myimage.id | Jemparingan Mataraman adalah sebuah kegiatan olah raga panahan tradisional yang ada di Yogyakarta, yang diadakan di Kastalan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Kegiatan ini diadakan dalam rangka peringatan ulang tahun Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Pakualam X, setiap 35 hari tepatnya pada hari Sabtu Kliwon tanggal 31 Maret 2018, yang bertepatan dengan Atraksi Wisata Budaya, Pergantian Bregada Jaga di Kadipaten Pakualam.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Jemparingan Mataraman kalau ditelusuri sudah ada sejak berdirinya kerajaan yang ada di Yogyakarta. Jemparingan ini merupakan kegiatan olah raga sekaligus keahlian bela diri yang dulu dimiliki oleh para raja dan para pasukan Keraton untuk berperang.  Dalam perkembangannya sekarang, jemparingan bukan untuk berperang tapi olah raga tradisional yang mampu menumbuhkan dan membangun karakter yang lebih baik.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Jemparingan sangat digemari oleh para Raja Yogyakarta, karena sebagai kerajaan  yang mengaju pada ajaran Nabi, bahwa setiap orang hendaknya menguasai 3 keahlian yaitu berenang, berkuda dan jemparingan (memanah).

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Tidak seperti panahan biasanya yang dilakukan secara berdiri, Jemparingan Mataraman dilakukan dengan cara bersila dan lebih uniknya pakaian yang dikenakan oleh semua peserta menggunakan busana budaya Jawa secara komplit. Yang laki-laki menggunakan pakaian beskap, jarik  dan blangkon, sedangkan perempuannya menggunakan busana kebaya dengan jarik. Suasana tradisonal jaman dahulu terasa kental sekali pada acara ini.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Alat yang digunakan Jemparingan Mataraman juga sangat tradisional sekali, dimana alat itu adalah gendewa yang terbuat dari kayu dan bambu. Ujung kanan-kiri atau biasanya disebut sewiwi sedangkan bagian tengah untuk meletakan anak panah yang terbuat dari kau disebut cengkolak. Talinya terbuat dari benang nilon disebut sendeng yang dikaitkan pada ujung-ujung sewiwi. Idealnya panjang gendewa disesuaikan dengan tinggi orang yang memakainya sekitar 168 cm.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Anak panahnya terbuat dari bambu yang disebut deder, sedangkan ujung anak panahnya disebut bedor dengan bentuk yang runcing dan tajam yang terbuat dari logam. Pada pangkal terdapat bulu unggas yang disebut godongan atau wulu. Pada ujung pangkal terdapat kaitan kecil bernama nyenyep sebagai pengunci anak panah pada tali busur.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Sedangkan targetnya disebut dengan bandulan atau wong-wongan yang terbuat dari jerami yang dibungkus dengan kain. Ada dua bagian pada wong-wongan, dimana pada pada ujungnya yang warna merah dengan tinggi sekitar 2 cm dan warna putih di bawahnya dengan panjang 20 cm. Bilamana target panah mengenai ini mendapat nilai 3, sedangkan warna putih mendapat nilai 1. Setiap peserta diberi kesempatan setiap rambahannya (periode) dengan duduk bersila memanah 4 kali kesempatan dengan jumlah rambahan sebanyak 20. Setiap periode ditandai dengan bunyi bende (gong kecil) yang dipukul oleh panitia. Jarak peserta dengan bandulan sekitar 30 M.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Peserta walaupun semua memakai busana tradisional, tapi ternyata mereka rata-rata adalah atlit panahan profesional dari beberapa daerah yang mencoba ketrampilan Jemparingan Mataram ini. Mereka bahkan datang dari luar daerah Yogyakarta, seperti Klaten, Solo, Boyolali dan masih banyak daerah yang lainnya.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Sekarang ini Jemparingan Mataraman tidak lagi dikenakan oleh pasukan Kraton untuk berperang tapi lebih sebagai pasukan seremonial sebagai pengawal upacara Kerajaan. Jemparingan sekarang ini lebih diambil makna yang terkandung didalamnya, dimana lebih dalam pembentukan karakter seseorang pada waktu menarik gendewa dengan anak panah yang ditujukan pada sasaran tidak lagi menggunakan mata tapi menggunakan hati (rasa). Sedangkan musuh dalam jemparingan sebenarnya adalah diri kita sendiri bukan lawan yang ada disamping kita.

Jemparingan Mataraman, cullture, kadipaten pakualam

Dalam  tataran  teknis, dikenal empat  kriteria  yang  digunakan sebagai patokan baku Jemparingan Mataraman, yakni, sawiji, greget, sengguh,dan ora mingkuh.  Untuk  memadukan penguasaan teknik  dan kemampuan menghayati dari sisi filosofi Jemparingan Mataraman, akan memberikan satu kelebihan bagi pemanah. Untuk menuju satu  pemahaman tersebut secara utuh diperlukan satu proses atau tahapan dari tingkatan satu ke tingkat berikutnya melalui tahap latihan yang terus menerus. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here