myimage.id | Jathilan adalah sebuah tarian tradisional yang ada di Pulau Jawa, yang menggambarkan gerak tari Prajurit penunggang kuda dimana  menggunakan property kuda kepang. Dalam tampilannya Jathilan banyak mengambil cerita dari roman Panji, tetapi sekarang dalam perkembangannya sering juga mengambil cerita dari Mahabarata, Ramayana maupun legenda-legenda rakyat.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Jathilan banyak tumbuh dan berkembang di pelosok-pelosok desa yang mana sering dikaitkan dengan kepercayaan anismatic. Ini bisa dilihat dimana disetiap pementasannya secara umum sering menghadirkan adegan trance (ndadi) diakhir pertunjukan. Trance ini merupakan bagian dari sebuah ritual dimana keterkaitannya menghasilkan pola tradisi yang sudah ada dan hidup dimasyarakat. Sering sekali Jathilan dipakai sebagai bagian dari kegiatan sosial masyarakat desa seperti merti desa/bersih desa, yang sering memberikan efek sosial masyarakat sebagai sarana gotong royong.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Dalam pementasan Jathilan di adegan trance ini, bisa menghadirkan roh tertentu seperti roh kuda, kera maupun harimau. Pola menghadirkan roh ini dapat disebut dengan totemisme yang merupakan salah satu bentuk penjelmaan alam dalam tatanan moral. Kegiatan totemisme ini bukan merupakan hal utama, namun yang paling penting adalah rangkaian ritualnya yang  sangat sakral yang bertujuan untuk mempromosikan kesadaran manusia menjadi hamba Tuhan.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Dalam pemahaman konsep trance/ndadi dikenal ada 3 istilah jenisnya yakni, ndadi alami, ndadi disetrom (magic) dan ndadi acting. Ndadi alami terjadi karena situasi tempatnya yang memungkinkan untuk proses trance, seperti tempatnya wingit (angker). Ndadi disetrom (magic) adalah ndadi karena sengaja diundang oleh pawang dan ndadi acting adalah ndadi tiruan yang seolah-olah seperti ndadi sungguhan (berpura-pura ndadi).

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Dalam sejarahnya Jathilan terjadi karena akibat dari pengaruh budaya Pra Hindu yang lebih muncul di wilayah Bali, ini bisa dilihat dari rangkaian seremonial yang dipersiapkan sebelum pementasan dengan berbagai syarat seperti sesaji hingga mantra-mantra atau doa untuk menghadirkan roh pendahulu yang sudah tiada. Ini menunjukan pada masa prasejarah yang memiliki anggapan bahwa hidup tidak berhenti setelah orang meninggal dunia.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Dalam perkembangannya Jathilan sekarang ini mengalami kemajuan, hal ini terjadi seiring dengan industri Pariwisata. Ini terlihat dari perubahan pada pola sajian, struktur gerak, rias busana, property dan variasi iringan. Dari sinilah kemudian muncul beragam Jathilan yang tambah unik.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Konsekuensi dari makin variatifnya Jathilan ini memberikan alternative yang lebih banyak di dalam industri Pariwisata yang berpengaruh terhadap tanggapan Jathilan, selain sebagai bagian dari sebuah upacara, sekarang lebih sebagai tontonan atau hiburan rakyat.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Secara etimologi istilah kesenian ini dalam bahasa Jawa berarti meloncat-loncat yang menyerupai gerakan kuda, dimana awalan geraknya tidak beraturan kemudian ditata sedemikian rupa menjadi sebuah gerak yang lebih menarik untuk dilihat sebagai sebuah tarian, yang mengambarkan kuda yang sedang berjingkrak-jingkrak.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Penyebutan Jathilan disatu tempat dengan tempat lainnnya berbeda-beda seperti di daerah pesisir Utara Jawa menyebutnya dengan kuda kepang dengan nama Ebleg, di Jawa Timur daerah Tulungagung menyebutnya dengan jaranan, di Jawa Barat menyebutnya kuda lumping, karena propertinya dari kulit (lumping), sedangkan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian Selatan menyebut dengan jathilan.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Warna di kuda kepang dapat dimaknai sebagai 4 napsu manusia yaitu:

  1. Mutmainah dengan simbul warna putih yang bermakna kebaikan
  2. Amarah dengan warna merah yang bermakna pemberani.
  3. Supiyah dengan warna kuning dengan makna mudah untuk tergoda keinginan memiliki sesuatu.
  4. Lauamah dengan warna hitam dengan makna serakah.

Jathilan, tari kerakyatan, culture, classic dance

Dalam perkembangan sekarang, kesenian ini diharapkan mucul generasi muda untuk lebih mengembangkan dan melestarikannya. Keterlibatan pelajar/mahasiswa pada kesenian ini menunjukan daya tarik tersendiri Jathilan di mata kaum muda. Disamping sebagai fungsi pendidikan, yang mana saat ini masih banyak grup-grup Jathilan masih setia dengan tradisi dan struktur penyajian yang baku. Ini biasanya di pakai oleh genersi tua, sedangkan pada generasi sekarang lebih bervariatif baik dalam penari, penabuh, rias dan busana, peralatan tari, tata panggung, sesaji dan pawangnya. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here