myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Lagi-lagi sebuah akulturasi 2 kebudayaan diangkat dalam sebuah tarian yang menarik, yang menambah keragaman seni budaya tari Indonesia semakin beragam. Semua ini terlihat dalam Tari Topeng Dwimuka Jepindo yang merupakan sebuah tari tradisi yang didalamnya mengekspresikan persahabatan akulturasi 2 budaya antara Jepang dan Indonesia, dimana dalam tarian ini juga ditampilkan tari Bali (cuplikan dari tari Legong Bali) dan kemudian ditutup dengan tari topeng Walang Kekek yang menggambarkan sosok wanita dalam 3 hal yaitu cantik, ugly (jelek) dan tua.Tari Topeng Dwimuka JepindoTarian ini diciptakan oleh Didik Hadiprayitno atau lebih beken dengan nama Didik Nini Thowok, pada tahun 1990 an yang inspirasinya didapat beliau ketika seringnya berkunjung ke Jepang. Dari sinilah beliau ingin mengekspresikan persahabatan antara Jepang dan Indonesia lewat sebuah tarian, walaupun waktu itu beliau belum tahu tari Jepang yang sesungguhnya seperti apa, hanya dengan melihat video dan pertunjukan secara langsung di Jepang kemudian di kira-kira geraknya seperti itu saja.Tari Topeng Dwimuka JepindoTidak hanya geraknya saja, topengnya pun prosesnya sama, hanya dengan kira-kira sampai kemudian melalui proses yang panjang sampai menemukan gerak dan topeng Jepang yang sesungguhnya. Sebuah proses pembentukan tari menuju kesempurnaan.Tari Topeng Dwimuka JepindoTari topeng ini sangat cocok ditarikan dalam event-event persahabatan kedua negara antara Jepang dan Indonesia, seperti pada tahun lalu yang merupakan peringatan persahabatan Jepang dan Indonesia yang ke 60 tahun. Event yang seperti ini sangat cocok ditampilkan tarian ini atau bahkan festival-festival budaya Jepang yang diadakan di Indonesia sekalipun.Tari Topeng Dwimuka JepindoTari Topeng Dwimuka Jepindo kali ini ditampilkan di acara Japanese Culture Festival 2019 yang diadakan di Universitas Dian Nuswantoro Semarang oleh Mahasiswa Sastra Jepang, pada tanggal 23-24 Pebruari 2019 dengan tema “Seishun No Sekai” yang artinya dunia anak muda.Tari Topeng Dwimuka JepindoAcara ini menampilkan Culture Jepang yang tradisional dan modern serta perpaduan culture Jepang dan Indonesia, dimana pesertanya tidak hanya para mahasiswa Sastra Jepang saja, tetapi juga diikuti oleh semua kalangan yang suka culture Jepang bisa mengikuti acara ini. Mulai dari band, sing competition, dance cover competition, kompetisi komik juga ada, ujar Dita Rahmawati (salah satu mahasiswa sastra Jepang Udinus).Tari Topeng Dwimuka JepindoMakna atau filosofi dalam tarian ini secara khusus memang tidak ada, tapi di sini ada 3 frase tampilan, yang pertama menampilkan Topeng Dwimuka Jepindo, kemudian disambung dengan tari Bali Legong Bapeng gaya dari Sabe (Desa di Gianyar Bali) dan yang terakhir Topeng Walang Kekek yang mengangkat filosofi tentang wanita.Tari Topeng Dwimuka JepindoTopeng jepang yang digunakan bernama topeng Okame yang sangat popular di Jepang, sosok wanita yang kesannya lucu karena pipinya tembem (gembil), sedangkan tokoh prianya bernama Yotoko. Sedangkan yang Indonesia disini meminjam topeng Bali yang bernama topeng Telek yang biasa digunakan untuk tari klasik Bali.Tari Topeng Dwimuka JepindoGerak dalam tarian ini banyak menggunakan gerak-gerak tari tradisi, dimana yang Indonesia banyak menggunakan ragam gerak tari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Karena tariannya mundur, maka menggunakan gerak yang memungkinkan dalam membelakangi penontonnya seperti Mudra atau bentuk jari tangan. Demikian juga yang Jepang, mengacu para ragam gerak tari Nihon Buyo, seperti gerak ulap-ulap model Jepang dan bermain kipas yang dibuat seperti bermain cermin.Tari Topeng Dwimuka JepindoSecara teknis Tari Topeng Dwimuka Jepindo sangat susah untuk di bawakan oleh seorang  penari, karena disini penari dituntut untuk membawakan 2 soul yang berbeda antara Jepang dan Indonesia yang membutuhkan sebuah transform soul, gerak dan felling, yang sangat butuh sebuah latihan tersendiri dan jam terbang yang tinggi bagi yang membawakan tarian ini.Tari Topeng Dwimuka JepindoBusana yang digunakan juga sangat unik sekali, prosesnya sangat rumit, disini busana yang ditampilkan setengah Jepang (kimono) dan setengahnya lagi Indonesia, yang semuanya harus mewakili ke 2 culture budaya, yang memerlukan sebuah pemikiran yang khusus.Tari Topeng Dwimuka Jepindo

Tari Topeng Dwimuka JepindoIringan lagu yang mengiringi Tari Topeng Dwimuka Jepindo meminjam dari Jawa berupa Sisingaan (Subang Jawa Barat) karena rancak dan dinamis musiknya. Sedangkan yang Jepang mengambil instrument Samisen, untuk Legongnya masih murni musik klasik Bali, sedangkan Walang Kekek, karena lagu ini sangat polular di Jawa hanya di rubah kendang dan susunan koreografinya yang di Jaipongkan.Tari Topeng Dwimuka JepindoTari Topeng Dwimuka Jepindo.

1Koreografer:Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok)
2Penata Busana/Rias:Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok)
3Penata Iringan:Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok)
4Penari:Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok)

Tari Topeng Dwimuka JepindoSebuah tarian yang merupakan bagian dari keberagaman Budaya Indonesia yang spectacular yang dihubungkan dengan menjalin persahabatan dengan budaya Jepang yang  menjadi sebuah akulturasi budaya. Semua ini bagian dari kolaborasi yang utuh dan satu kesatuan bukan hanya  sebuah tempelan saja, ujar Didik Nini Thowok. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here