myimage.id | Warak Ngendog adalah hewan rekaan yang di buat yang mewakili entitas budaya campuran antara Cina, Jawa dan Arab. Warak Ngendog hanya ada pada tradisi Dugderan dan tidak ada pada perayaan lainnya

WARAK NGENDOG

Realitas ini menunjukan bahwa korelasi antara Warak Ngendog dan Dugderan merupakan kearifan produk local dalam menghadapi bulan suci Ramadhan. Seperti diketahui bahwa Dugderan dulu di adakan di tengah alon-alon depan Masjid Agung Semarang yang merupakan center dari semua kegiatan komunitas Cina, Jawa dan Arab yang ada di Semarang.

WARAK NGENDOG

Warak berasal dari bahasa Arab “waro’a” yang berarti manusia harus menjaga diri dari hawa nafsu dan perbuatan yang tidak baik, salah satunya perbuatan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari melalui amalan puasa. Karena kalau tindakan ini kita lakukan maka akan bermanfaat bagi diri kita maupun masyarakat pada umumnya dan kita akan menerima pahalanya. Pahala dari perbuatan baik kita ini disimbolkan dengan telur atau bertelur dalam bahasa Jawa “Ngendog” maka jadilah Warak Ngendog.

Sudut pandang ini menggambarkan sikap perilaku Wong Semarang yang tidak berbelit-belit, terbuka apa adanya, serta egaliter (tidak mementingkan kasta atau kedudukan). Bentuk Warak Ngendog ini juga mencerminkan akulturasi budaya yang bisa diterima oleh berbagai etnis dengan derajad yang sama.

Makna Warak Ngendog yang mempunyai nilai-nilai filosofi yang sangat dalam sekali yang di gambarkan sebagai berikut:

WARAK NGENDOG

1. Kepala Warak dengan mulut menganga yang menyeramkan (bahasa jawanya sangar) yang mempunyai symbol tentang nafsu manusia yang cenderung serakah dan buruk yang bisa merusak segalanya yang ada di dunia ini dengan hawa nafsu yang mau makan segalanya tanpa pandang bulu.

WARAK NGENDOG

2. Badan Warak dengan ekor yang tegak mempunyai symbol bahwa manusia mempunyai perjuangan yang keras dalam menjaga hawa nafsu dan meninggalkan perbuatan yang jelek.

3. Bulu Warak Ngendog yang berwarna warni tapi diperutnya mempunyai kombinasi warna lain (Ngendit) mempunyai symbol kita manusia harus menjaga diri dari hawa nafsu dengan berpuasa sungguh-sungguh. Prihatin perutnya di kenditi dalam bahasa jawanya.

WARAK NGENDOG

4. Bulu Warak Ngendog berbalik ( dalam bahasa jawa seperti pithik walik) mempunyai simbol bahwa pada masa memasuki bulan Ramadhan manusia harus bisa membalikan diri dari urusan keduniawian menuju arah keakhiratan.

WARAK NGENDOG

Jadi dengan nilai-nilai filosofi yang ada pada Warak Ngendog ini kita tidak usah mempermasalahkan bentuk yang asli atau yang paten dari Warak Ngendog ini. Tapi kita harusnya lebih mengambil dari  symbol-simbol ini untuk kehidupan kita sehari-hari, karena jelas disini di gambarkan kita harus selalu rukun dengan siapa saja tanpa memandang agama maupun etnis di lingkungan kita. Karena kalau di lihat dari sejarah di Masjid Kauman Semarang, symbol-simbol ini tidak pernah membedakan etnis tertentu, tapi lebih bermanfaat kalau diambil apa yang terkandung di dalamnya. Warak Ngendok yang jadi salah satu ikon kota Semarang tapi makna filosofisnya dapat di gunakan oleh siapa saja tanpa harus menjurus ke “sara”(Soebijanto/reog biyan)

5 COMMENTS

  1. Saya sebagai orang bandung merasa artikel ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan mengenai kota semarang sekaligus lebih mengenal tentang makhluk mitologi yg ada di indonesia 🙂

    • terima kasih Nella Sari, memang kami ingin memberikan tambahan informasi-informasi yang berhubungan dengan culture yang ada di Indonesia yang ragamnya tidak terhingga, siapa lagi kalau tidak kita-kita ini yang ikut melestarikan kearifan budaya yang dapat menarik wisatawan lokal atau asing untuk datang ke Indonesia, khususnya Kota Semarang…suwun

  2. Terima kasih atas informasinya sekarang saya paham apa makna simbolik dari Warak ngendog ini sebagai warga Semarang baru sangat terbantu atas informasi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here