[metaslider id=2094]

myimage.id | Kaum difabel adalah orang yang memiliki keterbatasan secara fisik, mental, sensorik dan emosional untuk kegiatan sehari-hari secara normal atau layak. Moh Agus Yusup adalah seorang tuna netra yang bisa memperbaiki elektronika yang rusak, khususnya pada kulkas, mesin cuci dan ac. Suatu karunia yang di berikan Tuhan tanpa batas.

Awalnya Moh Agus Yusup adalah seorang dengan fisik yang normal . Moh Agus Yusup merupakan lulusan STM Pembangunan Semarang. Setelah lulus dia bekerja di beberapa perusahaan dan terahkir dia ditugaskan di Purwokerto. Tapi pada tahun 2008 waktu dia bertugas di salah satu perusahaan swasta di kota Purwokerto inilah , dia tertimpa sakit mata yang sampai sekarang tidak bisa disembuhkan. Segala daya usaha waktu di vonis sakit, dia beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Tapi ternyata usaha itu tidak berhasil, dan tepatnya tahun 2008 dia di vonis matanya buta. Tapi disini yang paling di kagumi adalah kepasrahannya terhadap Yang Maha Kuasa atas cobaan yang di terima. Dia langsung bangkit untuk melanjutkan hidup dengan bekerja di bidang memperbaiki alat elektronika untuk menghidupi anak istrinya. Dia di bantu beberapa rekannya membuat bengkel elektronika.  Segalanya dia dikerjakan dengan bantuan rekannya, tapi semua di lapangan dia yang mengarahkan apa saja yang harus di kerjakan. Karena dia tidak bisa melihat ada beberapa pekerjaan perbaikan , dia membutuhkan bantuan rekannya sebagai mata yang dia arahkan atau inginkan.

Usaha bengkel elektronika Moh Agus Yusup sempat terhenti ketika dia kena serangan stroke ringan pada tahun 2012. Karena tidak sempat untuk mengkoordinasi bengkelnya, rekannya semua pergi untuk membuat bengkel sendiri. Dia sangat terpuruk tatkala menghadapi serangan stroke ringan. Sempat putus asa karena dia merasa tidak berguna bagi keluarnya, dia berpikir sudah buta di tambah stroke lagi. Perlahan-lahan Moh Agus Yusup ini bangkit dari keterpurukan. Dia pikir harus cepat bangkit dan sembuh dulu dari stroke. Moh Agus Yusup berkonsultasi dengan Panti Rehabilitasi Dinas Sosial dan Keluarga Berencana Kabupaten Semarang, dia di beri motivasi untuk bangkit, dan di anjurkan ke Balai Rehabilitasi Tuna Netra Temanggung. Disini dia diberi motivasi dan ketrampilan memijat.Tapi karena kurang bakat akhirnya dia ke Sehat Mata di Jatisari Mijen Semarang sampai akhirnya dia di rekrut sama temannya tuna netra untuk buka bengkel di tempatnya. Karena alatnya tidak ada maka usaha itu tidak jalan.

Dalam perjalannya Moh Agus Yusup ketemu sama salah satu pengurus Pertuni Kabupaten Semarang, Moh Agus Yusup disarankan untuk membuat semacam proposal untuk mendapat bantuan alat-alat bengkel elektonika yang dia inginkan di Baziz Kabupaten Semarang. Dia mendapat bantuan walaupun tidak lengkap alatnya tapi sudah dapat untuk kerja. Perlahan tapi pasti usaha bengkel elektronikanya mulai jalan.

Karena di tolong sama rekan Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) maka organisasi ini Moh Agus Yusup ikuti . Lewat inilah dia berkumpul dengan teman-teman tunanetra berbagi. Dengan berkumpul dengan mereka mental dan kehidupan sosial dia terpenuhi. Mereka saling mendukung satu sama lain. Bahkan setiap minggu sekali ada pertemuan dimana pertemuannya juga berkeliling antar anggota Pertuni.

Pada bulan Juli 2016 Moh Agus Yusup tinggal di komplek Loka Bina Karya (LBK) Penyandang Cacat Karangjati, Jl Tegal Sari Bergas yang merupakan rumah binaan Dinas Kesejahteraan Sosial dan Keluarga Berencana Kabupaten Semarang. Moh Agus Yusup menjalankan bisnis bengkel elektronika, dia di bantu rekannya yang juga tetangganya (Hono), yang jadi mata bagi dia di setiap memperbaiki barang elektronika yang rusak. Rata-rata pelanggan setianya masih seputar Semarang, Ungaran, Boja, Sumowono dan sekitar tempat tinggalnya. Service bengkel yang didirikan menerima panggilan ataupun pasien bisa datang ke bengkelnya ini.

Yang di harapkan dari Moh Agus Yusup adalah perhatian dari pemerintah untuk lebih memperhatikan penyandang disabilitas. Terutama yang membutuhkan fasilitas-fasilitas untuk penunjang kerja di masyarakat. Sedikit tip di dunia fotografi, bilamana ingin meliput penyandang disabilitas terutama tuna netra sebaiknya kita siapkan lensa dengan bukaan paling besar dan kalau bisa kita siapkan tripod, karena rata-rata orang tuna netra, tempat yang dihuninya rata-rata pencahayaannya low light. Mereka tidak butuh lampu terang untuk hidupnya.(Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here