myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang, sedherek-sedherek. Cerita Panji melalui situs resmi Memory of  the World-UNESCO dijadikan sebagai memory of the world (MoW) atau ingatan dunia sebagai salah satu warisan budaya dunia.  Dalam pengembanganya para seniman sering menampilkan genre ini sebagai ide ceritanya. Salah satunya adalah lakon Joko Bluwo yang menceritakan tentang ujian yang dilakukan oleh Panji (Inukertapati) dalam memilih pasangan hidupnya (Dewi Sekartaji).Joko BluwoCerita ini banyak dikenal oleh masyarakat melalui cerita Endang Rara Tompe, Lutung Kasarung, Enthit dan masih banyak yang lainnya. Memang cerita Panji selama ini berkembang tidak hanya di Indonesia saja tetapi berkembang juga sampai di negara Thailand dan Kamboja.Joko BluwoDalam ceritanya Inukertapati menyamar menjadi Joko Bluwo, semua hal ini dilakukan hanya untuk menguji kesetiaan calon istrinya Dewi Sekartaji. Segala ujian ini dirancang oleh Inukertapati, bahwa segala permintaan Dewi Sekartaji yang bisa memberi hanya Inukertapati.Joko BluwoKeduannya memang berjodoh dan menjadi suami istri pada akhirnya. Cerita panji “Joko Bluwo” ini berkembang popular di daerah Klaten dan Surakarta. Cerita Panji merupakan cerita asli dari Tanah Jawa yang mengisahkan Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji yang muncul pada abad ke 13, cerita ini sangat popular sekali dan digemari di masyarakat Jawa khususnya.Joko BluwoLakon Joko Bluwo ditampilkan oleh Yayasan Irama Tjitra pada tanggal 22 Juni dalam acara penutupan Pagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta 2019 di Pendopo Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No. 364 Sewon, Bantul, DIY.Joko BluwoPagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta 2019 di ikuti oleh 6 sanggar tari klasik Yogyakarta diantaranya Paguyuban Kesenian Suryo Kencono “Pendawa Laku Jantra”, Krida Beksa Wirama “ Sekar Tanjung Biru”, Yayasan Siswo Among Bekso “Menak Talsamat”, Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram “Durga Ruwat”, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa “ Kumbakarna Gugur”, dan Yayasan Irama Tjitra “Joko Bluwo”.Joko BluwoKomposisi dalam lakon Joko Bluwo ini mengambarkan tentang kesetiaan calon seorang istri yang ditinggal jauh oleh calon suaminya. Walaupun penuh dengan pengorbanan dan penderitaan, semua ini dilewatinya dengan hati yang teguh. Hasilnya pun sebuah kebahagiaan, manakala semua cobaan itu bisa dilaluinya.Joko BluwoSanggar Irama Tjitra adalah sebuah sanggar tari gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1949 yang kegiatan setiap harinya di Bangsal Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY. Sanggar ini dulunya dibentuk oleh para seniman-seniman muda yang bergabung di Sanggar Tari Krido Bekso Wirama yang merupakan sanggar tertua di Yogyakarta yang lahir di luar tembok Kraton Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1918.Joko BluwoSanggar Irama Tjitra pernah vakum agak lama lepas peristiwa pada tahun 1965 di Indonesia, tapi kemudian mulai aktip lagi pada tahun 1997 sampai sekarang. Sanggar ini sekarang lebih memprioritaskan regenerasi penari, dimana penari yang lebih muda lebih diberi kesempatan untuk tampil pentas dengan bimbingan para seniornya.Joko BluwoDalam pagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta setiap karakter selalu berbeda, baik yang mengambil cerita dari Mahabarata, Ramayana, Serat Panji atau Serat Menak, pembedanya adalah bentuk tariannya, karena mempunyai spesifikasi yang menunjukan personifikasi karakter yang dimainkan.Joko BluwoTari klasik gaya Yogyakarta mempunyai pondasi yang kuat dan sudah mengakar di dalam masyarakatnya. Anak muda harus di beri kesempatan yang tepat dan luas untuk mengapresiasi seni budaya ini. Dengan tampilnya anak muda bersama para senior dalam satu panggung, akan membantu anak muda untuk lebih memahami Tari Klasik Gaya Yogyakarta secara utuh dan benar, ujar Priyo Mustiko salah satu penggiat seni budaya di Yogyakarta.Joko BluwoRagam gerak pada lakon Joko Bluwo menggunakan ragam gerak Tari Klasik Gaya Yogyakarta, hanya ada beberapa tekanan-tekanan yang spesifik yang hanya digunakan pada tarian ini, seperti pacak gulu yang mana topengnya digerakan oleh kepala dan leher saja, gerakan obah lambung, gerakan menendang kain wiru yang digunakan.  dan terakhir tregelan atau gerakan patah-patah untuk menghidupkan karakter serta ekspresi topeng. Topeng merupakan benda mati yang harus dihidupkan dalam tarian ini.Joko BluwoBusananya pun sama, semua menggunakan busana klasik gaya Yogyakarta yang terinspirasi dari cerita Panji dari wayang gedhok. Disini tidak memusatkan pada gemerlapnya kastum, tapi lebih diambilkan dari citra semangat dan penghayatannya pada karakter tokoh yang dimainkan. Ada yang special dibusana manakala mengambil cerita panji, pada bagian kepala menggunakan irah-irahan tekes.Joko BluwoJoko Bluwo

1Sutradara:Drs. Sunardi, M. Pd
2Penata Tari:Sukamto
3Penata Iringan:Sunaryo, SST, M.Sn
4Penata Rias:D. Suharto, M.Sn
5Penata Busana:Suryo Bintoro, S.Pd

Joko Bluwo “Sanggar tari sekarang ini sebagai penopang Tari Klasik Gaya Yogyakarta diluar tembok Kraton, melalui pagelaran yang menampilkan genre-genre yang sudah ada, maka akan lebih mengenalkan kepada masyarakat luas apa arti pelestarian dan pengembangan secara nyata Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Semua ini untuk menunjukan keaneka ragaman Tari Klasik Gaya Yogyakarta”, ujar Drs. Sunardi, M. Pd selaku ketua Sanggar Irama Tjitra. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here