memotret wayang
adegan gara-gara punakawan

Panggung utama Wayang Orang biasanya menceritakan satu segmen dari kisah epic Mahabharata atau Ramayana. Wayang Orang sendiri, dulunya diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731. Saat sekarang ini jalan ceritanya disesuaikan dengan kisah kekinian. Secara umum melihat pementasan wayang orang hampir sama dengan menonton bioskop, situasinya gelap dan hanya lampu panggung yang menyala. Memotret wayang orang memiliki tantangan tersendiri.

memotret wayang
adegan gara-gara punakawan

Meskipun gelap suasana panggung utama, fotografer tidak diperkenankan menggunakan lampu kilat untuk membantu pencahayaan. Bila kita hanya mempunyai lensa kit, misal 18-55mm, maka tidak ada jalan lain kalau kita harus mendekat ke arah panggung. Paling aman di area kanan atau kiri panggung, melihat situasi lakonnya, bila ingin berpindah tempat memotret, usahakan tidak mengganggu penonton, fotografer bisa memutar dari samping ke belakang hingga sisi lainnya.
Pada area ini, biasanya kaki pemain tidak terlihat karena posisi fotografer relative di bawah panggung.

Bila fotografer memanfaatkan lensa panjang, zoom 70-200 mm atau 55-250 mm misalnya, maka bisa memanfaatkan bagian belakang atas, secara sudut pandang lebih tinggi sehingga lantai dan kaki pemain terlihat. Karena kondisi pencahayaan yang relative gelap, misal masih menggunakan kecepatan 1/60 detik, biasanya gambar yang dihasilkan kurang tajam, karena mikro shake dari getaran tangan, untuk itu bisa menggunakan bantuan tripod.

memotret wayang orang
Panggung Wayang Orang

Tantangan pada saat memotret situasi pentas wayang orang  pada panggung utama adalah saat adegan pertempuran atau perang tanding antara lakon pemain baik melawan peran antagonis. Situasi pergerakannya sangat cepat, saling baku pukul, berlarian kesana kemari dan pergerakan aktif lainnya. Untuk menangkap foto aktivitas ini dibutuhkan speed yang relative lebih tinggi, masalahnya ada pada ISO tertinggi yang bias diraih kamera tanpa terlihat noise. Pada kamera highend, hal ini bukanlah masalah, tapi bagi kamera pemula, sudah pasti masalah, untuk itu coba cari klimaksnya,, misal saat memukul, shoot saat tangan mengenai lawan, biasanya ditandai dengan suara simbal atau kendang besar. Kalo istilah gerakan ada momentum klimaks, nah fotografer mesti jeli dan waspada menanti momen ini.

memotret wayang orang
adegan perang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here