myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Memang kata-kata Classic kalau disematkan dalam sebuah acara, pastilah acara itu dijamin akan berakhir dengan pementasan yang megah dann sukses. Classic selalu dikaitkan dengan sebuah karya yang sempurna yang memiliki kualitas tinggi dalam semua tataran sebuah karya. Ya semua ini terlihat dalam Intimate Concert yang merupakan sebuah konser tunggal Dwi Hansen yang memainkan gitar klasik dengan lebih mendekatkan permainannya bersama audience yang menggunakan konsep penataan ruang yang simple dan minimalis.Intimate ConcertWalaupun konsepnya sangat simple dan minimalis, malah membuat konser tunggal ini benar-benar dapat dinikmati sepenuhnya oleh audience yang datang tanpa ada gangguan, tanpa batas atau sekat sehingga benar-benar intim dan terjalinlah interaksi antara pemain dan audience yang harmonis.Intimate ConcertIntimate Concert diselenggarakan oleh Komunitas Gitar Klasik Semarang yang diadakan di Gedung Monog Diephuis, Jl. Kepodang 11-13 Kota Lama Semarang, pada hari Jumat, tanggal 20 Desemer 2019 mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Intimate ConcertKomunitas Gitar Klasik Semarang adalah sebuah komunitas anak-anak Semarang yang peduli terhadap keberadaan musik klasik terutama yang dimainkan dengan gitar. Komunitas ini sebagai wadah para gitaris klasik untuk berbagi informasi dan edukasi. Biasanya komunitas ini berkumpul di cafe tadhok dikawasan Papandayan Semarang.Intimate ConcertKedekatan Dwi Hansen dengan Komunitas Gitar Klasik Semarang sudah lama terjalin. Acara ini tercipta manakala Dwi Hansen berujar ingin mengadakan konser tunggal pertamanya di Semarang, kemudian ujaran ini langsung disambut dengan mewujudkan hasrat Dwi Hansen dengan Intimate Concert Dwi Hansen (Guitar).Intimate ConcertDwi Hansen adalah gitaris klasik (finger style) kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta pada tanggal 5 Agustus 1997. Mulai belajar pertama kali di SMM Yogyakarta, kemudian melanjutkan study di ISI Yogyakarta di bawah bimbingan Dr. Andre Indrawan M. Hum, M. Mus.Intimate ConcertSederetan prestasi telah ditorehkan Dwi Hansen di bidangnya, diantaranya juara 1 kategori junior dalam kompetisi gitar klasik di UNY Clasical Giutar Festival #2 tahun 2014, predikat gitaris terbaik di Jazz Acoustic Contest Malang 2016 dan juara 1 kompetisi gitar akustik Tohpati 2018.Intimate ConcertDwi Hansen juga sering berkolaborasi dengan musisi lintas instrument maupun genre musik lainnya. Bahkan sekarang sudah punya dua album, dimana album pertama bertajuk “Painting of Sense” April 2018 dan album kedua dengan tajuk “Menanti Matahari” Juli 2019.Intimate ConcertGitar klasik bagi Dwi Hansen adalah miniatur dari berbagai jenis instrument, karena ketika dimainkan akan bisa mewakili banyak unsur dari instrument musik yang dapat diwujudkan didalam gitar itu sendiri, mulai dari jazz, rock and roll, kroncong sampai dangdut.Intimate ConcertDalam Intimate Concert kali ini Dwi Hansen mengkombinasikan karya-karyanya yang diselinggi karya para maestro musik klasik dengan 11 repertoar, diantaranya adalah Si Boy, La Candeur, Prelude form Celo Suite, Selamat Pagi, The Pianist, Vals Venezolano no 3, When The Sun Goes Down, Sudut Pagi, Menanti Matahari yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kemudian diakhiri dengan Paris dan Padhang Bulan.Intimate Concert“Sebuah tampilan dengan komposisi yang keren dan megah, Dwi Hansen mampu memainkan komposisi secara original dengan gaya dia sendiri menggunakan teknik gitar klasik. Hanya kalau ini dimainkan dengan gitar akustik akan terlihat menjadi lebih megah”, ujar Gunawan Permadi/Pemred Suara Merdeka (pemain dan pemerhati gitar klasik) yang secara khusus datang di konser ini.Intimate ConcertIntimate Concert memang mempunyai beberapa misi dari Dwi Hansen diantaranya ingin mengenalkan musik instrument gitar kepada masyarakat Semarang dan mengenalkan karya-karyanya dari album pertama sampai album kedua selain itu juga ingin membangun iklim apresiasi untuk musik instrumental di Indonesia khususnya Kota Semarang.Intimate Concert“Apresiasi masyarakat Kota Semarang terhadap musik klasik sangat baik sekali, mereka mulai mengenal tentang keberadaan musik klasik instrumental benar-benar ada di dalam masyarakat, hal ini terlihat lewat adanya sebuah Komunitas Gitar Klasik Semarang yang semakin aktif dan menggeliat”, ujar Dwi Hansen disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here