myimage.id | HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW) merupakan perayaan ke 100 tahun berdirinya Krida Beksa Wirama (KBW), tepatnya tanggal 17 Agustus 2018 yang diperingati di Ndalem Tejokusuman pada tanggal 20 Agustus 2018. Terasa spesial banget kalau di ungkapkan dengan kata-kata (so sweet BGT).

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Sebuah pencapaian yang sangat layak diapresiasi oleh siapa saja, terutama seniman-seniman Yogyakarta, dimana dalam perjalanannya sanggar Krida Beksa Wirama (KBW) memberikan dampak yang sangat berarti bagi perkembangan tari klasik gaya Yogyakarta di luar tembok kraton.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Krido Beksa Wirama yang merupakan salah satu sanggar tari klasik gaya Yogyakarta yang pertama kali keluar dari tembok Kraton Yogyakarta. Sanggar ini didirikan oleh Gusti Pangeran Haryo Tejokusumo dengan Bendoro Pangeran Haryo Suryodiningrat. Beliau-beliau ini adalah putra dari Hamengku Buwono VII. Sanggar ini dulunya di Ndhalem Tejokusuman. Sekarang ini sanggar ini mempunyai di 3 tempat untuk berlatih, antara lain di Ndhalem Tejokusuman, Tirtodipuro dan Pendopo Ambarukmo.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Acara HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW) dihadiri oleh kolega-kolega sesama seniman tari Yogyakarta, yang dirayakan dengan sederhana yang diawali dengan sambutan dari Drs. Haka Astana Mantika Widya, SH Irjen Pol Purn, yang menyampaikan sedikit tentang KBW dan harapannya kedepan.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Kemudian dilanjutkan tentang sekilas 100 Tahun perjalanan Krida Beksa Wirama (KBW) oleh Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi yang dibawakan dengan suasana santai, dikatakan pengaruh KBW dan  perkembangan tari klasik gaya Yogyakarta dari masa HB I sampai HB X yang merupakan masa pertumbuhan sampai masa perkembangan pembaharuan.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Krida Beksa Wirama (KBW) mendapat dukungan dari keberadaan Tamansiswa dan perkumpulan pergerakan Pemuda Yong Java yang kemudian menyebarkan pendidikan kesenian bagi masyarakat luas yang bertempat di Ndalem Tejokusuman.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Pada tahun 1918-1940 merupakan masa pertumbuhan, perintisan dan perkembangan dimana Beksa Wirama (KBW) menjadi sebuah organisasi atau kelembagaan dengan asas dan tujuannya, mempelajari dan mengembangan kesenian Jawa tradisional, memelihara dan menjunjung tinggi mutu kesenian serta menanamkan benih kecintaan kepada putra-putri didalam berkesenian (tari dan karawitan).

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Beksa Wirama (KBW) juga merintis tentang pengertian tari yang lebih dikenal dengan 3 W yaitu Ingkang kawastan djoged inggih punikaobahing sadajo sarandhuning badhan (Wiraga), katata pikantoek wiramaning gendhing (Wirama), Djoemboehing pasemon kalajan pikadjenganing djoged (Wirasa).

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Tahun 1940-1960 merupakam masa kepeloporan dalam berbagai genre dan gaya bagi Beksa Wirama (KBW) dimana disini ada genre wayang orang topeng, gaya wayang panggungan, gaya kreasi baru (modern dance dan ballet) selain itu juga menampilkan lakon di luar genre Mahabarata dan Ramayana.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Selain itu juga Beksa Wirama (KBW) mempelopori pendidikan non formal bagi masyarakat luas dan pendukung pendidikan kesenian seperti Konri (1960), Asti (1963) yang menjadi konservasi tari yang dilakukan di Ndalem Tejokusuman.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Pada tahun 1964 terjadi kevakuman di tubuh Beksa Wirama (KBW), semua peralatan kesenian dan gamelan semua terjual karena adanya konflik internal. Tapi semua itu jalan yang harus di lalui oleh Beksa Wirama (KBW).

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW) kali ini juga disajikan tari klono topeng dan diakhiri dengan tari Sari Tunggal yang ditarikan oleh anggota Krida Beksa Wirama secara bersama-sama di Ndalem Tejakusuman dengan indahnya.

HUT ke 100 Krida Beksa Wirama (KBW), culture

Mulai tahun 2004,  Krida Beksa Wirama (KBW) bangkit lagi dengan harapan nguri-nguri budaya khususnya tari klasik gaya Yogyakarta dengan napas pendirinya yaitu Gusti Pangeran Haryo Tejokusumo dengan Bendoro Pangeran Haryo Suryodiningrat. Sanggar ini juga mengembangkan tari non klasik gaya Yogyakarta yang menjadi perpaduan yang menarik, seperti tari Srimpen Topeng Diah Pitaloka yang merupakan perpaduan antara tari klasik gaya Yogyakarta dengan Sunda yang pernah di tampilkan di New Zealand tahun 2017, ujar Raden Ayu Nawangsasi atau yang lebih dikenal dengan Bu Nana selaku ketua Krida Beksa Wirama (KBW) sekarang. Congratulation !!! Krida Beksa Wirama (KBW).  (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here