[metaslider id=1838]

myimage.id | Kaum difabel adalah orang yang memiliki keterbatasan secara fisik, mental, sensorik dan emosional untuk kegiatan sehari-hari secara normal atau layak. Kaum difabel sering sekali di pandang sebelah mata bagi sebagian besar masyarakat kita. Bahkan fasilitas untuk kaum di fable sangat terbatas sekali di kehidupan bermasyakat padahal mereka sebenarnya sama dengan orang normal biasa yang ingin sekali di terima tapi bukan di kasihani.

Bahkan kaum difabel yang serba terbatas ini sekarang lebih kreatif. Mereka sering mengadakan acara untuk kaum mereka seperti pada Porseni SDLB Tingkat Kabupaten Semarang tahun 2017 di SLB Negeri Ungaran baru-baru ini. Tujuan diadakan Porseni kaum difabel tingkat SD ini adalah untuk:

  • Untuk mengetahui bakat bakat anak SDLB agar lebih bisa di optimalkan kedepannya
  • Memperkuat rasa percaya diri dan lebih bersemangat dalam menjalin kehidupan.
  • Pembelajaran berinteraksi terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Banyak masyarakat kita yang yang anggota keluarga atau sanak family kita mempunyai keterbatasan seperti kaum difabel ini. Tapi karena ketidak tahuan mereka tentang metode buat kaum difabel, rata-rata mereka malah menyembunyikan anggota keluarga ini. Dan ini adalah suatu kesalahan fatal sekali. Biasanya yang terjadi adalah mereka dari keluarga yang terhormat (kaya dan terpandang di mata masyarakat) atau keluarga yang jauh di pelosok dengan segala keterbatasan mereka.

Peserta porseni kaum difabel ini tidak ada pengolongan  bagi mereka . Semua golongan mereka dapat ikut semua. Ada beberapa golongan di kaum difabel ini antara lain :

  • Golongan A adalah golongan tuna netra. Mereka tidak dapat melihat.
  • Golongan B adalah golongan tuna rungu wicara. Mereka tidak bisa mendengar dan bicara.
  • Golongan C adalah golongan tuna grahita. Mereka yang keterbelakangan mental atau IQ mereka rendah
  • Golongan C1 adalah golongan monolid. Mereka lebih berat dari golongan C dan cirinya mereka wajahnya pasti sama di seluruh dunia dengan ciri-ciri bibir tebal sebelah, mata menyempit, dan rambut lurus.
  • Golongan D adalah golongan tuna daksa. Mereka cacat fisik baik dari lahir maupun tidak seperti kehilangan salah satu kaki atau tangan, punya dua kaki atau tangan tapi kurang berfungsi normal atau salah satunya tidak berfungsi.
  • Golongan E adalah golongan tuna sosial. Mereka bisa dikatakan tingkahnya sangat keterlaluan, maunya semua yang ada di dunia ini yang seperti keinginannya dia. Dalam bahasa jawa bisa di istilahkan sak kepanake dewe.
  • Golongan F adalah golongan autis atau hiperaktif. Golongan ini sering di jumpai punya IQ di atas rata-rata normal atau bahkan bisa di katakan jenius.
  • Golongan G adalah golongan ganda artinya golongan ini mempunyai lebih dari satu kekurangan seperti tuna rungu  wicara ditambah dia juga masuk digolongan tuna grahita. Intinya golongan ini mempunyai golongan lebih dari satu golongan.

Porseni untuk kaum difabel ini di buka dengan tarian pembuka berupa tarian pendet dari bali yang menggambarkan penyambutan tamu agung. Tarian di ini ditarikan oleh empat orang gadis yang semuanya adalah tuna rungu wicara…..lho kok bisa orang tidak bisa mendengar dan bicara bisa menarikan tarian ini. Mereka di pandu sama gurunya hanya dengan bahasa isyarat. Ini adalah anugerah Tuhan mereka dengan segala keterbatasan  bisa menarikan ini. Mereka di latih oleh guru mereka yang berasal dari Pulau Bali (ibu Dayu). Kelebihan anak yang tuna rungu wicara adalah daya tangkap mereka ternyata melebihi orang normal. Mereka hanya dengan 4 pertemuan mampu menyerap semua yang diajarkan gurunya. Dan siap tampil menghibur para peserta porseni lainnya.

Porseni kaum difabel ini yang diperlombakan banyak sekali. Mulai dari menari, fashion show, menyanyi, baca puisi, melukis, mewarnai, pantomin, mozaik, olah raga lari, bulutangkis, bola pinpong. Mereka mengikuti ini dengan suka citanya. Dengan mereka berkumpul sesama kaum difable ini, mereka sangat terbantu mentalnya. Sekali lagi mereka tidak ingin di kasihi oleh kaum normal tapi hanya ingin diterima di masyarakat apa adanya. Tidak ada perbedaan antara yang normal dan kaum difabel ini.

Kaum difabel ini merasa sekarang pemerintah lebih memperhatikan kaum mereka. Mereka sangat terbantu dengan fasilitas-fasilitas yang semakin mereka rasakan selama beberapa tahun ini selalu meningkat. Mulai dari perhatian di bantu sekolah SDLB Negeri yang gratis sampai dibantu fasilitas umum yang semakin bisa mereka rasakan manfaatnya serta fasilitas untuk meningkatkan bakat–bakat mereka di dunia kerja. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here