myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Cahaya rembulan menyelimuti Plaza Ngasem Yogyakarta dimalam hari, sepertinya ada yang sedang berbahagia. Terlihat dari banyaknya cahaya menerangi di kawasan ini. Sebuah hari yang ditunggu-tunggu, bertambah satu tahun usia, hanya doa yang setulus hati mengiring selalu. Ya, semua ini terlihat dalam Hut 10 Th Bale Seni Condroradono yang merupakan sebuah acara peringatan ulang tahun yang ke 10, yang dikemas dalam event pentas seni kawasan Jeron Beteng.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoAcara ini diadakan oleh Bale Seni Condroradono yang berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang diadakan di Plaza Ngasem pada tanggal 28 September 2019, mulai pukul 19.00 wib sampai 20.00 wib.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoDalam sambutanya Wakil Walikota Heru Purwadi M.A. di Hut 10 Th Bale Seni Condroradono mengatakan bahwa, “Bale Seni Condroradono memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perkembangan seni tradisi tari dan pengkajian seni budaya, semua ini beriringan dengan program pemerintah Kota Yogyakarta dengan Gandes Luwes yang menyatu dengan destinasi wisata”.Hut 10 Th Bale Seni Condroradono“Selamat HUT ke 10, dengan usia ini Bale Seni Condroradono sudah cukup dewasa, sebuah capaian tersendiri dan layak diapresiasi, yang kedepannya diharapkan lebih berinovasi yang masih memegang pakem-pakem dalam seni tradisi yang semuanya ini sebagai sarana pendidikan karakter”, ujar KPH Notonegoro yang diundang secara khusus oleh Bale Seni Condroradono dievent ini.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoDalam event ini para pengisi acaranya semua para siswa Bale Seni Condroradono dengan menampilkan 7 karya, 3 diantaranya karya KRT. Soenartomo Tjondroradono (ayah dari Dr. Kuswarsantyo, M.Hum) dan KRT Sasmitadipura (Romo Sas), kemudian yang terakhir ada 4 karya terbaru dari Dr. Kuswarsantyo, M.Hum.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoDalam berkarya sering sekali Dr. Kuswarsantyo, M.Hum mendapat tantangan, beliau adalah orang tari klasik tapi malah mengembangkan Jhatilan. Tapi disini menurut beliau adalah tari klasik sebagai pijakan atau spirit untuk menggarap melalui teori dekontruksi seni tradisi yang ilmiah dengan studi kasus Jhatilan.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoDekontruksi dalam tari Jhatilan dikarya terbarunya ini meliputi Desakralisasi, dengan arti bahwa Jhatilan tidak memakai trance (dadi), tidak pakai sesaji. Dengan Format  geraknya masih memakai tari klasik (Tari Srimpen Turonggo Manis).Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoJhatilan dengan visualisai tari klasik gaya Yogyakarta (Sendratari Lawung Kompeni) yang merupakan implementasi ikonnya Yogyakarta dengan tari Lawung tapi sebagai fisiknya yang dipadukan dengan Kompeni (Belanda) yang semuanya mengandung tema perjuangan dengan edukasinya melawan penjajahan Belanda.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoKemudian Jhatilan religius, dengan Jhatilan Raden Patah ini semua sebagai simbol siar agama melalui seni tradisi tari, inilah jawaban dari semua yang menganggap bahwa Jhatilan adalah seni musrik dan sirik. Sesungguhnya Jhatilan juga bisa digunakan sebagai siar agama.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoSelain itu Hut 10 Th Bale Seni Condroradono juga didukung oleh para Mahasiswa UNY, ISI Yogyakarta, SMKI Yogyakarta kerena bisa diistilahkan mereka-mereka ini rata-rata adalah penari yang didalam Kraton Yogyakarta sangat akrap dengan Dr. Kuswarsantyo, M.Hum (sebagai pengajar tari di dalam Kraton), sehingga mereka berpartisipasi dalam event ini, serta adanya dukungan dari ibu-ibu pendemen beksan.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoBale Seni Condroradono berdiri pada tanggal 19 Oktober 209, yang diresmikan oleh Sri Sultan HB X yang merupakan sebuah wadah untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya tradisi. Fokus utamanya adalah memberikan apresiasi kepada anak-anak tentang nilai-nilai seni tradisi melalui aktivitas latihan rutin tiap Jumat pukul 16.00 – 19.00 wib.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoDisamping itu Bale Seni Condroradono sebagai tempat untuk kajian seni budaya bagi masyarakat/komunitas seni secara terbuka dana da yang unik disini juga mengembangkan produk batik yang mengacu pada motif tradisi namun telah dikembangkan dengan model kekinian.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoDan untuk menarik kaum milenial, Bale Seni Condroradono memperkenalkan tari tradisi dengan orientasi variatif artinya mempelajari tari klasik yang dikembangkan dengan mengkreasi kekinian. Dengan dasar inilah maka akan dapat ditingkatkan kualitas teknik maupun visualnya, dan yang lebih penting adalah memahami nilai-nilai di balik karya seni secara kontekstual.Hut 10 Th Bale Seni CondroradonoHut 10 Th Bale Seni Condroradono mengusung tema dengan tajuk utama “Ngleluri Budaya Jawi” dengan sub tema “Langen Beksan Mondro Turonggo” artinya langen beksan adalah lalengan tari, mondro adalah banyak, turonggo adalah kuda. Jadi dalam event ini akan didominasi pertunjukan yang mayoritas dengan property kuda kepang.Hut 10 Th Bale Seni Condroradono“Dengan adanya event ini diharapkan anak-anak milenial lebih menyukai seni tradisi yang dipicu dari acara seni budaya yang sempat viral di media sosial, hal ini memberikan motivasi kepada Bale Seni Condroradono untuk melatih anak-anak, sehingga tari tradisi semakin digemari oleh kaum milenial”, ujar Dr. Kuswarsantyo, M.Hum.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here