myimage.id | HUT Langen Mataya ke 3 adalah peringatan kiprahnya Langen Mataya di dunia seni tari, tepatnya pada tanggal 8 Desember 2017 di Lobby Teater Besar ISI Surakarta. Langen Mataya merupakan kumpulan dari para penggiat seni Tari Bedoyo (tarian Kraton) yang ada di kota Surakarta.

HUT Langen Mataya ke 3

Ide awal terbentuknya Langen Mataya, dulu ada seoarang yang bernama Tasman (Empu Paripurna di ISI Surakarta) prihatin dengan kondisi tari-tarian yang ada di dalam Kraton tidak ada yang melestarikan. Karena beliau tahu bahwa tarian di dalam Kraton tidak seintensif dulu kala. Maka beliau bertemu dengan kelompok Sasano Mulyo dimana disitu ada yang namanya Bu Rusini (seororang pengajar di ISI yang sudah pensiun), minta agar teman-teman yang suka menari dulu dikumpulkan untuk pelestarian tari Kraton.

HUT Langen Mataya ke 3

Dari usulan beliau ini maka Bu Rusini dan kawan-kawannya kumpul di Pendopo Gendon Mardani (sekarang menjadi basecamp Langen Mataya) yang merupakan peninggalan dari Bapak Gendon Mardani, beliau dulu adalah pimpinan ISI yang atas perjuangan di bidang seni tari, sampai sekarang di beri penghormatan dengan dibuatkan patung beliau yang diletakan di depan kampus ISI Surakarta.

HUT Langen Mataya ke 3

Dari sini juga kebetulan putra dari beliau juga seorang penari. Maka tersambunglah semua ide dan gagasan ini.

Ngumpulke balung pisah

Yang dulu bergabung dalam Sasano Mulyo yang sekarang di beri nama Langen Mataya. Disini kemudian para penggiat tari ini latihan dan latihan dan secara kebetulan bertemu dengan Ibu Mulyani dimana beliau adalah seorang abdi dalam Kraton yang didalam Kraton sebagai Lurahnya Bedoyo Kraton. Para pengiat tari ini berlatih dengan keiklasan sendiri-sendiri tanpa pamrih apapun.

HUT Langen Mataya ke 3

Dari sini Langen Mataya yang anggotanya para mantan penari melakukan latihan tari Bedoyo Srimpi. Langen Mataya bahkan sering tampil diacara public. Mereka pertama kali tampil di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah. Langen Mataya semakin berkembang setelah bergabungnya Prof Nanik sebagai Pembina. Beliau memberikan masukan-masukan yang berarti untuk Langen Mataya kedepannya. Sekarang ini merupakan HUT yang ke 3, yang kedepannya beliau ingin mengenalkan kelompok Langen Mataya kepada publik di luar kota Surakarta, serta mengajak kepada siapa saja untuk bergabung dengan kegiatan ini.

HUT Langen Mataya ke 3

Selain itu ada juga misi yang lain pada HUT Langen Mataya ke 3 ini, selain melestarikan tari-tarian Kraton, beliau juga berpikir sumber tarian Kraton mumpung masih ada sekarang ini (Ibu Mulyani), harus benar-benar dimaanfaatkan sebagai sumber informasi yang sangat bisa di percaya. Dulu tarian Srimpi ditarikan hampir satu jam, sekarang sudah dipadatkan menjadi sekitar 15 sampai 25 menit dan ini bukan suatu pekerjaan yang mudah.

HUT Langen Mataya ke 3

Kelompok Langen Mataya tidak hanya diikuti oleh orang-orang Surakarta saja, bahkan dari luar kota banyak yang bergabung di kelompok ini. Pelestarian tari Jawa ini harus mengikuti perkembangan jaman sekarang ini. Siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikan tari-tarian Kraton ini mulai sekarang ini.

HUT Langen Mataya ke 3

Kelompok ini selain sebagai pelestarian tari Jawa sebenarnya juga sebagai sarana nostalgia para penggiat tari ini, dimana mereka dapat berkumpul dengan teman-teman semasa muda dulu dan dapat diistilahkan sebagai penyambung nyawa (membuat panjang umur). Dan kelompok ini tidak ada duanya di kota Surakarta, selain itu ini dapat disebut istimewa karena dilihat dari usia para penggiat tari ini rata-rata diatas 60 tahun tapi semangat mereka  yang harus dicontoh oleh para penari muda-muda.

HUT Langen Mataya ke 3

Langen Mataya merupakan kumpulan para penari yang pada usia mudanya adalah para penari top pada masanya, walaupun sudah tua tapi kalau menari aura magicnya sangat kuat, setiap geraknya seakan-akan mengeluarkan aura magic yang tidak ditemui di penari muda-muda yang lebih mengandalkan teknik saja.

HUT Langen Mataya ke 3

Busana yang ditampilkan juga sangat menarik pada HUT Langen Mataya ke 3 ini. Dengan kombinasi yang cantik yang meyesuaikan usia para penarinya membuat lebih elegan. Langen Mataya menampilkan tari Srimpi Gambir Sawit, Tari Kenya Tinembe dan terakhir Tari Srimpi Sangopati. Yang menjadi pekerjaan rumah pada Langen Mataya adalah mereka ingin menampilkan para bapak-bapak juga yang selama ini belum kesampaian juga. Karena tarian Kraton juga banyak banyak tarian yang di lakukan oleh para laki-laki. Ini jadi pekerjaan rumah agar para bapak-bapak ikut menarikan tari Wireng yang sangat terkenal itu. Jangan hanya wirang saja tapi wireng juga harus jalan.

HUT Langen Mataya ke 3

Pada HUT Langen Mataya ke 3 ini selain mengundang para tokoh-tokoh tari mereka juga mengundang tokoh-tokoh setempat seperti ketua RT/RW bahkan Ibu Lurah dengan harapan agar mereka mengetahui bahwa ada kegiatan pelestarian seni Tari Kraton di wilayah kerjanya yang bisa menjadi kebanggaan di manapun. Langen Mataya akan siap kapan saja jika ada yang ingin melihat Tari Srimpi, baik wisatawan local atau asing yang berkunjung di Surakarta. Mereka latihan setiap hari selasa atau Jumat pukul 10.00 sampai 13.00 wib di Pendopo Gendon Mardani Solo Jebres.

HUT Langen Mataya ke 3

Pelestarian tarian Kraton sangat direspon bagus oleh Kraton, dimana sejarahnya dulu, sekitar tahun 1970 an Sinuwun yang ke XII juga mengajarkan tarian-tarian ini di dunia akademis, yang mana para anggota Langen Mataya ini dulunya murid-murid beliau. Maka di harapkan sekali agar tari-tari Kraton ini ada yang melestarikan. Kita tidak hanya nguri-nguri saja tapi lebih ngurup-ngurupke dengan tujuan yang baik dan saling menghargai karena tarian ini merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here