myimage.id | Salam sejahtera para sedherek, sedulur, istilah “Mbarang” dikalangan para milinial mungkin sangat sedikit asing dan kurang popular. Tapi bagi remaja yang hidup dijaman tahun 1980 sampai tahun 1990 pasti mengenal dengan istilah “Mbarang”. Tapi jangan kwatir karena gejala khususnya linguistik  selalu terjadi pada setiap generasi. Inilah istimewanya, Tari Mbarang merupakan sebuah tari tradisi yang menceritakan tentang pentasnya sebuah kelompok penari dan penabuh gamelan yang berpentas keliling kampung atau desa untuk mencari uang (ngamen).Mbarang, cultureTarian ini merupakan ciptaan dari Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn pada tahun 2014, yang merupakan karya individual memori artinya bahwa beliau mempunyai memori saat kecil, ketika berkunjung ke daerah Grobogan, beliau melihat ada orang mengamen. Biasanya mengamen (Mbarang) dilakukan dengan cara menyanyi sepanjang jalan di suatu daerah untuk mendapatkan uang.Mbarang, cultureTapi yang dilihat ini mengamen (Mbarang) dengan menari. Kelompok mbarang itu terdiri dari beberapa laki-laki yang menabuh gamelan dan beberapa penari perempuan. Mereka keliling desa untuk mencari nafkah. Pada pertunjukannya kadang penari-penari ini mengajak para penduduk untuk menari bersama.Mbarang, cultureTari Mbarang ditarikan di acara 3 SKS di ISI Yogyakarta, yang merupakan gabungan atau kolaborasi 3 KKM yang ada di Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari ISI Yogyakarta  yaitu Seminar, Kedai Joged (dalam bentuk workshop tari) dan puncaknya Sepatu Menari, yang dilaksanakan dari tanggal 16-17 November 2018.Mbarang, cultureAcara 3 SKS pada tahun ini mengambil tema “Sapto Manunggal Ing Roso” yang artinya dalam acara ini akan tampil 7 kelas dengan tarian dari 7 etnis yang berbeda mulai dari Yogyakarta, Kalimantan, Sunda, Bali, Padang, Batak dan Jawa, dimulai pukul 20.00-23.00 wib.Mbarang, cultureDalam Tari Mbarang juga digambarkan kehidupan seorang “penguasa”  di Jawa jaman dulu yg mengenal adanya molimo sang penghancur moral manusia yang harus kita hindari karena akan merusak  iman batin dan lahir manusia.Mbarang, cultureMolimo tersebut antara lain adalah Main (berjudi), Madon (main dengan perempuan/pelacur), Maling (mencuri, korupsi atau mengambil barang yang bukan miliknya), Madat (menggunakan candu, narkoba) serta Minum ( minum-minuman yang mengandung alkohol).Mbarang, cultureGerak tarian ini berpijak pada tari tradisi Jawa gaya Surakarta yang mana untuk penari perempuannya ada ulap-ulap, batangan, sindet, srisig, sedangkan untuk penari putranya ada beberapa motip gerak entragan dan nebak bumi. Komposisinya tarian ini merupakan tarian kelompok yang ditarikan lebih dari satu orang dan dapat dikatakan sebagai jenis tarian hiburan atau pergaulan yang berpijak dari budaya tradisi mbarang (ngamen).Mbarang, cultureInti tarian ini diawalan digambarkan seorang penguasa yg mempunyai “kepintaran” untuk memberikan doa-doa kepada para bawahan/penari agar selamat, sukses, mendapatkan uang saat bekerja. Kemudian saatnya para penari putri Nggambyong, menari dengan motif-motip tari Gambyong. Adegan berikutnya adalah penari putra tampil kiprahan mengekspresikan kegembiraan. Adegan akhir adalah bagian para penari mengajak penonton utk menari bersama.Mbarang, cultureBusana yang dikenakan pada penari putri pada dasarnya mengenakan angkin (atasan) dan berkain atau jarik, sampur, gelung rambut kreasi, sedangkan untuk penari putra mengenakan busana surjan, blangkon dan jarik. Sedangkan riasannya menggunakan riasan karakter dengan harapan untuk lebih mempertegas peran yang dimainkan diatas panggung.Mbarang, cultureIrama gendingnya menggunakan tembang Jawa dengan gending bentuk lancaran. Musik tari di aransemen dengan sedikit jenaka dengan harapan agar menumbuhkan suasana riang gembira, sebagaimana tari pergaulan pada umumnya.Mbarang, cultureTari Mbarang

1Persembahan:ISI Yogyakarta, Kelas A 2015
2Koreografer:Dr. Drs. Darmawan Dadijono M.Sn
3Panari:
  1. Afan Trifanto
  2. Ahmad Rifai
  3. Ozzy Azura Auziyah
  4. Ectasyan Eby Lawrence
  5. Yulia Citra Komala
  6. Niken Larasati
4Penata Musik:Anon Suneko

Mbarang, cultureTarian ini diciptakan dengan harapan agar penonton mengerti bahwa melalui tari ini bisa terwujud kebersamaan di antara seniman dan penonton, dengan semakin banyak karya seniman di apreasikan di banyak festival, maka akan semakin banyak tumbuh seniman-seniman yang humanis yang dekat dengan masyarakat. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here