myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sebuah cerita kuno tentang  akulturasi budaya diangkat dalam sebuah pertunjukan menjadi sesuatu yang sangat menarik sekali, Apalagi semua ini ditampilkan dalam bentuk tarian yang kekinian. Ya semua ini terlihat dalam Kang Ching Wee VS Dewi Dhanu yang merupakan sebuah fragmen tari yang menceritakan tentang kisah terjadinya Barong Landung atau bisa disebut Cinta Meretas Batas, dimana cerita ini diyakini terjadi pada jaman Laksamana Cheng Ho (Ming Dinasty).Kang Ching Wee VS Dewi DhanuDikisahkan ada seorang saudagar kaya dari negeri Tiongkok (Cina) berlabuh di Pulau Bali bersama putrinya yang sangat cantik jelita bernama Kang Ching Wee. Karena kecantikannya, dia dipersunting oleh Raja Bali, Sri Jayapangus. Dari perkawinan keduanya ini ternyata belum dikaruniai putera, maka Sri Jayapangus minta ijin kepada istrinya bertapa di Gunung Batur untuk memohon Dewata agar mendapat keturunan.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuTapi di Gunung Batur, Sri Jayapangus bertemu dengan Dewi Danau Batur yang cantik jelita bernama Dewi Dhanu. Keduanya jatuh cinta dan melangsungkan pernikahan. Dari pernikahan ini mereka dikaruniani seorang putra laki-laki.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuPutri Kang Ching Wee yang lama ditinggal kemudian mencari Sri Jayapangus di Gunung Batur. Setelah bertemu, dia marah besar karena mengetahui bahwa suaminya ternyata sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Maka terjadilah perselisihan/peperangan antara Kang Chi Wee dengan Dewi Dhanu. Karena keduanya sama-sama sakti, maka dalam peperangan ini tidak ada yang kalah dan menang.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuMelihat ini semua, turunlah Dewata dengan sangat marah. Sri Rajapangus dikutuk menjadi sosok Barong Landung (Jro Gde). Melihat suaminya dikutuk, Putri Kang Chi Wee memohon kepada Dewata agar dirinya juga ikut dikutuk menjadi Barong Landung (Jro Luh) agar selalu bisa mendampingi suaminya tercinta.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuPermintaan ini dikabulkan oleh Dewata, sehingga terjadilah sepasang Barong Landung dan Dewi Dhanu ditugaskan oleh Dewata untuk menjaga sepasang Barong Landung ini dan mengarak ke desa sambil menjelaskan kepada masyarakat agar jangan meniru perbuatan mereka (perselingkungan).Kang Ching Wee VS Dewi DhanuFragmen tari ini diciptakan oleh Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok) pada tahun 2004, menjelang ulang tahun yang ke 50 dalam bentuk Arja Muani (Arja Laki-laki) yang ditampilkan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuArja adalah drama tari yang polular di Bali yang dalam pementasannya banyak menggunakan tembang, kalau di Jawa biasa disebut dengan Langendriyan. Dalam prosesnya beliau banyak belajar pada kesenian Bali dan sangat tertarik dengan kisah Kang Chi Wee yang sejarahnya tertulis didalam lontar Bali.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuPenelitian cerita di lakukan pada tahun 2004 bersama sahabat beliau Ni Nyoman Sudewi dengan beberapa nara sumber lainnya, seperti I Gusti Agung Ngurah Supartha, Gung Aji Kapal, I Wayan Turun (ahli Lontar Bali), Prof Dr. I Wayan Dibia (dosen ISI Bali , Maestro Tari dan Seniman ), Ni Ketut Arini (Maestro Tari Bali), I Made Sidja (Seniman Dalang dari desa Bona Bali), serta beliau juga melakukan ritual di beberapa Pura, seperti ke Pura Sadha Banjar Kapal, Pura Ulundhanu Kintamani, Pura Dalem Balingkang danau Batur.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuAda yang menarik di Bali, dimana Kelenteng Cina terletak di dalam Pura Hindu yang semuanya ini menunjukan bahwa akulturasi agama di Bali sangat luar biasa dalam hal toleransi beragama maupun berkeyakinan. Ini semua merupakan bagian dari keistimewaan pulau Bali di mata dunia sebagai tempat favorit wisata dunia.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuFragmen tari Kang Ching Wee VS Dewi Dhanu ini digelar dalam penutupan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang ke XIV yang diselenggarakan pada tanggal 13-19 Pebruari 2019 dengan tema “Harmony in Diversity”. Acara ini diselenggarakan oleh Jogya Chinese Art Culture Center (JCACC) di kampung Ketandan-Malioboro Yogyakarta.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuDidik Nini Thowok sangat produktif dalam pembuatan sebuah tarian, dimana setiap tahunnya selalu membuat karya-karya tari baru yang disesuaikan dengan tema tahun Cinanya, seperti tari babi, tari ayam api, tari kambing.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuKomposisi dalam framen tari ini penuh dengan syarat pesan akulturasi, dimana pernikahan antar RAS dengan segala perbedaan sudah terjadi pada jaman dahulu kala dan ini merupakan sebuah history di Bali dan benar-benar ada.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuGerak dalam Fragmen tari Kang Ching Wee VS Dewi Dhanu terbagi dalam dua, dimana ragam gerak yang dipakai Dewi Dhanu dan Sri Jayapangus murni menggunakan ragam gerak tari Bali, sedangkan Kang Ching Wee mengkolaborasikan gerak-gerak tari Cina yang dipelajari dari opera Cina, dimana semuanya disesuaikan dengan cerita fragmen ini.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuBusana yang dikenakan juga merupakan akulturasi 2 kebudayaan, dimana Kang Chi Wee menggunakan busana asli Cina yang biasanya dipakai untuk Double Sword yang dikombinasikan dengan busana Bali, mulai dari lamak, badok dan gelungnya, dengan asesoris campuran antara Bali dan Cina yang sangat padu tanpa mengurangi segi estetika dan fungsinya.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuSedangkan yang digunakan Sri Jayapangus dan Dewi Dhanu busananya murni busana Bali. Sedangkan properti yang digunakan dalam fragmen ini menggunakan topeng Landung Hitam (Jro Gde), topeng Landung Putih (Jro Luh) serta sepasang pedang.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuIringan musik yang mengiringinya pun mengkolaborasikan antara musik Cina dan Bali . Sangat luar biasa dan apik sekali, dimana sambungan-sambungan keduanya begitu halus dan menyatu tanpa terasa jedanya yang memberi  kesan harmonis dan seimbang.Kang Ching Wee VS Dewi DhanuFragmen tari Kang Ching Wee VS Dewi Dhanu.

1Koreografer:Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok)
2Produser:Afif Syakur
3Pemain:
  1. Kang Chi Wee (Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok))
  2. Dewi Danu (Ni Nyoman Sudewi)
  3. Sri Jayapangus (Anak Agung Putera Negara)
4Penata Iringan:Anon Suneko dan I Nyoman Cau
5Penata Busana:Didik Hadiprayitno (Didik Nini Thowok)
6Topeng/Mask:I made Redha (Banjar Puaya Batuan Sukawati Bali)
7Support:Siska Salon dan Ibu Elly JCACC

Kang Ching Wee VS Dewi DhanuSebuah sejarah tentang akulturasi budaya yang sudah ada sejak jaman dulu yang memberikan pelajaran hidup bagi kita semua,janganlah kita melanggar aturan alam dan dewata, karena akan merugikan kita semua. Kejujuran dan kebijaksanaan kita sebagai manusi dituntut di dunia ini, ujar Didik Nini Thowok.  (Soebijanto/Reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here