myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Selamat pagi, salam hangat, sehat dan sejahtera. Kata-kata “Festival” menjadi label yang kekinian dan jaminan menarik dalam menggelar sebuah pagelaran seni budaya Indonesia. Semua ini terlihat dalam International Mask Festival 2019 yang merupakan acara tahunan berskala internasional yang mengusung konsep pertunjukan seni topeng dan pameran kerajinan topeng.International Mask Festival 2019International Mask Festival 2019 tidak hanya menyatukan keragaman budaya seni topeng di Indonesia saja tetapi juga keragaman budaya topeng dunia. Dengan menghadirkan seniman topeng dari Indonesia dan manca negara untuk menampilkan karya seni topeng, dalam satu panggung yang bisa dijadikan sebagai soft diplomasi budaya untuk menciptakan suasana yang harmonis.International Mask Festival 2019Festival ini pada tahun ini mengusung tema “Soul of the Mask” yang mempunyai arti, bahwa jiwa topeng dihidupkan/diinterprestasikan oleh para pemainnnya, atau sebaliknya pemain topeng mengikuti karakter topeng tersebut baik dalam bentuk tari klasik, tradisi maupun kontemporer.International Mask Festival 2019International Mask Festival 2019 diselenggarakan oleh SIPA Community, Semarak Candrakirana dan di fasilitasi oleh Pemerintah Kota Surakarta yang tahun ini memasuki tahun ke enam, di Pendopo Gedhe Balaikota Surakarta, yang dilaksanakan pada tanggal 5-6 Juli, tepatnya pada pukul 19.00 wib sampai selesai.International Mask Festival 2019

International Mask Festival 2019Tahun ini memang special bagi festival ini karena selain menggandeng tokoh-tokoh topeng yang melegenda seperti Ibu Nani Topeng Losari dari Sanggar Purwa Kencana, Cirebon yang merupakan cucu dari Maestro Ibu Dewi Sawitri, dalang generasi ke enam dari trah Topeng Losari, juga menghadirkan kelompok pengrajin topeng Gunung Kidul dari Desa Bobung serta mengundang Project Development Officer II, dari Kota Bocolod, Filipina yang terkenal dengan festival topeng dengan nama “Festival Masq’alors”.International Mask Festival 2019

International Mask Festival 2019Selain kehadiran perwakilan delegasi mancanegara, hubungan baik melalui topeng juga telah terjalin sinergi dan mandiri dengan Yogyakarta dan Malang yang turut serta menggelar IMF. Penyelenggara IMF Solo bekerjasama dengan komunitas Museum Ullen Sentalu (Yogyakarta) dan Museum Topeng Panji (Malang).International Mask Festival 2019Budayawan, mahasiswa, pecinta topeng, dan masyarakat umum berkesempatan meningkatkan pengetahuan keragaman budaya Indonesia dan dunia dengan menghadiri dan menyaksikan pertunjukan topeng dan pameran topeng pada IMF 2019.International Mask Festival 2019Penampil pada hari pertama, tanggal 5 Juli 2019 diantaranya adalah Semarak Candrakirana dan Singo Yogo, Solo (berdirinya Kerajaan Singo Barong di Alas Lodoyo), Nani Topeng Losari dari Sanggar Purwa Kencana, Cirebon (Topeng Losari), Tedjo Dances, Solo (Tari Bapangku), Sanggar Seni Wijaya Kusuma, Cirebon (Tari Topeng 5 Wanda dan Tari Fragmen), serta Independent Expression, Solo (I’m Ayam) oleh Boby Ari Setiawan.International Mask Festival 2019Pada hari kedua tanggal 6 Juli 2019, menghadirkan Ngesti Budoyo, Gunung Kidul (Klono Sewandono Ndusto), Anton Lambert and Wito Geerts Belgia (Accepting Kelana), Sanggar Handayani Kebumen (Tari Topeng Cepetan), Sanggar Seni Wijaya Kusuma, Cirebon (Tari Fragmen Jingga Ano vs Tumenggung), dan Tedjo Dances, Solo (Tari Bapangku), dan Iqbal/Mimi (Goyang Maria Mariana).International Mask Festival 2019“Semua ini mempunyai tujuan dan harapan agar budaya topeng di kenal oleh  generasi milinial, sehingga mereka ikut dalam mengekspresikan seni budaya dengan mencintai, mengembangkan dan ikut melestarikannya, tidak hanya topeng klasik dan tradisi saja, tetapi berkembang ke kontemporer yang sesuai dengan jamannya, dan secara khusus ini semua merupakan bagian dari destinasi wisata Kota Surakarta”, ujar Dra. Irawati Kusumorasri selaku ketua International Mask Festival 2019. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here