myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Salam hangat, sehat dan sejahtera. Cerita klasik Ramayana banyak sekali menginspirasi para seniman dunia dijadikan sebagai bahan ide dalam sebuah pementasan tari, sendratari maupun opera. Kali ini dalam Pagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta cerita Ramayana ditampilkan dalam lakon Kumbakarna Gugur yang merupakan sebuah cerita tentang Kumbakarna yang gugur dalam medan perang demi membela nusa bangsa dan tumpah darahnya negara Alengkadiraja.Kumbakarna GugurPeristiwa ini bertolak dari hukum kausal dan takdir, walaupun Kumbakarna dalam wujud Raksasa tetapi mempunyai  jiwa yang besar dan kesatria. Dalam peperangan ini sebenarnya Kumbakarna tidak sepakat dengan kakaknya Raja Alengkadiraja, Prabu Dasamuka yang kelakuannya sering sekali merugikan pihak lain.Kumbakarna GugurLakon Kumbakarna Gugur ditampilkan oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa pada tanggal 22 Juni dalam acara Pagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta 2019 di Pendopo Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis No. 364 Sewon, Bantul, DIY mulai pukul 19.30 sampai selesai.Kumbakarna GugurPagelaran Wayang Wong Gagrag Yogyakarta 2019 pada tahun ini sudah memasuki tahun ke 4 dan Dinas Kebudayaan DIY senantiasa berupaya memberikan ruang kepada potensi seni dan lembaga seni klasik sebagai wujud aktualisasi pengelolaan seni budaya sebagai pelaku seni serta lembaga seni budaya ikut mengambil peran dalam menciptakan ketahanan berbudaya dan berbangsa.Kumbakarna GugurKomposisi dalam Wayang Orang dalam lakon Kumbakarna Gugur ini mengambarkan tentang konflik, pertentangan, perbedaan pendapat, perselisihan, kesedihan, kebahagiaan yang semua itu dialami oleh manusia. Disini ada peran antagonis dan ptotagonis, yang pada akhirnya protagonislah yang menjadi pemenangnya dalam konflik yang terjadi.Kumbakarna GugurYayasan Sasminta Mardawa didirikan sejak tahun 1962, yayasan ini bergerak spesifik pada pelatihan tari klasik gaya Yogyakarta dan karawitan sebagai bagian pendukungnya. Yayasan ini mengalami perjalanan yang panjang. Dulu awal tahun 1962 awalnya bernama Mardowo Budoyo.Kumbakarna GugurKarena animo masyarakat untuk belajar tari klasik ini besar dan banyak maka pada tahun 1976 dibuatkan satu wadah lagi dengan nama Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN), yang mana untuk Mardowo Budoyo untuk mengajar tari klasik untuk anak-anak sedangkan Pamulangan Bekso Ngayogyakarto (PBN) untuk mengajar yang lebih dewasa.Kumbakarna GugurYayasan ini didirikan oleh Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas). Pada tahun 1988, untuk mengenang beliau akhirnya kedua yayasan ini dilebur menjadi satu dengan nama Yayasan Sasminta Mardawa yang berbasecamp di Ndalem Tejokusuman.Kumbakarna GugurSalah satu ciri khas yang ada dalam Wayang Orang Gagrag Yogyakarta diantaranya, pagelaran ini ditampilkan di sebuah pendopo dimana pemainnya keluar dan masuk dari sebelah kanan kiri pendopo. Selain itu dalangnya seorang Sultan yang mana mocokondo dan kepraknya semua sendiri-sendiri.Kumbakarna GugurDalam Wayang Orang Gaya Yogyakarta dan Surakarta ada kesamaannya, prinsip kanan-kirinya mempunyai makna, sebelah kanan memberikan makna pihak yang baik dan sebaliknya sebelah kiri memberikan makna pihak jahat.Kumbakarna GugurGerak dalam Wayang Orang Gagrag Yogyakarta semua geraknya menggunakan gerak tari klasik gaya Yogyakarta. Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem atau yang biasanya disebut joged Mataraman, dimana gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh (percaya diri) dan ora mengkuh (pantang menyerah).Kumbakarna GugurBusananya pun sama, semua menggunakan busana klasik gaya Yogyakarta dan sangat berbeda dengan gaya Surakarta yang lebih cenderung sebagai repertoar dari wayang Purwo. Walaupun disini tidak memusatkan pada gemerlapnya kastum, tapi lebih diambilkan dari citra semangat dan penghayatannya pada karakter tokoh yang dimainkan.Kumbakarna GugurKumbakarna Gugur.

1Sutradara:Drs. Supriyanto, M. Sn
2Penata Tari:Th. Suwantoro, S.Pd
3Penata Iringan:Anon Suneko, M.Sn
4Penata Rias:Widjanartin, A.Md. A.P
5Penata Busana:Dwi Purwanto

Kumbakarna Gugur“Wayang Orang Gagrag Yogyakarta merupakan sebuah seni idealism  di Yogyakarta, dengan ditampilkan maka akan semakin orang tahu dan mengenalnya. Dan harapan yang utama selain sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan secara nyata, juga agar kaum milenial mengenal dan mencintai sebagai bagian dari tugas mereka kedepan sebagai penerusnya”, ujar Hartanto selaku Kepala Sekolah Pendidikan di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here