myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Dalam membuat sebuah karya seni seorang seniman bisa menggunakan banyak inspirasi, salah satunya mengambil ide dari local wisdom, yang semuanya ini sebagai ciri khas yang tidak dipunyai oleh daerah lainnya. Hal ini juga dilakukan oleh Yoyok B Priyambodo dalam acara Gelar Tari Gaya Semarangan yang merupakan sebuah pagelaran tari yang menampilkan karya Yoyok B Priyambodo yang susunan tariannya bernuansa Semarangan, mulai dari gerak, busana sampai iringannya.Gelar Tari Gaya SemaranganPagelaran ini merupakan acara rutin tiap tahunnya yang pada tahun ini diselenggarakan oleh Sanggar Greget Semarang yang berkolaborasi dengan Taman Budaya Jawa Tengah, pada hari Sabtu, tanggal 23 Nopember 2019 di Taman Budaya Jawa Tengah Solo, mulai pukul 19.00 wib sampai selesai.Gelar Tari Gaya SemaranganYang ditampilkan dalam Gelar Tari Gaya Semarangan kali ini semua karya Yoyok B. Priyambodo, yang dibuatnya mulai dari tahun 1984 sampai 2019 yang semuanya ini didedikasikan untuk pengembangan dan pelestarian seni budaya Indonesia khususnya Kota Semarang.Gelar Tari Gaya SemaranganDalam Gelar Tari Gaya Semarangan Yoyok B Priyambodo menggandeng sanggar-sanggar tari yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menampilkan karyanya, diantaranya Sanggar Kembanglawu (Kabupaten Karanganyar), Sanggar Acharya Budaya (Kabupaten Blitar Jawa Timur), Sanggar Sang Citra (Surakarta), Sanggar Satria (Kabupaten Wonosobo), serta Sanggar Greget (Kota Semarang) sendiri.Gelar Tari Gaya SemaranganYoyok B. Priyambodo lahir pada tanggal 25 April 1966 di Semarang, belajar menari dari orang tuanya (Bpk/Ibu Soedibyo) di Sanggar Tari Kusuma Budaya pada tahun 1972. Kemudian pada tahun 1982 bersama keluarganya mendirikan Sanggar Greget Wilang, tapi kemudian berganti nama menjadi Sanggar Greget pada tahun 1992 sampai sekarang.Gelar Tari Gaya Semarangan

Gelar Tari Gaya SemaranganTari Gaya Semarangan versi Yoyok B Priyambodo mempunyai beberapa spesifikasi yang tidak dipunyai oleh seniman lainnya, diantaranya seperti gerak sekaran unjal jolo, egolan bokong endog remeg (angka 8), tolehan, entul, jinjit dengan busana yang menggunakan kain Semarangan (motip bunga, pohon asam, lawang sewu dan tugu muda).Gelar Tari Gaya SemaranganSemua gerak ada makna-makna tersendiri, dimana tiap gerak itu disesuaikan dengan kondisi alam Kota Semarang, seperti alam pantai dengan gerak mengalun seperti ombak, gerak datar bawah yang melambangkan perniagaan, serta gerak-gerak tangan keatas dengan jinjit-jinjit yang melambangkan perbukitan yang ada di Semarang.Gelar Tari Gaya SemaranganAcara diawali dengan uyon-uyon yang dilanjutkan dengan panyajian calon wisuda, pemberian plakat kepada sanggar-sanggar tari yang terlibat dalam acara ini, Langen Mataya Munjung Leluhur yang melibatkan para pakar tari Jawa Tengah seperti Dr. Yoyok B Priyambodo, Dr. KRM H Srihadi, S.Kar, M.Hum, Dr. S Pamardi, S.Kar, M. Hum, Dr. Daryono, S.Kar, M.Sn dan ahli tembang dan gegruritan seperti Wahyu Santoso P, S.Kar, M.Si, ST. Wiyono S.Kar yang dilanjutkan dengan penyajian tari-tarian.Gelar Tari Gaya Semarangan

Gelar Tari Gaya SemaranganGelar Tari Gaya Semarangan kali ini menampilkan 16 tari karya Yoyok B Priyambodo diantaranya Tari Bondan, Tari Bayanaka Tantama, Tari Retno Tinanding, Tari Gunungan, Tari Semarang Indah, Tari Simpang Lima Ria, Tari Kalong, Tari Rebana Panawarna, Tari Alun-alun Yaik, Tari Nyai Brintik, Tari Kuntul Blekok, Tari Sekar Cemani, Tari Sekar Rinonce, Tari Rara Achi, Tari Warak Dugder, Tari Pesona Semarang Hebat yang kemudian diahkiri dengan flas mob.Gelar Tari Gaya Semarangan“Sebuah peristiwa seni budaya yang luar biasa dimana Sanggar Greget Semarang mempunyai banyak ide dan kreatifitas dalam mengembangan seni dan mengkreasi karya yang kali ini ditampilkan, penari bergantian menyajikan tariannya sekaligus duduk sebagai pengiring secara bergantian dan ini jarang dipunyai sanggar-sanggar yang ada di Indonesia”, ujar Dr. KRM H Srihadi, S.Kar, M.Hum disela-sela acara.Gelar Tari Gaya SemaranganAda yang special dalam pagelaran kali ini, selain menampilkan tari karya Yoyok B Priyambodo, acara ini juga memberikan penghargaan kepada seniman tari, yaitu Bpk Alit (Magelang) dan Ibu Sarwi (Solo) atas dedikasi beliau berdua secara konsisten  dan produktif terhadap pengembangan dan pelestarian seni tari khususnya dari tahun 1974 sampai sekarang ini.Gelar Tari Gaya Semarangan

Gelar Tari Gaya SemaranganIni semua sebagai contoh bagi generasi sekarang ini (kaum milenial), walaupun beliau berdua sudah sepuh (tua) tetapi semangat dan konsistensinya dapat sebagai pembelajaran dan ditiru bagi kita semua dan sampai sekarang beliau berdua masih menari. Sudah selayaknya mereka berdua mendapat apresiasi dari semua pihak.Gelar Tari Gaya SemaranganGelar Tari Gaya Semarangan juga sebagai ajang silaturahmi bagi seniman Semarang dan Surakarta, serta menunjukan bahwa di Semarang ada juga kesenian tari sebagai lokal wisdom yang layak ditampilkan didaerah lain, mulai dari gerak, busana dan iringan yang bercirikan Semarangan.Gelar Tari Gaya Semarangan“Semoga acara ini bisa menjadi inspirasi bagi seniman-seniman di luar Sanggar Greget Semarang untuk mau menampilkan karya-karyanya di masyarakat sebagai bagian dari silaturahmi antar sanggar dengan menampilkan potensi daerahnya dan tidak menutup kemungkinan nantinya nanti akan ada ajang kolaborasi antar sanggar tari”, ujar Yoyok B Priyambodo selaku pimpinan Sanggar Greget Semarang disela-sela acara. (Soebijanto/Reog Biyan)

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here