myimage.id | Gunting Rambut “Surabaya”, orang sudah terbiasa dengan tulisan itu, meski artinya adalah tempat potong rambut atau cukur rambut. Masih setia beroperasi di lokasi ujung Blok A7 Pasar Jatingaleh Semarang. Awalnya pada 1950 membuka jasa potong rambut di daerah Kesatrian, namun seiring pembangunan jalan tol Jatingaleh pada 1979, operasional berpindah ke dalam pasar. Bergeser 400 meteran. Nama Surabaya sendiri dipakai sebagai identitas asal para tenaga cukur di sini, meski kebanyakan dari Madura.

Gunting Rambut “Surabaya”, Antri dan Menunggu Pelanggan…

 

Pada awalnya, tempat cukur yang dirintis Pak M Rodji ini memiliki 8 orang tukang cukur, namun seiring berubahnya jaman dan persaingan usaha sejenis, tempat usaha yang tadinya blok A7 dan 8, tinggal 1 blok saja di A7 dan saat ini dijalankan oleh 2 orang yaitu P Buchori (70 tahun) dan P Khotib alias Pak Brewok (62 tahun).

Bisa dibilang, tempat potong rambut ini cukup melegenda, terutama bagi warga daerah Jatingaleh, Jangli dan Candisari. Dulu tiap hari pagi, sore hingga malam, orang mesti antri untuk bercukur di sini. Pelanggannya dari berbagai kalangan. Namun seiring waktu, mulai menurun. Barbershop yang lebih modern dan gaul yang muncul di banyak tempat, turut menggerus pelanggannya. Peralatan dan fasilitas yang dimiliki masih bertahan dengan yang ada dari dulu, dan mungkin kurang diminati anak muda sekarang. Sehingga yang menggunakan jasa potong rambut ini rata-rata pelanggan lama.

gunting rambut
Setia dengan pelanggan lama

Peralatan yang ada di sini tergolong kuno, kursi cukur rambut bikinan China dan Jepang. Konon yang buatan Osaka Tokusee berusia lebih dari 100 tahun.

Beberapa peralatan dan aksesoris yang dimiliki potong rambut ini pernah ditawar untuk dibeli kolektor, entah untuk hiasan rumah maupun kafe. Namun karena sayang, belum dijual.

Saat ini, meski tiap hari masih ada pelanggan yang datang, belum terlihat generasi penerus yang siap menggantikan P Khotib dan P Buchori ini. Sebenarnya selama rambut di kepala masih bisa tumbuh, maka peluang usaha cukur rambut masih tetap prospektif, namun mungkin selera atau mode rambut dan metode cukur, sudah mulai berubah. Di potong rambut ini tarif untuk potong Dewasa Rp. 15.000,- dan Anak-anak Rp. 10.000,-. Ekstra pijet setelah potong, khas madura, di ‘krek’. Tapi bagi yang takut, bisa ngomong. (hakim)

Pak Buchori, 70 tahun, bekerja sejak tahun 1974…
Foto Kejayaan, awal 1980an…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here