myimage.id | Wahyudi adalah seorang guru SLB dimana beliau salah satu penyandang disabilitas golongan D yaitu golongan tuna daksa dengan  cacat fisik dari lahir di mana salah satu tangannya kurang sempurna.

Sejak kecil kebetulan bersekolah di sekolah bagi orang normal di SD 1,3,6 Ungaran, SMPN  3 Ungaran, SMAN 1 Ungaran. Wahyudi merupakan salah satu aktivis dan pengurus PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia) sampai sekarang dan sering bersama teman-temannya sesama penyandang disabilitas yang tergabung di dalam PPDI mengadakan semacam workshop atau pelatihan serta memberi motivasi bagi penyandang disabilitas.

Pada tahun 2005 Wahyudi mengabdikan dirinya ikut jadi pengajar dan motivator di SLB Negeri Ungaran. Dia  mengajar ketrampilan khususnya di bidang tata busana sebagai keahliannya. Rata-rata yang ikut pada bidang ketrampilannya di SLB Negeri Ungaran ini adalah golongan B yaitu adalah golongan tuna rungu wicara, mereka tidak bisa mendengar dan bicara serta golongan C adalah golongan tuna grahita, mereka yang keterbelakangan mental atau IQ mereka rendah. Walaupun dengan keterbatasan di dirinya Wahyudi tidak patah semangat.

Mengajari penyandang disabilitas banyak hambatan yang dirasakannya, terutama yang golongan C ini. Karena mereka IQ nya di bawah rata-rata maka kadang-kadang anak-anak ini  di beri pelajaran menjahit atau bikin pola sekarang , pasti besok sudah lupa apa yang sudah di ajarkan kemarin, bahkan bukan menunggu besok, pagi di ajarkan seperti buat krah baju , nanti siang pasti mereka akan sudah lupa. Itulah kelemahan anak-anak tuna grahita ini. Kalau pada tuna rungu wicara kesulitanya hanya pada komunikasi bicara, karena mereka rata-rata membaca gerak bibir untuk mengerti maksud dari Wahyudi ajarkan.

Walaupun dengan segala keterbatasannya hasil kerajinan mereka bisa di katakan bagus. Bahkan mereka sering di undang untuk expo hasil karya penyandang disabilitas, yang tahun ini di laksanakan pada tanggal 11 sampai 13 April 2017 di Hotel Pandanaran di jalan Pandanaran No 58 Semarang yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah.

Selain mengajar di SLB Negeri Ungaran Wahyudi juga punya usaha yang ditekuninya yaitu sebagai usaha garment dengan nama KUBE WAHYU, menerima semua jahitan dari pria maupun wanita dan sebagai tempat grosir pakaian jadi atau kaos olah raga di rumahnya di komplek Loka Bina Karya (LBK) Penyandang Cacat Karangjati, Jl Tegal Sari Bergas yang merupakan rumah binaan Dinas Kesejahteraan Sosial dan Keluarga Berencana Kabupaten Semarang.

Bahkan usahanya ini sering digunakan sebagai tempat kerja lapangan anak–anak SMK, seperti SMK Pringapus sejak tahun 2010 sampai sekarang, SMK PGRI Salatiga tapi tahun 2012 sudah tidak menggunakan tempat usaha Wahyudi dengan alasan tempat usahanya terlalu jauh dengan sekolah SMK PGRI Salatiga. Pernah pada tahun 2005-2007 tempat usahanya di jadikan tempat belajar mahasiswa dari Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Semarang (UNTAG). Para mahasisiwa ini  belajar tentang UMKM.

Wahyudi pernah  merasakan cibiran masyarakat yang membuat mentalnya sempat jatuh waktu dia lepas mengikuti pelatihan di BLK Pudak Payung Semarang, Wahyudi melamar di salah satu pabrik Garment di Semarang.  Ternyata sampai pada pabrik dia malah menerima cibiran dari pabrik…”apa bisa kerja disini kalau hanya mempunyai satu tangan” . Dari sinilah dia merasa benar-benar jadi bagian masyarakat kaum disabilitas yang penuh dengan cemooh dari pabrik tersebut. Tapi dalam perjalanannya dia bertemu dengan seorang ibu Koyimah yang juga termasuk penyandang disabilitas. Ibu ini memberikan motivasi untuk lebih semangat dengan kehidupan ini. Ibu Koyimah bahkan kedua tangannya buntung, tapi dia mampu menghidupi anak-anaknya dengan usaha sebagai fotographer. Disinilah tonggak sejarah bagi Wahyudi untuk menjalani kehidupannya menjadi semangat dengan membuktikan bakat usahanyanya sebagai tukang jahit. Target hidupnya rata-rata hampir sama dengan kaum disabilitas lainnya yaitu ingin diberi kesempatan untuk berusaha bukan dikasihi di dalam masyarakat.

Wahyudi dan teman-temanya pernah suatu ketika di tawari untuk membawa anak asuhnya di suatu pabrik garment di Semarang. Dia membawa 4 anak untuk ujian di pabrik garment tersebut dan semua masuk atau lulus ujian. Pada waktu itu di pabrik tersebut semacam ada pendampingan penyandang disabilitas yang berasal dari progam ILO (Internasional Labour Organization) PBB. Sayang program ini hanya terlangsung 3 bulan saja. Karena tidak ada pendampingan ILO berkelanjutan pada pabrik itu maka hanya tinggal satu saja anak asuh dari wahyudi yang masih bertahan di pabrik tersebut.

Sekarang perhatian pemerintah semakin baik untuk penyandang di sabilitas ini. Bahkan pemerintah membuat Undang- Undang nomer 8 tahun 2016 dimana Pemerintah Daerah/BUMN/BUMD wajib memperkerjakan penyandang disabilitas sebanyak 2%. Khusus untuk perusahaan swasta wajib mengalokasikan para penyandang disabilitas sebanyak 1% dari jumlah semua tenaga kerjanya.  Tapi kenyataan di lapangan masih jauh dari harapan . Rata-rata pabrik swasta tidak mengindahkan undang-undang ini. Mereka selalu beralasan belum ada perdanya kalau ditanya masalah ini. Suatu kenyataan yang pahit yang harus diterima oleh para penyandang disabilitasi ini.

Di kabupaten Semarang ada semacam tempat uji kompetensi bagi semua orang yang bisa menjahit. Pertama di Gripac pabrik Apac Inti Corporation Bawen, disini boleh diikuti oleh semua orang baik penyandang disabilitas maupun orang normal. Ada satu lagi di Bawen, LPK Kartika Bawen yang bagi penyandang disabilitas sangat terbantu sekali dengan adanya LPK ini. Karena disini para penyandang disabilitas benar-benar di bantu untuk mendapatkan uji kompetensi menjahit.

Harapan Wahyudi sebagai pengurus PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia), pemerintah membentuk Komisi Nasional Perlindungan Kaum Disabilitas. Dengan harapan ini nantinya bila ada kasus hukum yang menimpa salah satu penyandang disabilitas, komisi ini mampu bekerja untuk memberikan lawyer atau pengacara untuk mendampingi mereka di pengadilan, karena Wahyudi menyadari rata-rata penyandang disabilitas adalah orang-orang yang di bawah garis kemiskinan. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here