  “Catur Karsa dalam Asa”.Nasri Nada Afifah lahir di Jakarta, tanggal 5 Agustus 1997, sejak kecil tinggal di Kabupaten Purworejo dan sangat mencintai seni budaya Purworejo terutama tari tradisi Dolalak. Karya-karyanya banyak mengusung dengan esensi tari tradisi seperti Gaviton, Libas, Sigrak Jinemnem dan Dara Hiwang.Dalam perkembangan tarian ini mengalami berbagai perubahan atau dimodifikasi mengikuti jamannya mulai dari musik pengiring, gerak tarian maupun kastum yang digunakannya. Tarian ini mempunyai ragam gerak sesuai dengan daerah asalnya, seperti gaya Kaligesingan, Mlaranan, Bayuuripan maupun Sejiwan. Tarian ini sering di tarikan pada saat-saat tertentu saja seperti pada saat hajatan mantu, sunatan maupun syukuran hari jadi Kabupaten Purworejo yang sifatnya sebagai tari hiburan.Komposisi didalam Tari Jinemnem mengandung makna tentang kearifan generasi tua yang sangat bijaksana mau menuntun generasi muda untuk melanjutkan tradisi kerakyatan yang harus selalu dijaga sebagai bagian dari keanekaragaman seni budaya Indonesia.Gerak dalam Tari Dolalak mempunyai istilah-istilah tersendiri mulai dari gerak kaki, seperti sadeg, tanjak, hayog, sered, mancad, jinjit, kemudian gerakan tangan dengan istilah ngruji, teweg, gregem, bapangan, wolak-walik, tangkisan, gerakan badan dengan istilah ogek, entrag dan geblag, pada gerakan leher dengan istilah tolehan, lilingan, coklekan dan terakhir pada gerakan bahu dengan istilah kirig dan kedher. Yang semuanya ini di garap dan dipadukan dengan gerak pencak silat dengan pola lantai yang dinamis dan variatif.Busana yang dikenakan sudah merupakan garapan dengan esensi busana Tari Dolalak aslinya. Mulai dari kepala yang menggunakan topi pet dengan hiasan benang wol, kemudian pangkat dibahu dengan baju lengan panjang dan celana ¾ yang mana warna keseluruhan didominasi merah dan hitam.Iringan musiknya dilakukan secara live show dengan alat kendang, terbangan, bedug, kecer maupun organ, yang semua ini diselinggi syair lagu “maen-maen” yang didalamnya bercerita tentang lentera yang merupakan sebuah cahaya yang menyinari kehidupan.Tari Jinemnem […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here