myimage.id | WO Ngesti Pandowo pertama terbentuk pada tahun 1940 dimana di prakarsai oleh para seniman tulen antara lain Sastro Sabdho, Narto Sabdho, Darso Sabdho, Kusni, dan Sastro Soedirjo. WO Ngesti Pandowo.

WO Ngesti Pandowo

WO Ngesti Pandowo

Walau pun sampai sekarang mereka masih ada jadwal acara untuk tampil di panggung dan itu merupakan kegiatan rutin mingguan, tapi sungguh memprihatikan keadaannya sekarang di lihat dari segi pendapatan yang mereka peroleh setiap tampil dan antusias jumlah penonton sangat kurang.

WO Ngesti Pandowo

Walaupun tiket masuk sudah dibuat semurah mungkin tapi bagi sebagian orang tiket itu masih terlalu mahal…padahal hanya Rp.30.000,- kalaupun mau murah ada alternatif lain dengan jalan tiket terusan, kita bisa menonton sebanyak 10 pertunjukan WO Ngesti Pandowo  ini hanya dengan tiket seharga hanya Rp. 150.000,-

WO Ngesti Pandowo

Tapi itu pun masih belum menarik penonton. Dan penonton disini sangat sangat memprihatikan. Jumlah penonton kalau di bandingkan dengan pemainnya masih banyak pemainnya ”ironis”. Walaupun sebenarnya isi cerita dan lakon yang ditampilkan WO Ngesti Pandowo ini sangat menarik.

WO Ngesti Pandowo

Mereka dengan lugasnya menampilkan lakon yang diperankannya. Kalau dinilai dari fisik dan tampilan yang di tampilkan WO Ngesti Pandowo ini sangat detail sekali, dari segi kastum atau pakaian mereka sangat bagus dengan segala asesorisnya yang kalau kita mau detail melihat, mereka sangat sangat teliti sekali waktu mau tampil di panggung.

WO Ngesti Pandowo

Dari segi financial, WO Ngesti Pandowo pada setiap tampil pasti akan merugi terus, antara pendapatan dan uang yang diperoleh dari tiket masuk tidak sebanding. Terus sing nomboki siapa kalau kurang uang yang mereka peroleh? ( dari dana abadi?). Tapi bukan seniman sejati kalau hanya dengan cobaan itu mereka langsung berhenti main.

WO Ngesti Pandowo

Karena mereka sangat mencintai kesenian ini walaupun diterjang badai pun mereka tetap jalan untuk melestarikan kesenian ini. Namanya juga darah WO Ngesti Pandowo  ada pada mereka. Dengan segala upaya yang mereka jalankan untuk survival di bidang kesenian ini, walupun dengan tertatih tatih mereka tetap jalani.

WO Ngesti Pandowo

Kalau bukan kita yang mau melestarikan seni budaya ini siapa lagi? Di Indonesia sekarang tinggal 3 grup wayang orang yang masih eksis. WO Ngesti Pandowo di Semarang, WO Sriwedari di Solo dan WO Bharata di Jakarta. Semoga warisan budaya ini tidak hilang leyap tanpa ada pewarisnya.(Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here