myimage.id | Khoul Ki Ajar Bontit merupakan doa bersama untuk memperingati akan perjalanan Bambang Sentono atau yang lebih di kenal sebagai Ki Ajar Bontit dalam penyebaran agama Islam di Dusun Ngumpul, Pasingitan, Boja, Kabupaten Kendal. Dalam acara ini masyarakat Dusun Ngumpul melakukan arak-arakan tumpeng hasil panen pertanian dan ternak mereka yang nanti di tempat petilasan Bambang Sentono di makan bersama sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas anugerah bahwa hasil panen pertanian dan ternak mereka sangat berlimpah.

Khoul Ki Ajar Bontit yang di lakukan oleh masyarakat Dusun Ngumpul ini di lakukan setiap tahunnya. Sejarahnya adalah sekitar tahun 1478 H dimana dengan lengsernya kerajaan Majapahit, ajaran Islam mulai masuk di tanah Jawa. Ini di mulai dengan keberadaan Kerajaan Demak Bintoro lagi jaya-jayanya, penyebaran agama islam yang di lakukan oleh para Wali Songo menyebar keseluruh Nusantara.

Khoul Ki Ajar Bontit

Penyebaran agama islam di lereng Gunung Ungaran sebelah Utara (Nyatnyono) di lakukan oleh murid Sunan Kalijaga, keduanya bernama Bambang Kartonadi dan Bambang Sentono. Selain mereka mempunyai bekal agama, keduanya juga di bekali dengan kesaktian oleh Sunan Kalijaga. Penyebaran agama Islam di daerah ini berkembang dengan baik. Tapi juga masih manusia yang mempunyai segala kekurangan, kedua murid Sunan Kalijaga dalam perjalanannya ada ketidak cocokan antara keduanya yang menyebabkan pertengkaran. Keduanya malah beradu kesaktian (berkelahi) yang dilakukan 3 hari 3 malam.

Khoul Ki Ajar Bontit

Tapi kemudian Bambang Sentono menyadari bahwa perkelahian ini tidak akan menyelesaikan masalah, dia teringat perkataan Sunan Kalijaga, bahwa pertengaran akan menyebabkan kehancuran, tapi kalau kerukunan akan menyebabkan kesejahteraan (sentosa). Maka Bambang Sentono segera meninggalkan Padepokan Nyatnyono ini. Dia mencari satu tempat lain guna menyebarkan agama Islam menurut ajaran Sunan Kalijaga. Lama-lama tempat yang di pakai oleh Bambang Sentono ini mulai ramai pengikutnya. Disini Bambang Sentono tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, tapi dia mengajarkan ilmu pertanian dan peternakan terhadap pengikutnya. Serta mengajarkan ilmu beladiri yang gunanya untuk melindungi diri bukan malah disalah gunakan. Lama-lama tempat ini di beri nama “Ngumpul”

Khoul Ki Ajar Bontit

Dengan di beri ilmu yang macam-macam ini,  maka pengikutnya dapat memanfaatkan alam sekitarnya menjadi lebih baik. Karena pandai memberikan ajaran-ajaran ini, Bambang Sentono di beri julukan oleh masyarakat sebagai Ki Ajar yang artinya pandai mengajar. Keberhasilan ini di dengar oleh Bambang Kartonadi di Nyatnyono. Bambang Kertonadi langsung mendatangi Bambang Sentono di padepokan Ngumpul, dia minta supaya Bambang Sentono kembali lagi Nyatnyono yang merupakan cikal bakal keduanya menyebarkan agama Islam di lereng Gunung Ungaran ini.

Khoul Ki Ajar Bontit

Karena sudah menjadi bagian dari masyarakat Ngumpul, Bambang Sentono tidak diijinkan kembali ke Nyatnyono oleh para pengikutnya. Disisi lain Bambang Kartonadi bersikeras agar Bambang Sentono kembali lagi ke Nyatnyono. Karena di perebutkan oleh Bambang Kertonadi dan masyarakat Ngumpul maka Bambang Sentono minta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa jalan keluarnya bagaimana supaya mendapat solusi terbaiknya. Tapi malah dalam minta petunjuk inilah yang akhirnya disesalkan oleh Bambang Kartonadi, karena Bambang Sentono membenamkan dirinya di dalam batu gunung yang besar, meyadari kesalahannya Bambang Kartonadi mencagah tindakan Bambang Sentono.

Khoul Ki Ajar Bontit

Tapi karena sudah terlanjur, dalam pembenaman dirinya itulah hanya rambut yang bisa diselamatkan oleh Bambang Kartonadi. Sehingga hanya rambut yang terselip di dalam batu tersebut. Maka batu tersebut dinamankan Ki Ajar Bontit yang artinya rambut yang terselip di batu. Setelah kejadian ini maka Bambang Kartonadi kembali lagi ke padepokan Nyatnyono dan minta warga Ngumpul untuk menjaga petilasan ini dengan baik.

Khoul Ki Ajar Bontit

Makanya setiap tahun warga Dusun Ngumpul mengadakan acara Khoul Ki Ajar Bontit dengan membawa alat-alat pertanian seperti cangkul, palu, kranjang, petarangan ayam, pikulan yang kesemuanya dimintakan doa kepada Yang Maha Kuasa agar alat-alat itu dapat mereka gunakan mengolah pertanian dan peternakan dan mendapatkan hasil yang baik yang dapat mereka gunakan untuk kehidupan sehari-hari serta untuk keluarganya. (Soebijanto/reog biyan)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here